Thella membuka laptop milik Riza, lalu mulai mencolokan flashdisk yang juga merupakan milik cowok itu untuk ia copy dari tugas yang sudah di kerjakan oleh Riza. Setelah menunggu beberapa saat, flash disk tersebut pun mulai tersambung ke laptop. Thella berusaha meraih beberapa berkas yang akan di pilihnya untuk di input terlebih dahulu, lalu membuka folder yang di arahkan oleh Riza berisi tugas tugasnya. Thella tampak fokus dalam mengerjakan data data milik Bu Elis itu, tak peduli hari kian larut dan esok hari ia harus sekolah lagi. Thella menyuakai pekerjaan seperti ini, mengolah data yang di berikan oleh guru menjadi sebuah laporan yang bisa di baca dengan mudah dan jelas. Mungkin kelak ia cocok untuk bekerja di bidang ini, tepatnya bida statistika mungkin.
Disela-sela kegiatannya itu Thella sesekali membalas sms dari Dirgan yang tak pernah absen mengirim chat pada Thella semenjak jadian. Dirgan dan segala bentuk perhatiannya, yang bahkan barusan melapor bahwa cowok itu sudah sampai di rumah dengan selamat, Thella hanya membalas sekedarnya saja untuk menghormati Dirgan yang memang berstatus sebagai pacarnya. Balasan yang seharusnya di lakukan Thella di setiap malam sambil tersenyum layaknya remaja pada umumnya, tapi hal tersebut justru di lakukan Thella dengan sangat datar dan tanpa ada senyuman sama sekali. Thella terlihat biasa saja dalam menanggapi setiap pesan masuk yang sarat akan perhatian dari Dirgan di setiap menitnya. Seolah menemani hari harinya.