- 52 -

257 Kata
“Aku pulang ya,” pamit Dirgan saat di depan pintu rumah Thella, setelah membawa tas yang tadi di bawanya, serta helm di tangannya yang akan segera ia kenakan untuk menaiki motor. Suara Dirgan terdengar lembut, seolah berbeda dengan nadanya dulu saat mereka belum pacaran. Kini Dirgan benar benar bersikap layaknya sang pacar pada umumnya. Seharusnya Thella senang dengan perlakuan seperti ini, sayangnya ia justru merasa canggung untuk menyikapi hal hal seperti ini. Ia bingung sendiri karena merasa tidak terbiasa dan kaget, mungkin karena masih baru juga, atau banyak kemungkinan lainnya yang ia sendiri pun tidak paham. Thella tersenyum pelan menanggapi ucapan Dirgan barusan, cewek itu mengangguk seraya menyahuti ucapan Dirgan. Ia turut mengantar Dirgan sampai ke depan pintu untuk menghampiri motornya yang terparkir di sana. “Iya. Hati hati ya.” Kata Thella pelan, terdengar lembut dan berusaha menyamai nada yang Dirgan gunakan untuk bicara untuknya. Terkesan canggung dan membingungkan, tapi ia harus terbiasa dengan hal hal seperti ini yang akan terus terjadi selama ia berpacaran dengan Dirgan. “Yaudah, kamu masuk gih.” Dirgan mengusap pelan puncak kepala Thella, diiringi senyumannya yang membuat wajah itu tampak semakin menawan. Wajah yang memang Thella akui sangat ganteng, bahkan tak sedikit anak anak di angkatannya yang menyukai Dirgan secara terang terangan. Hanya saja Dirgan memang tidak terlalu populer, semacam hiden gems yang ada di sekolah. Jadi tidak ada kehebohan apa apa terkait hal hal yang di pilih atau pun yang di lakukan Dirgan. Kegantengan Dirgan seolah hanya mampu di nikmati bagi orang orang yang memang mampu menyaadarinya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN