Lampu di ruang VIP rumah sakit menyala lembut. Tirai jendela sedikit terbuka, memperlihatkan langit sore yang mulai berubah jingga. Kesya masih terbaring di tempat tidur. Infus masih terpasang di tangannya, tapi wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Di kursi samping ranjang, Kevin masih duduk. Tangannya menggenggam tangan Kesya sejak tadi. Ia bahkan hampir tidak bergerak selama dua jam terakhir. Tatapannya terus kembali ke wajah gadis itu. Beberapa helai rambut Kesya jatuh di dahinya. Kevin perlahan menyapunya dengan hati-hati.“Cepet bangun ya…”Ia bergumam pelan. Tiba-tiba jari Kesya bergerak sedikit. Kevin langsung menegakkan badan. Matanya fokus ke wajah Kesya. Beberapa detik kemudian kelopak mata Kesya perlahan terbuka. Ia berkedip beberapa kali seperti orang yang baru bangun da

