Setelah memastikan motor Dirgan yang sudah keluar dari g**g rumahnya, Thella pun berbalik untuk kembali memasuki rumahnya yang kini sudah sepi. Ia senang setiap kali teman temannya main ke tempatnya tanpa merasa jijik karena tempatnya yang kumuh dan sempit, berbeda dengan rumah mereka yann mewah dan nyaman. Riza dan Dirgan tampak nyaman nyaman saja dan tidak banyak berkomentar perihal kesenjangan sosial ini. Untuk itu lah Thella selalu menyukai pertemanan mereka yang tampak sehat dan bersahabat. Meski di warna huru hara perasaan yang tak kunjung usai, karena problematika remaja dan segudang permasalahan lainnya.
Sebelum memasuki kamarnya kembali, Thella berusaha untuk merapikan ruang tengahnya terlebih dahulu yang tadi di pakai main olehnya dan teman temannya itu. Ada beberapa sampah dari jajanan yang di belinya dari warung depan, serta gelas gelas yang berantakan di sudut ruang itu. Di rapikannya segala macam hal yang tampak membuat tempat itu tidak rapi oleh Thella, agar cewek itu bisa menyapu dan mengepel ruangan itu dengan tenang. Agar tempat itu bisa kembali bersih, rapih, dan nyaman untuk di gunakan. Sebab ayahnya tidur di ruang tengah ini, yang mana jam segini tentu saja belum datang. Ayahnya selalu datang di atas jam 11 ketika semua orang sudah tidur dan terlelap. Thella sungguh menghargai usaha keras ayahnya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka.