Suasana lorong apartemen cukup sepi siang itu. Hanya terdengar suara AC gedung yang berdengung halus. Lift baru saja terbuka dan seorang pria tinggi dengan setelan rapi keluar sambil membawa sesuatu di tangannya. Kevin. Di tangan kirinya ada bouquet bunga putih yang terlihat elegan. Mawar putih bercampur baby breath, dibungkus kertas premium. Di tangan kanan ada parcel buah premium dalam kotak transparan—apel merah mengkilap, anggur ungu besar, kiwi, dan beberapa buah impor lainnya. Kevin berhenti di depan sebuah pintu apartemen. Ia melihat nomor pintunya. “507…” Ia mengangguk kecil. “Ini dia.” Kevin menarik napas sebentar sebelum mengetuk pintu. Tok tok tok. Di dalam apartemen terdengar langkah kaki pelan. Beberapa detik kemudian pintu terbuka sedikit. Kesya berdiri di sana.

