Setelah beberapa saat Thella benar benar fokus dengan pekerjaannya, tiba tiba saja terdengar kembali suara denting ponsel berisi pesan masuk. Thella mengeluh pelan, karena berpikir bahwa Dirgan yang kembali mengirimkan pesan untuknya yang padahal mengatakan pada Dirgan bahwa dirinya sudah tidur. Thella nyaris mendengus dan mengeluh karena hal tersebut, merasa kesal karena Dirgan tak mau mendengarkan pendapatnya dan memilih untuk mengiriminya pesan lagi dan lagi, padahal kan yang diketahui Dirgan, Thella itu sudah tidur. Harusnya Dirgan tak perlu mengganggu lagi dong, masa orang sudah tidur masih dikirimi pesan, yang ada malah mengganggu tidur Thella yang seharusnya sudah nyenyak kan.
Thella tidak percaya bahwa Dirgan ternyata sengeyel itu dalam pacaran. Nyaris saja Thella mengabaikan pesan itu, dan berniat hanya akan ia read saja karena kesal. Namun, baru saja Thella membuka kunci layar ponselnya, tangannya terdiam seketika saat menyadari pengirim dari pesan masuk yang tadi masuk ke ponselnya itu. Mata Thella membesar, membaca nama tersebut. Tidak seperti dugaannya, yang mengiri si pengirim merupaka Dirgan yang padahal sudah ia ucapkan selamat tidur, cowok itu justru Riza yang malah mengirimkannya pesan singkat berupa sebentuk perhatian yang di balut dengan pertanyaan singkat bermakna biasa saja sebenarnya, tapi bagia Thella itu sangat penuh makna.
Thella buru buru membuka isi pesan tersebut yang berasal dari Riza, lalu segera membacanya. Cewek itu mengembangkan senyumnya dengan lebar, berbeda dengan saat tadi ia berkirim pesan dengan Dirgan yang tidak ada senyuman sama sekali mengiri bibirnya, kini Thella tampak tersenyum sangat lebar meski hanya sekadar membaca pesan teks dari Riza yang tidak seberapa itu. Thella lebih percaya bahwa dirinya sudah gila. Karena merasa malah chattan dengan pacar sendiri, tapi kini ia malah menyambut dengan baik chat dari Riza yang jelas jelas juga mengganggu aktivitasnya dalam mengerjakan tugas dari Bu Elis. Tapi jika hati sudah berkata, semua akan terasa sah sah aja kan?