Wanita Yang Arogan

1000 Kata
Setelah meninggalkan Andris, Gazan berjalan menuju kelas bermaksud melanjutkan kegiatan belajarnya pada jam terakhir. Di perjalanan ketika melewati sebuah lorong dia bertemu dengan seseorang yang tidak disangka - sangka. Gina berjalan dari arah yang berlawanan dengan tatapan yang tertuju kepada Gazan. Ternyata Gina memang sengaja menunggu Gazan melewati tempat itu saat tidak ada seorangpun disitu. “Hey, bukankah namamu adalah Gazan? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang tapi tidak di tempat ini.” Gazan melihat wanita itu berbicara tanpa henti mengambil keputusan seenaknya sendiri sebelum disetujui. “Baiklah, tapi aku tidak bisa pergi sekarang. Aku harus mengikuti pelajaran terakhir karena sudah waktunya.” “Aku tidak peduli dengan urusanmu! Aku mau kau ikut aku sekarang juga!” Bentak Gina kepada Gazan dengan keras. Tapi bukannya mendengarkan perkataan Gina, Gazan malah langsung berjalan meninggalkan wanita itu seorang diri situ. “Apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah memintamu untuk mengikutiku sekarang?”  “Kau tidak punya hak meminta apapun dariku. Kalau kau ada keperluan silahkan bicarakan hal itu dengan Zuka.” “Dasar orang bodoh! Aku tidak memiliki urusan dengan wanita itu.” “Kalau begitu kau bisa menunggu aku setelah pulang sekolah saja. Sekarang ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan.” “Lebih penting! Tidak ada yang lebih penting selain melakukan perintahku!” Gina menaikan suaranya untuk mempertegas keinginan egois wanita itu. Namun Gazan bukanlah orang yang dapat ditundukkan dengan cara seperti itu. Dia meneruskan langkahnya menuju kelas. Demikianlah pertemuan singkat kedua orang yang digariskan oleh takdir. Tapi bukan Gina namanya kalau menyerah dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Setelah pulang dia pun menunggu Gazan di tempat yang sama. “Sekarang apakah kau masih memiliki urusan lain?” Tanya Gina yang langsung menghadang langkah Gazan. “Tidak,” jawab Gazan. “Kalau begitu aku ingin merekrut dirimu menjadi bagian dari timku dalam perlombaan yang akan diadakan oleh akademi.” “Tidak bisa. Aku sudah memenuhi permintaan dari orang yang bernama Andris untuk bermain dalam timnya. Sepertinya kita akan menjadi saingan nanti.” “Oh ternyata begitu. Tapi sepertinya tidak susah untuk membatalkan permintaan orang itu sebelum kalian mendapat.” “Kau salah paham. Aku Gazan tidak pernah menarik kembali ucapanku.” “Memangnya apa kurangnya aku dari orang itu sehingga kau lebih memilih diri daripada diriku?”  “Aku tidak pernah memilih berdasarkan kurang atau lebihnya seseorang.” Gazan menjawab dengan nada datar. “Lalu apa mengapa kau memilih orang itu?”  “Karena dia yang terlebih dahulu memintanya padaku. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak penawarannya. Dengan begitu aku juga diuntungkan untuk mengenal lingkungan ini sebagai orang baru di daerah sini.” “Aku tidak percaya aku ditolak mentah - mentah hanya karena alasan seperti itu,” pikir Gina. “Bersiaplah untuk pertandingan nanti. Aku tidak akan mengalah hanya karena kau adalah seorang wanita.” Pada saat itu di dalam hati Gazan mendadak timbul perasaan kasihan kepada wanita yang dihadapannya. “Kalau kau belum memiliki teman yang tepat dalam perlombaan mungkin kau bisa mengajak Zuka. Aku akan memerintahkan dirinya membantumu. Mungkin kau bisa memiliki kesempatan untuk sedikit memberikan perlawanan.” “Baiklah aku akan pertimbangkan saran darimu.” “Kebetulan orangnya sudah datang.” Gazan melayangkan pandangannya kepada Zuka yang berjalan ke arahnya. “Ada apa ini?” Zuka melihat Gina dengan tatapan kurang suka. “Zuka, jaga ucapanmu! Dia adalah orang yang akan menjadi teman satu tim denganmu saat perlombaan nanti.” “Apa?! Aku belum menyetujuinya, jangan seenaknya mengambil keputusan,” jawab Gina yang kelabakan. “Kau tidak memiliki pilihan lain karena waktu sudah begitu mendesak. Zuka adalah orang terbaik yang dapat menaikan potensi kemenanganmu.” “Tapi….” Zuka pun berniat menolak tapi langsung terdiam saat melihat Gazan yang tersenyum. Hal itu merupakan hal yang sudah lama tidak terjadi setelah puluhan kehidupannya. “Zuka, aku harap kau dapat membantu dia untuk menghiburku. Lagipula sudah lama aku tidak bertanding denganmu bukan. Aku ingin melihat sejauh mana kemajuanmu sampai saat ini.” Mendengar perkataan Gazan akhirnya membuat Zuka yakin untuk mengikuti perlombaan. Dia ingin meyakinkan Gazan akan kemampuannya masihlah yang terbaik untuk melayani tuannya. “Kau tidak perlu khawatir Gina, aku tidak akan mengalah walau lawannya adalah Gazan.”  Gina masih ragu untuk mengikutsertakan Zuka karena dia adalah seorang wanita. Dalam perlombaan itu pastilah ada saat dimana kekuatan pria sangat diperlukan.” “Memangnya apa yang bisa lakukan Zuka?” “Aku lebih dari mampu untuk membuatmu menang apabila Gazan tidak menjadi saingan.” “Berarti dengan kata lain kemungkinan besar kau tidak bisa mengalahkan pria ini bukan?” Gina menatap Gazan dengan ragu. “Kalau aku seorang diri mungkin iya, tapi akan berbeda ceritanya dengan bantuan orang lain.” “Baiklah kalau begitu. Aku menerimamu dalam timku.” Dalam perjalanan pulang bersama dengan Gazan, Zuka pun memberikan kertas yang didapatnya dari Andris tadi. “Ternyata orang di kota ini suka memainkan permainan seperti ini. Sangat berbeda dengan permainan catur yang biasa kita lakukan diwaktu senggang. Dalam permainan ini yang dinilai adalah kemampuan kita dalam bertahan hidup dalam melewati setiap rintangan yang telah disiapkan.” “Tuan, masalahnya aku tidak mengetahui apa saja ujian apa yang mereka sediakan nanti. Apakah aku perlu menyelidikinya lagi?” “Tidak perlu. Kita akan memainkan permainan ini sama seperti yang lain. Mereka juga tidak mengetahui apa - apa lebih dari yang tertulis di kertas ini bukan?” “Baiklah kalau itu yang tuan mau.” “Zuka, aku harap kau dapat menahan diri apabila berhadapan dengan orang lain. Tapi kalau nanti berhadapan denganku lakukan yang terbaik agar aku bisa menilai kemampuanmu juga.” “Tuan tidak perlu meragukan keseriusan saya," sahut Zuka. Akhirnya hari dimana perlombaan itu pun tiba. Perlombaan tersebut diadakan pada sebuah gunung yang sangat tinggi. Perlombaan itu dimulai setelah semua peserta memasuki gerbang yang telah disediakan pada 8 arah angin. “Gazan dan andris bersama dengan para peserta lainnya ditempatkan pada gerbang timur. Sementara Zuka dan Gina berada di gerbang barat. Ternyata yang mengikuti perlombaan itu terdiri dari 30 tim yang tersebar di seluruh gerbang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN