“Aku tidak mengira kalau kegiatan ini diikuti oleh orang - orang yang jarang terekspos di sekolah. Selain itu sepertinya terdapat juga peserta dari akademi yang berasal dari dalam dan luar kota,” kata Gina.
“Kau benar. Aku juga tidak menyangka kalau acara mendapat perhatian dari begitu banyak orang.” Zuka melihat banyak kamera pengawas yang terselip di antara rerumputan dan dan pohon.
“Semoga tuan dapat mengetahui keberadaan para pengawas tersembunyi ini, akan sangat berbahaya kalau identitasnya terbongkar hanya karena permainan bodoh ini,” pikir Zuka.
“Kreekk…!” Satu persatu gerbang pun akhirnya terbuka.
“Lihat ada yang tertulis pada gerbang itu!” Seru Gina.
”Sepatah kata mampu mengubah kehidupan.” Zuka membaca dengan seksama.
“Sepertinya itu adalah petunjuk untuk pos pertama.” Gina melihat kertas yang merupakan peta dari gunung tersebut.
“Kita pikirkan nanti saja Gina. Sekarang kita harus bergerak sebelum terlambat.”
“Kau benar,” sahut Gina.
Gerbang yang tadi terbuka lebar kini sudah mulai menutup sedikit demi sedikit.
“Hampir saja kita tidak bisa mengikuti perlombaan ini.” Gina sudah kelelahan karena harus berlari saat pintu mau tertutup semuanya.
Kedua wanita itu pun berjalan menyusuri semak - semak mengambil rute terdekat dengan pos pertama. Banyaknya embun yang membasahi rumput membuat pakaian mereka ikut basah.
“Apakah kau yakin kalau ini ada jalan terdekat?” Tanya Gina.
“Kau percaya saja padaku!” Seru Zuka dengan percaya diri.
Zuka sangat terlatih dalam banyak hal termasuk membaca peta suatu wilayah. Pada masa lalu Zuka bertanggung jawab membuat rencana perjalanan yang akan dilewati oleh Gazan. Selain itu dia juga langsung juga adalah pemandu yang cakap untuk semua rute yang belum perlu dijalani oleh orang sekalipun. Sebagian besar keberhasilan pekerjaan yang dibangun oleh Gazan sampai saat ini karena campur tangan Zuka.
“Gina, apakah kau tahu tujuan dari acara ini?” Tanya Zuka sambil memotong ranting - ranting yang menghalangi mereka.
“Perlombaan ini dilakukan selama satu bulan untuk mengukur seberapa besar potensi para mahasiswa apabila dilihat pada buku panduannya.”
“Anggap saja kalau aku berlebihan. Tapi beberapa waktu lalu aku membaca sebuah rubrik yang bertuliskan tentang kejanggalan acara yang dilakukan oleh gabungan akademi ini. Disitu tercantum kalau acaranya sebenarnya adalah media yang disediakan untuk merekrut orang - orang hebat yang akan dijadikan tentara terpilih.”
“Yang kau katakan cukup masuk akal karena aku tidak pernah melihat orang - orang yang memenangkan pertandingan yang lalu. Menurutmu ujian apa yang mereka berikan pada setiap posnya?” Gina penasaran karena dia pun baru pertama kali mengikuti perlombaan ini untuk bersaing dengan Andris saja.
“Aku terkejut kau yang seorang wanita berprestasi ternyata memiliki rasa takut juga.” Zuka tersenyum melihat Gina semakin cemas.
“Bagaimana mungkin kau masih bisa bercanda disaat seperti ini?”
“Kau tidak perlu khawatir selama aku ada bersamamu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu karena aku membutuhkanmu untuk melawan pria itu.”
“Apa sepenting itu pria yang bernama Gazan itu bagimu?”
“Aku memiliki urusan pribadi dengan,” jawab Zuka.
Maka mereka melanjutkan perjalanan dengan waspada kalau - kalau ada lawan yang mendekati dari balik pohon ataupun rerumputan.
“Zuka, kau tidak seperti orang yang aku kenal selama ini. Mengapa kau begitu ahli dalam menyusun strategi walau hanya berbekalkan secarik kertas aja.”
“Lebih baik daripada tidak ada apapun yang kita punya. Kau terlalu banyak tanya! Jangan pikir aku bisa tertipu oleh rasa ingin tahumu yang berlebihan itu. Ingatlah ini! Kita tidak boleh sembarangan bertindak di tempat terbuka seperti ini. Bisa saja ada musuh yang sedang mengintai untuk mendapat informasi dari kita.”
“Kau terlalu berlebihan melakukan perlombaan ini Zuka. Aku yakin kitalah yang akan memenangkannya.”
“Berhenti!” Zuka langsung menutup mulut Gina yang terus berbicara tanpa henti.
“Apa sih?!” Gina tidak terima lalu langsung menyingkirkan tangan Zuka dari mulutnya.
“Apakah kau tidak mendengar suara langkah kaki barusan? Sepertinya ada orang yang sedang mengikuti kita.”
“Aku tidak mendengarkan apa - apa selain sudah serangga saja. Kau sepertinya terlalu banyak menyaksikan film petuangan sehingga bereaksi berlebihan begitu,” kata Gina.
“Kau tidak akan bisa mendengarkan apapun kalau terus berbicara tanpa henti seperti itu. Apa yang kau lakukan bisa saja membuat kita kalah.”
Zuka memeriksa sekitar karena dia memiliki firasat yang tidak enak akan suara langkah tadi didengarnya tadi.
“Dari suaranya aku yakin dia adalah seorang pria berbadan besar. Selain itu dia adalah sangat terlalu dalam menyembunyikan hawa kehadirannya sehingga kita tidak bisa menyadarinya dari sejak masuk gerbang tersebut.”
“Hey Zuka, bisakah kau tidak menakutiku lebih dari ini. Aku tidak suka dengan kata - katamu yang begitu misterius.” Gina mendekatkan dirinya kepada Zuka.
“Jangan khawatir aku sudah mempersiapkan sesuatu apapun hal ini terjadi pada kita.” Zuka mengeluarkan sebuah tali dari tas yang dibawanya.
“Apa yang ingin kau lakukan dengan benda itu? Hey, bukankah katamu kita sedang diikuti oleh pria berbadan besar. Apakah cukup dengan tali seperti itu untuk melawannya. Pastilah dia punya niat buruk karena kita berdua ada wanita.” Gina masih bingung melihat apa yang dilakukan Zuka dengan tali tersebut.
“Tali ini bukan untuk melawannya. Melainkan untuk menghindarkan kita dari persaingan dengan memanfaatkan kekuatan fisik. Masih terlalu cepat melakukannya pertarungan atau pun pertikaian di awal permainan. Kita harus menghemat lebih banyak tenaga untuk pertandingan yang sesungguhnya di depan.”
“Walau aku tidak begitu memahami apa maksud dari perkataanmu, tapi sepertinya ada benarnya juga. Lagipula aku belum siap untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya disaat seperti ini.” Gina berlagak kuat dihadapan Zuka daripada dianggap lemah.
“Nah baguslah kalau kau akhirnya bisa mengerti. Ayo kita naik ke atas pohon yang ada disana sambil berjaga - jaga.”
Pergilah mereka ke sebuah pohon yang letaknya agak ke tengah dan cukup tinggi dengan dahan yang rimbun untuk bersembunyi dari musuh yang sedang mengintai.
Zuka pun melemparkan tali yang sudah memiliki pengait tersebut pada dahan yang cukup tinggi agar dapat dijadikan penahan saat sedang memanjat pohon. Hal itu dilakukannya untuk Gina yang tidak memiliki kemampuan memanjat sama sekali berbeda dengan Zuka yang mampu memanjat pohon tersebut tanpa menggunakan alat apapun. Hanya dengan tangan kosong saja.
“Aku sebenarnya tidak yakin, tapi aku yakin kau mungkin berbohong pada rekan satu tim mu bukan?” Kata Gina sambil memanjat tidak berani melihat kebawah.
“Tenang saja. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Zuka berusaha menenangkan Gina.
“Kraak…!” Kembali terdengar suara langkah. Namun kini lebih dari satu orang yang berjalan beriringan.