Gazan mengajar Zuka ke kediamannya saat ini untuk memberitahukan kepada wanita itu apa yang harus dia kerjakan pada zaman itu.
“Aku yakin kau sudah mengerti apa yang menjadi tugasmu bukan?” Gazan duduk dengan begitu elegan di hadapan Zuka.
Sepertinya biasanya, Zuka pun tidak tinggal diam langsung menyuguhkan secangkir kopi arabika asli yang tumbuh di hutan yang pernah Gazan beli beberapa generasi lalu.
“Ternyata kau masih mengingatnya? Hanya minuman ini yang dapat menenangkan jiwaku.”
Gazan menyeruput kopi tersebut dengan sambil melihat keluar melalui jendela.
“Tuan, apakah dia adalah orang yang anda maksud?” Zuka menundukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Aku dapat merasakannya sewaktu melihat matanya. Apakah dia akan mempercayai apabila aku mengatakan yang sebenarnya?”
“Mohon maaf kalau aku boleh memberi saran sebaiknya anda melakukan pendekatan secara pasif saja. Manusia pada zaman ini memiliki budaya yang berbeda dengan kita yang berada dari masa lalu.”
“Kau benar Zuka. Ya kau selalu bisa diandalkan sampai saat ini.”
“Suatu kehormatan dapat berguna bagi anda tuan Gazan.”
Setelah meletakkan baki yang digunakannya untuk membawa secangkir kopi tadi, Zuka melihat photo - photo yang belum pernah dilihatnya pada dinding rumah Gazan.
“Apakah mereka adalah relasi tuan selama aku tidak ada?”
“Ya, aku akan memberitahukan kepada mereka untuk mematuhi perintahmu sebagai tangan kananku. Saat ini pengaruh yang kita miliki sudah lebih besar daripada kehidupanmu yang lalu. Aku berharap kau cepat beradaptasi dengan semua urusan bisnis dan politik yang melibatkan keluarga kita.”
“Baiklah tuan Gazan, lagipula sepertinya aku mengenal beberapa orang berpengaruh yang di dalam photo tersebut. Tapi aku tidak menyangka semua keberhasilan mereka selama ini adalah bagian dari rencana tuan.”
“Aku tidak punya pilihan lain dengan semua harta dan pengaruh harus memiliki kaki tangan di berbagai lapisan kehidupan di dunia ini.”
“Lalu kapan aku dapat menggunakan benda itu tuan?”
Tanpa disadari orang Zuka kalau Gazan sudah berdiri di hadapannya dengan memegang giwang emas seperti perjanjian darah yang pernah mereka lakukan pada kehidupan pertama dulu.
“Auu…!” Zuka menahan rasa sakit setelah tuannya memasangkan giwang tersebut pada telinganya yang belum berlubang sama sekali.
“Sepertinya sudah takdir telingaku tidak dilubangi sebagai seorang wanita.” Zuka tersenyum menatap Gazan yang menatapnya dengan tajam.
“Kau sudah pantas menerima yang terbaik karena kau adalah bagian dari diriku. Tak ada yang boleh menyentuhmu selama aku hidup di dunia ini. Terkutuklah siapapun yang bermaksud jahat kepadamu.”
Pada suatu masa pernah ada seorang raja berani merendahkan Zuka pada suatu pesta perjamuan. Setelah diketahui oleh Gazan apa yang telah terjadi pada pelayannya, maka raja dan semua kerajaan yang dikuasainya berakhir dalam kehancuran oleh pembalasan yang dilakukan oleh Gazan.
“Tuan, aku berharap pada masa ini anda dapat lebih menahan diri. Karena saya hanyalah orang biasa.”
“Tutup mulutmu!” Gazan berkata dengan lembut tapi tegas.
“Maafkan saya tuan Gazan.” Zuka berlutut.
“Aku akan menghukum siapapun yang berani menyentuh keluargaku. Biar itu seorang manusia, sebuah bangsa, kerajaan, ataupun generasi sekalipun tidak akan aku biarkan berbuat seenaknya terhadap keluargaku. Apakah kau dapat memahamiku Zuka?”
“Baiklah tuan, aku mengerti.”
“Lalu apa rencana tuan menjadi seorang mahasiswa di sekolah itu? Sudah lama sejak anda terakhir anda memutuskan untuk mengambil mengambil tempat dalam bidang pendidikan setelah di kehidupanku yang sebelumnya anda menjadi seorang bangsawan.”
“Mmm, aku berpikir kalau dunia sudah berkembang sangat pesat sehingga sudah waktunya bagiku untuk mempelajari semua dari awal lagi. Tapi tidak disangka hari ini terjadi sesuatu diluar dugaanku.”
“Apakah itu hal yang perlu saya perhatikan?” Tanya Zuka dengan penasaran.
“Mungkin saat ini belum saatnya bagimu turut campur tangan dalam hal itu. Selain itu di tempat yang bernama sekolah sebaiknya kau tidak memperlakukan aku seperti tadi. Nanti orang - orang akan curiga.”
“Daulat tuanku. Aku akan mengurus keperluan yang lain saja.”
“Zuka, apakah kau akan tinggal bersamaku di tempat ini atau kau sudah memiliki kediaman sendiri?”
“Soal itu anda tidak perlu khawatir karena aku pada kehidupan kali ini aku lahir dikeluarga yang baik,” jawab Zuka sambil menundukkan kepalanya seperti menyembunyikan sesuatu.
“Kalau kau membutuhkan sesuatu kau dapat mengambil apa saja dari perbendaharaan kita. Aku tidak suka apabila kau merasa sungkan akan hal itu.”
“Tapi….”
“Aku tidak suka dibantah.” Gazan melihat menatap Zuka dalam hanya untuk menegaskan keinginannya.
“Kriiing…!” Telepon genggam Zuka berdering saat dia sedang bersama dengan Gazan.
“Maaf atas kelalaian saja sehingga membuat kegaduhan di rumah ini tuan.”
“Apa yang kau katakan? Bukankah kau memiliki kehidupan yang harus dijalani pada kehidupan ini? Aku membebaskan dirimu bertindak sesuai dengan takdir diberikan kepadamu sebagai bagian dari generasi ini.”
Maka Zuka pun langsung mengangkat panggilan telepon tersebut di dekat Gazan yang sedang minum kopinya. Ternyata yang menelepon Zuka adalah orangnya yang khawatir akibat dia belum juga pulang sampai hari sementara hari suka mulai gelap.
“Apakah mereka orang tuamu saat ini? Sebaiknya kau pulang sebelum mereka bertambah khawatir. Mereka tidak layak memikul beban yang kita emban sampai saat ini. Kalau kau ingin menggunakan kendaraan pilihlah yang mana saja. Aku sudah menyediakan semua fasilitas yang terbaru untukmu.”
“Untuk sementara aku belum bisa membawa apapun ke rumah dulu karena nanti akan membuat mereka curiga.”
“Kau benar. Kalau begitu mintalah salah satu dari pelayan untuk mengantarmu pulang karena hari sudah mulai gelap.”
“Baiklah tuan.”
Akhirnya Zuka pulang setelah menyelesaikan menyelesaikan beberapa perkakas di ruangan miliknya.
Diperjalanan pulang Zuka yang dilewatinya banyak orang melirik kepada mobil mewah yang dinaikinya. Dan yang membuat banyak orang heran saat Zuka turun dari mobil tersebut di depan rumah. Sebagian dari mereka menatap Zuka dengan curiga karena tidak pernah ada orang di tempat ini mampu membayar tumpangan yang begitu mahal.
“Silahkan anda masuk nona Zuka. Setelah itu barulah saya akan pergi,” kata pelayan yang mengantarnya.
Zuka yang merasa sungkan tidak kuasa menahan rasa malu akan tatapan para tetangganya. Oleh karena itu dia bergegas untuk masuk ke dalam rumah sebelum ada orang yang bertanya kepadanya perihal keadaannya tersebut.
“Ibu, cepat buka pintu!” Zuka berteriak karena ternyata pintu rumahnya dikunci dari dalam.
Namun saat ibunya membuka pintu dan melihat apa yang terjadi, reaksinya tidak berbeda dari semua orang. Bahkan ibu Zuka langsung menatap anak gadis tersebut saat masuk ke dalam rumah diam seribu bahasa.
“Tolong jangan berpikir yang aneh - aneh dulu ya bu. Aku hanya mendapatkan pekerjaan dengan fasilitas yang bagus saja. Semua ini aku lakukan agar keluarga kita tidak lagi kekurangan uang dan berhutang.”