Perlombaan Dua Orang

1087 Kata
Begitu mendengar perkataan Zuka keluarganya pun bisa memakluminya selama hal itu bukanlah suatu kejahatan. Keesokan harinya di akademi tempat mereka bersekolah terjadi keributan yang antar sesama mahasiswa. Dan yang bertengkar adalah seorang siswa yang bernama Andris dan wanita yang bertemu dengan Gazan kemarin. “Hey, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing di tempat ini?” Kata Gina. “Apa maksudmu? Memangnya salah kalau aku berpartisipasi dalam perlombaan ini. Aku rasa semua mahasiswa berhak untuk mengikuti semua perlombaan yang diselenggarakan oleh akademi ini,” jawab Andris sambil tersenyum. “Kau memang orang yang pandai berbicara, tapi aku bukan orang bodoh yang akan diam saja ketika kau merencanakan sesuatu yang licik seperti biasanya. Sudahlah katakan saja apa maumu?” Gina sudah tidak bisa lagi menyembunyikan amarahnya terhadap pria tersebut. “Bukankah kau terlalu sensitif memandang masalah ini Gina? Aku tidak memiliki maksud apapun selain hanya untuk bersenang - senang seperti yang lainnya.” “Jangan bercanda! Tapi kau tidak akan bisa mengikuti lomba ini seorang diri saja. Apakah kau tidak mengetahui kalau ini adalah permainan yang dimainkan oleh minimal dua orang dalam satu regu?” Gina tersenyum. “Aku sudah memikirkan hal itu dan kebetulan orang yang menjadi anggota timku sedang lewat.” Andris pun tiba - tiba mengarahkan pandangannya kepada Gazan dan Zuka yang melintas di tempat itu. Gina terkejut karena Andris ternyata sudah mengenal Gazan yang merupakan mahasiswa baru di tempat itu.  “Apakah kau yakin mengikutsertakan orang seperti dia dalam tim yang sama denganmu?” Tanya Gina kepada Andris. “Tentu saja, mengapa aku harus meragukan seorang pria yang mengabaikan wanita sepertimu. Aku tidak bisa membayang betapa jengkelnya dirimu kalah dari orang seperti itu.” Gina akhirnya sadar apa tujuan sebenarnya dari Andris yang begitu bersikukuh ingin mengikuti perlombaan tersebut. Padahal sebelumnya Andris tidak berminat sama sekali terhadap kegiatan yang melelahkan seperti lomba atau apapun itu. “Sudah kuduga kau tidak pernah berubah Andris. Sampai kapan pun kita akan menjadi saingan.” “Saingan? Jangan salah paham Gina. Aku tidak pernah merasa bersaing dengan orang sepertimu. Tidak ada yang perlu diperebutkan antara aku dan dirimu. Satu - satunya yang aku inginkan adalah membuat orang - orang sepertimu sadar kalau kalian bukanlah apa - apa.” “Memangnya siapa dirimu berani menjadi hakim bagiku?” Gina menatap Andris dengan sinis. “Aku hanya orang biasa yang kebetulan tidak suka terhadap perlakuanmu saja. Jangan anggap ini sebagai masalah pribadi karena hanya pria menyedihkan yang bermasalah dengan seorang wanita.” Gina pun pergi meninggalkan Andris dengan wajah penuh amarah akibat perkataannya. Andris pun pergi menyongsong Gazan dan Zuka yang sedang berlalu di hadapannya. “Hey anak baru, apakah kau miliki waktu kosong dalam minggu ini?” Andris menyapa Gazan dengan santai. Langkah kaki Gazan tidak langsung terhenti begitu mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Begitu pula dengan Zuka juga tidak mempedulikan Andris yang berjarak cukup dekat tersebut. “Hey anak baru, apakah kau memiliki masalah dengan pendengaran?” Andris kini sudah berada di hadapan Gazan menghadang langkahnya. Gazan menatap Andris tanpa ekspresi sama sekali. Walau begitu Gazan langsung dapat memahami karakter seseorang walau baru pertama kali bertemu.  Karena Andris begitu memaksa, Zuka pun langsung berdiri diantara mereka untuk menghentikannya. “Sebaiknya jaga bicaramu berbicara di hadapannya karena aku tidak tinggal diam begitu saja.” Zuka dengan mudah mendorong Andris dengan tangannya karena dia memiliki kemampuan bela diri yang ahli. “Aku tidak memiliki urusan denganmu Zuka. Mengapa kau ikut campur dalam urusanku? Bukankah kau adalah seorang yang terkenal acuh sebagai salah satu wanita dengan kualitas tertinggi di tempat ini?” “Status atau apalah yang kau katakan tidaklah penting bagiku. Dalam hal lain aku tidak akan mengganggu. Tapi kalau dalam hal ini aku tidak punya pilihan lain.” “Oh jangan - jangan kalian memiliki hubungan spesial,” kata Andris. “Sepertinya kau tidak pernah diajari berperilaku yang terhormat di hadapan seseorang.” Zuka pun sudah tidak bisa menahan emosinya melihat perlakukan Andris yang seenaknya dihadapan Gazan. “Zuka, biarkan dia berbicara sebentar. Aku ingin mendengarkan apa yang dia mau dariku.” “Baiklah Gazan.” Zuka diperintahkan oleh Gazan untuk memanggilnya dengan nama selama berada di akademi tersebut agar orang tidak mencurigai mereka. “Oh ternyata namamu adalah Gazan. Sepertinya kau tidak berasal dari sekitar sini karena aku jarang mendengar orang memiliki nama itu.” “Nah sekarang katakanlah apa yang kau mau. Kami akan memberi waktu beberapa menit.” Zuka menyingkir dari hadapan Andris dan Gazan. “Aku tidak mengerti apa yang terjadi diantara kalian. Sebelumnya perkenalkan namaku adalah Andris. Aku ingin mengikuti pertandingan tahunan yang diadakan beberapa hari lagi,” kata Andris. “Lalu apa hubungannya dengan Gazan?” Tanya Zuka dengan tegas. “Mengapa kau begitu kaku Zuka. Dalam perlombaan ini mengharuskan setiap tim minimal memiliki anggota dua orang. Aku ingin mengajaknya untuk menjadi bagian dari timku.” “Apa maksudmu mengajak Gazan dalam pertandingan itu? Kau bukan orang bodoh yang mengikuti perlombaan yang merepotkan begitu tanpa alasan yang menguntungkanmu,” Tanya Zuka dengan raut muka yang curiga. Zuka cukup mengenal seperti apa karakter Andris di antara para mahasiswa. Dia bukanlah orang yang melakukan sesuatu dengan alasan yang receh. “Sepertinya kau memperhatikanku selama ini Zuka. Suatu kehormatan diperhatikan oleh wanita cantik sepertimu.” “Aku tidak akan terpengaruh oleh ucapan manismu. Kau pasti sedang merencanakan sesuatu.” Walau Zuka tidak setuju, dia tidak bisa melarang Gazan apabila mau mengikutinya. Oleh karena Zuka melihat reaksi Gazan. “Namu adalah Gazan, dan aku akan menerima permintaanmu. Kalau kau memiliki hal lain yang ingin dibicarakan silahkan langsung saja berurusan kepada Zuka. Dialah yang paling mengenalku.” Maka pergilah Gazan dari hadapan Andris sebelum sempat berbicara lebih banyak lagi. Tapi Zuka tinggal di situ untuk mendengarkan apa yang diinginkan oleh Andris lebih lagi. “Mengapa dia begitu tergesa - gesa? Padahal aku belum memberitahukan kepadanya mengenai jenis lomba yang akan dilakukan.”  “Andris, apakah yang sesuatu yang perlu aku sampaikan kepada Gazan sehubungan perlombaan tersebut?” Kini raut wajah Zuka berubah menjadi lebih lembut karena mendapat perintah langsung dari Gazan sebagai perantara mereka. “Perlombaan ini berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya. Kita diminta untuk mendaki gunung dan melewati ujian pada setiap pos yang ada. Menurut informasi terdapat tujuh pos yang tersebar di gunung tersebut. Semakin tinggi lokasi posnya mana ujiannya pun akan semakin susah.” Andris membuka secarik kertas dan memberikannya kepada Zuka untuk disampaikan kepada Gazan.  “Baiklah kalau begitu aku akan mencari tahu informasi lain yang dapat membantu kalian mengikuti perlombaan itu,” kata Zuka sambil menerima kertas tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN