Varlotta terkekeh membaca pesan dikirim oleh Geonado. Pria itu menyampaikan jika sudah tiba di apartemennya. Tetapi, masih memarkirkan mobil di areal basement. Pria itu butuh waktu sepuluh menit lebih untuk bisa sampai di lantai dua puluh satu. Ia pun harus memulai rencananya sekarang juga. Handphone ditaruh di saku celana. Kepala dan punggung ditegapkan lebih ditegakkan. Pandangan sudah lurus ke sosok Alexander yang ada di hadapannya. Ia sendiri sedang menyenderkan badan nyaman di dinding. "Dia sudah dekat. Mari kita mulai. Kau siap bukan? Atau kau masih tidak paham?" tanya Varlotta dengan nada yang mengejek. "Jangan meremehkanku, Varlo. Kau sudah tahu sendiri aku pintar berakting. Aku sudah paham dengan apa maumu. Untung saja aku dan kau adalah saudara. Aku tidak akan bisa menaruh ke

