Pura-pura

4498 Kata
Setelah pulang dari rumah sakit, Alex selalu menggoda Jessica dan ini tambah parah lagi setelah dia mengenal cowok yang bernama Rega. “Dirimu bagaikan…mawar yang…” belum selesai merayu Jessica memukul lengan Alex yang terkekeh-kekeh. “Apaan sih lo?! Sekali lagi lo hina dia. Habis lo!” ancam Jessica namun Alex hanya mencibir berlalu. Dan sekarang, Rega lebih sering datang ke rumah Jessica untuk menemuinya, hingga suatu hari ketika Rega datang untuk pertama kalinya Alex membukakan pintu untuk Rega “Lo?” kaget Rega tidak tahu kalau Alex tinggal bersama Jessica. “Eh, Rega. Mau cari siapa?” tanya Alex “Nggak mungkinlah cari lo, yang pasti cari bidadari gue.” Sahut Rega membuat Alex geli mendengarnya “lo kok bisa disini?” Rega penasaran “Oh, gue tinggal disini. gue dan Jessica itu...” belum selesai bicara tiba-tiba Jessica datang menyambar dan menyela Alex. “Hai, Rega. Udah lama ya nunggunya, sorry banget ya...” Sela Jessica sok manis didepan Rega membuat Alex pingin muntah rasanya. “Enggak, gue hanya...” belum selesai bicara pun Jessica memotongnya juga. “Udah yuk, kita pergi sekarang.” Ajak Jessica semangat. “Mau kemana lo?” seru Alex “Bukan urusan lo.” Sahut Jessica beranjak pergi “Heh, singkong. Tante bilang jangan pulang malem-malem kalau maen.” Tandas Alex yang begitu enaknya memanggil dia dengan sebutan singkong dan mengatur jam pulangnya ke rumah. Hal tesebut membuat Jessica naik pitam. Dia pun mendekati Alex dengan nada kesalnya. “Hati-hati ya kalau lo ngomong, sekali lagi lo panggil gue dengan sebutan itu, I will kill you.” Kecamnya kemudian kembali ke Rega “Jangan pulang malem-malem ya...” seru Alex dengan santainya melambaikan tangannya kepada mereka berdua, Rega pun mengangkat satu jempol untuk Alex, sementara Jessica menyorotkan pandangan tidak sukanya. “Ternyata ada yang mau juga sama lo singkong. Lumayan juga si Rega” ucap Alex memperhatikan kepergian mereka. ********** Rega kepikiran dengan keberadaan Alex yang berada di rumah Jessica, ada hubungan apa Jessica dengan Alex. “Jessica, kok bisa sih si Alex di rumah lo? Dan ngingetin jam pulang lo juga?” Rega ingin tahu membuat Jessica tersedak saat sedang minum. “Uhug, uhug, uhug, what do you mean? Sorry? Uhug, uhug.” Kejut Jessica, dia takut Rega berpikir yang enggak-enggak tentang dirinya. “Iya, ada hubungan apa lo dengan Alex?” tanya Rega lagi. “Nggak ada hubungan apa-apa. Bahkan kita nggak berteman kok. He’s not my friend.” Jelas Jessica memastikan. “Kalau gitu, gimana bisa dia di rumah lo?” selidik Rega “Dia anaknya temen mama gue, nyokabnya lagi keluar kota. So, mama gue minta Alex untuk tinggal in my home up now. What can make, orang tua kami begitu akrab.” Tambah Jessica memperjelaskan semuanya agar Rega tidak berburuk sangka padanya. “Syukurlah kalau gitu.” Ujar Rega tiba-tiba meraih tangan Jessica. Jantung Jessica cukup berdetak begitu kencang melihat tangannya dalam genggaman Rega. Kemudian mereka pun menikmati kencan mereka. Seusai kencan, Rega pun mengantar Jessica sampai depan rumah. “Kamu beneran nggak mampir dulu.” Tawar Jessica. “Nggak perlu, lain kali aja. Nggak apa-apa kan.” Jawab Rega penuh kelembutan, Jessica pun tersenyum kemudian keluar mobil. “Kamu hati-hati ya, call me latter.” Serunya melambaikan tangan, kemudian Rega menjalankan mobilnya. Dengan hati yang berbunga-bunga, Jessica melangkah masuk kedalam rumah, dia benar-benar terpanah asmara. Serasa semua terasa indah dan menyenangkan, senyum dibibir tidak bisa tertahan, terbayang wajah sang pria idaman. Suasana hati Jessica benar-benar sangat berbunga-bunga hingga ketika dia akan membuka pintu, ternyata pintu terkunci. Jessica berusaha membukanya, dan ternyata memang terkunci. Suasana hati Jessica pun seketika berubah, segera dia mengambil handphone-nya didalam tas dan mencari nomor mamanya. “Ma, mama dimana sih? I could not get into the house, kuncinya diba..” belum selesai bicara mamanya langsung menyela “Honey, mother still meeting, ok.” Mama Jessica kemudian mematikan teleponnya. “Hal, hallo, mom? Mom?” panggilnya tetapi suah terputus, Jessica pun berusaha menelpon mamanya lagi, ternyata handphone-nya sudah tidak aktif “Oh, God. Kemana sih tuh si Alex?!” kesal Jessica, apalagi dia tidak punya nomor Alex, gimana bisa hubungi. Terpaksa Jessica harus menunggu Alex pulang, dia mondar-mandir, duduk sana, duduk sini, pindah posisi sana, pindah posisi sini, begitu lama dia menunggu hingga dia tertidur didepan pintu. Setelah lama kemudian, barulah Alex datang yang baru saja turun dari mobil Rendy. “Thanks guys.” Ketika Alex akan masuk, dia melihat Jessica ketiduran di depan pintu. “Ini orang kok bisa-bisanya tidur disini?” gumamnya sembari jongkok membangunkan Jessica “Heh, bangun. Singkong, bangun.” Alex menggoncang kecil tubuh Jessica, tetapi Jessica tak kunjung bangun dia malah berpaling “yaelah, malah dienakin tidurnya” gerutu Alex berdiri lalu membuka pintu, dia pun sekali lagi membangunkan Jessica tetapi tidak bangun juga “tau lah.” Acuhnya masuk kedalam begitu saja, tetapi sesaat dia kembali lagi sembari menghela napas melihat Jessica tidur seperti itu. Akhirnya, terpaksa dia angkat Jessica membawanya ke kamar “Ya ampun, berat juga cewek ini. Makan batu atau apa nih? Kecil-kecil kok berat banget” gumamnya menggendong Jessica. Ketika sampai dikamar Jessica, tiba-tiba dia terbangun dan seketika kaget dia berada dalam gendongan Alex “Aaa, what are you doing??! Lo mau apa!?? Kurang ajar banget sih lo ini!!” dia pun berteriak sembari memberontak hingga Alex tidak bisa mengimbangi tubuhnya lalu diapun menjatuhkan Jessica ke lantai “Aow?!” “Heh, udah bagus gue bawa lo ke kamar lo, daripada gue biarin lo tidur di depan pintu.” Cetus Alex tanpa menolong Jessica “udah capek-capek gotong malah nggak tau terima kasih” gerutunya, Jessica pun bangkit sambil mengelus-elus pantatnya yang sakit. “Heh, gue nggak perlu lo gendong! Lo kan bisa bangunin gue! Bilang aja lo curi-curi kesempatan, iya kan!?” tandas Jessica menjulurkan jari telunjuknya. “Heellloo, lihat tuh mulut lo masih ada air liurnya! Lo itu tidur apa pingsan! Dibangunin setengah mati kagak bangun-bangun. Malah sekarang sok kebagusan, siapa juga yang mau curi-curi kesempatan sama lo. Yang ada gue ini ene’ gendong lo, buang-buang tenaga gue tau! Nyesel gue gopong lo, berat. Tau gitu gue biarin aja di depan pintu, puas lo.” Omel Alex tiada henti dihadapan Jessica yang hanya melongo mendengar ocehan Alex yang mengalahkan banci-banci rempong. “Get out.” Usir Jessica begitu singkat dan padat. “Gitu doang?! Gue ngomel sampai berbusa lo cuma bilang gitu doang?!” Alex tidak terima omelannya sama sekali tidak dihargai. “Out!” tekan Jessica menunjukkan pintu keluarnya. “Dasar nggak tau terima kasih.” Kesal Alex berlalu dibalik pintu. “Gggrrrrr!!!!” kesal Jessica menutup pintu serta mengunci kamarnya. ********** Ditengah sarapan Jessica membuka obrolan “Ma, next time jangan pernah kasih kunci ke Alex.” Cetusnya jutek “Mama tidak memberi kunci kepada siapa-siapa, kan kalian berdua yang dirumah.” Jawab mamanya melanjutkan sarapannya. “Tapi mama tahu nggak, semalem Jessica tidur di depan pintu gara-gara Alex mengunci pintunya.” Seru Jessica membuat mamanya berhenti melahap makanannya lalu melihat Jessica dan Alex. “Tante, Jessica lagi kencan dengan Rega, dan saya ada keperluan. Jadi saya harus keluar. Kalau saya keluar tidak mengunci rumah, apa itu tidak berbahaya?” bela Alex memeperkan keadaan sebenarnya. “Kamu kencan dengan Rega?” sidik mamanya yang ternyata baru tahu hubungan Jessica dan Rega. “Ammhh, mmmhh...” Jessica gelagapan tidak tahu harus menjawab apa. “Jessica?” panggil mamanya, lalu Jessica pun hanya mengangguk malu. “Kamu ini mau backstreet? Pakai sembunyi-sembunyi segala.” Omel mamanya yang membuat Jessica hanya cengengesan sembari melotot pada Alex. Saat mereka berangkat, didalam mobil pun mereka lagi-lagi bertengkar. “Apa sih masalah lo sebenarnya? Kenapa lo cari muka didepan nyokab gue?!” kesal Jessica “Siapa juga yang nyari muka. Gue punya muka sendiri.” Sahut Alex nyantai sembari menyetir mobilnya. “Lo jangan berlagak i***t deh. Kayak tadi itu maksud lo apa? Pake ngomong gue kencan sama Rega lagi, dasar ember.” Cerocos Jessica “Ember gimana? Gue kan jujur, nggak kayak lo.” Sambar Alex menekan nada suaranya. “You so suck!” ketus Jessica “Lo yang sakit.” Sahut Alex membuat Jessica tambah emosinya, dia akan mengulang kejadian itu lagi tapi disela Alex “Singkong, lo mau nabrakin gue lagi?! Kalau lo mau nabrak, nabrak sendiri aja, jangan ajak-ajak gue.” Seru Alex membuat Jessica tersadar dan berhenti bikin onar lagi. Sesampai dari tempat parkir, Jessica keluar dengan marah-marah diikuti Alex yang juga keluar dan hanya mendengarkan celotehan Jessica “Look, lo jangan lagi pernah campuri urusan pribadi gue, forever ever ever and ever. Ngerti!” kecam Jessica “Lo pikir gue tertarik sama lo?! Enggak. Gue yakin si Rega itu kebentur kepalanya sampai nganggap lo kayak bidadari. Bidadari dari mana? Muka kayak singkong gitu.” Ledek Alex. “Alex?!! Enough call me like that!!” teriak Jessica menghampiri Alex kemudian memukul-mukuli lengan Alex dengan begitu kesalnya. “Aduh, sakit tau. Singkong, aduh.” Alex berusaha menghindar. Tak lama kemudian temen-temen Alex datang menghampiri mereka “Yaileh, pagi-pagi udah ada yang bermesraan nih.” Goda Damar membuat Jessica melotot padanya “Kayak nggak tau mereka aja lo, kan tau sendiri...kalau ada mereka dunia ini milik mereka berdua, yang lain ngontrak.” Tambah Rendy membuat temen Alex tertawa, Jessica pun langsung berdiri dihadapan Rendy “Denger baik-baik ya, kalau lo masih sayang sama hidup lo, jangan sekali-sekali nyampuri hidup gue.” Ancam Jessica tetapi Alex menyela, dia berdiri dihadapan Jessica melindungi Rendy. “Singkong, urusan lo itu sama gue. Gue nggak akan biarin lo ngancam temen-temen gue.” Kecam Alex menantang, sementara Jessica hanya menyorotkan pandangan tajam padanya lalu menginjak kaki Alex kemudian meninggalkannya begitu saja dengan rasa sakit. “Aaaooww??!! Gila ya lo.” Serunya tetapi tidak digubris Jessica. “Oh, God. Kenapa sih dunia ini begitu sempit? Kenapa aku harus bertemu lagi dengan dia setelah hidupku tenang tanpa ada dia? Ini sangat-sangat menyebalkan.” Gumamnya sendiri dengan berjalan penuh emosi. “Jessica.” Seru Putri berlari menghampirinya “Idih, pagi-pagi udah cemberut gitu.” Tambahnya tetapi Jessica tak menjawabnya “Lo ini ya...diem melulu kalau diajak ngomong” kesal Putri. “Aduh Put, lo kan tau tiap hari gue harus beradu sama tuh anak, nggak di rumah nggak di kampus, dimanapun berada.” Ketus Jessica “gue capek, kadang gue itu pengen banget bunuh dia, biar tenang hidup gue.” Tambahnya “Jessica! Lo nggak boleh bilang gitu ah. Itu namanya pembunuh.” Sahut Putri “Udah, sekarang gini aja. Gimana kalau kita cari pacar buat lo biar lo dapet perlindungan dari pacar lo. Jadi, Alex nggak bisa macem-macm sama lo. Gimana?” ujar Putri menyemangati Jessica. “What? You mean?! Look, gue nggak mau cari pacar atau mengejar cinta. Love it came and went away. So, gue nggak mau mencari cinta, ngerti.” Sahut Jessica membuat Putri menjulurkan lidahnya “Ya, itu mah cuma saran doang, kalau nggak mau dipake ya sudah. Hehehe” cengirnya membuat Jessica tambah pusing. *********** “Sari kemana sih?” Jessica mencari-cari Sari tetapi tidak terlihat batang hidungnya. Setelah berapa lama kemudian dia melihat Sari duduk di taman belakang kampus ketika Jessica akan menghampirinya tiba-tiba Rendy datang membawa dua botol minuman untuk diberikan Sari satu. Jessica cukup kaget melihat temannya bersama teman musuhnya, di tengah Jessica sedang mengintai, dari belakang Alex yang sedang lewat jadi penasaran apa yang sedang Jessica lakukan. Dia pun ikut mengintai dan melihat apa yang Jessica lihat. Rendy dan Sari terlihat begitu mesra, apalagi saat Rendy akan mengelus pipi Sari seketika Jessica dan Alex berteriak memanggil nama temannya masing-masing dengan kompak “Rendy?!!!” seru Alex. “Sari!?” seru Jessica yang tambah kaget saat dia sadar ada Alex dibelakangnya “What are you doing here?!!” tekannya dengan nada rendah. Mereka berdua pun menyidang Rendy dan Sari seketika itu juga, keadaan begitu hening dan cukup menegangkan “Kalian backsteet?” cetus Alex to the point. “Iya” jawab Rendy gentle. “Parah ya lo, men. Lo kan sohib gue, masa lo pacaran sama temen musuh bebuyutan gue??!” sahut Alex. “Sari, lo itu apa-apaan sih, kok bisa-bisanya lo suka sama orang itu?!” sambar Jessica. Saat Sari akan angkat bicara dicegah oleh Rendy. “Apa gue salah gue cinta sama Sari?” Rendy mengungkapkan perasaannya. “Iya!” jawab Jessica dan Alex kompak. “Apa Sari salah kalau Sari cinta sama gue?” tanya Rendy lagi, Jessica dan Alex pun menjawab hal yang sama “Iya.” Tegas mereka saling memandang benci diantara mereka. “Tapi Jessica, kita saling cinta. Masa lo...” ucapan Sari terpotong ketika Jessica angkat bicara dan mengajak Sari pergi. “We have to go now.” Ajak Jessica meraih tangan Sari tapi Rendy menahan tangan Sari satunya. “Sari nggak akan kemana-mana.” Tegas Rendy “Men, lo apa-apaan?!” seru Alex kaget “Sori, Lex. Gue bukan kayak kalian. Gue cinta sama Sari. Kalian boleh berantem, musuhan seumur hidup kalian, tapi gue akan tetap cinta sama Sari. Awalnya gue mikir untuk menyatakan rasa ini, tapi cinta nggak bisa disembunyikan. Gue ambil resikonya, asal gue bisa tetap bersama sama Sari.” Jelas Rendy kemudian menggandeng Sari dan berlalu meninggalkan Alex dan Jessica yang begong begitu saja. Sesaat kemudian mereka saling memandang memikirkan ucapan Rendy, tetapi setelah mereka tersadar mereka saling buang muka dan pergi tanpa ucapan perpisahan. Dengan rasa penat dan letih, dia berjalan menuju kelasnya ternyata disana sudah ada Sari, Putri dan Agnes. Dia pun menghampiri teman-temannya untuk melepas penat bersama mereka, tetapi semua itu tidak bisa dilakukannya karena dia mendapatkan Sari yang menangis tersedu-sedu, pasti gara-gara kejadian tadi batinnya. “Ngapain sih lo harus nangis kayak gitu?” tegur Jessica tanpa ada jawaban dari Sari, sementara Agnes dan Putri hanya melihat Jessica sembari mengelus-elus rambut Sari. “Girls, come on.” Jessica menyemangati tetapi semuanya tetap acuh. “Ok, whatever.” Seru Jessica pergi begitu saja. “Lo tuh nyadar nggak sih apa yang udah lo lakuin sama Sari?!” celetus Putri menghentikan langkah Jessica. “Udah, Put. Biarin aja dulu.” Tenang Agnes. “Enggak bisa. Dia harus ngerti. Apa salahnya mereka saling mencintai, apa salahnya mereka saling menyayangi, Jessica? Apa? Ayo bilang.” Seru Putri bangkit dari duduknya dan tidak bisa menahan semuanya. Jessica hanya tercengang temannya seperti itu “Apa hanya gara-gara lo musuhan sama Alex gitu dan lo ngorbanin temen lo juga?! Parah tahu nggak.” Cetus Putri “Putri?!” kaget Jessica mendengar temannya berkata kasar dengannya. “Iya, itu kan kenyataannya?!” sahut Putri dengan meninggikan nada suaranya “Ok, kita dukung lo selalu disetiap permusuhan lo sama dia, tapi jangan cegah hubungan cinta mereka.” Tambahnya membuat Jessica meneteskan air matanya dan pergi meninggalkan teman-temannya. “Jessica!” panggil Agnes akan menyusul Jessica namun dicegah oleh Putri. “Biarin aja, Nes. Dia harus mengerti.” Cegah Putri “Sar, lo tenang ya.” Tambah Putri mendekat pada Sari. Suasana menjadi menyebalkan bagi Jessica selama jam mata kuliah, teman-temannya sama sekali tidak memberi respon apa-apa selama mata kuliah berlangsung hingga selesai. *********** Jessica terasa berat berjalan menuju tempat parkir dan harus duduk bersebelahan dengan Alex. Baru saja Jessica nyampe di depan mobilnya, sesaat kemudian Alex datang dan membuka pintu mobilnya. “Kenapa muka lo ditekuk-tekuk kayak gitu?” ucap Alex mulai meledek Jessica, tapi Jessica hanya memapangkan telapak tangannya tanpa melihat Alex lalu beranjak masuk ke dalam mobil. “Jessica?!” panggil Rega dari seberang, separuh badan Jessica yang sudah masuk ke dalam mobil, keluar lagi dan menengok siapa yang memanggil dirinya, begitu pula Alex yang ingin tahu siapa yang memanggil nama Jessica. “Rega?” Jessica terheran-heran begitu juga Alex. “Hai” sapa Rega menghampiri mereka berdua. “Lo?” penasaran Jessica bertanya-tanya “Gue jemput lo. Gue anter pulang yuk.” Ajaknya semangat membuat Alex lumayan tertegun. “An, anter gue? Gimana lo bisa tahu kampus gue?” tanya Jessica bertubi-tubi salah tingkah. “Gue tadi ke rumah lo, ketemu nyokab lo. Dia ngasih tau kampus lo. Jadi, gue jemput deh.” Jelas Rega membuat Jessica terkesan dengan cowok satu ini, beda banget sama Alex yang hanya bisa buat dirinya kesal. “Ok, yuk!” sambar Jessica tanpa basa-basi sembari melirik ledek pada Alex, dia gandeng mesra lengan Rega meninggalkan Alex. “Syukur deh, gue bisa pulang malem.” Gumam Alex masuk kedalam mobil lalu pergi. Di dalam mobil, Jessica hanya berdiam diri sambil mencuri-curi mata sesekali pada Rega yang begitu ganteng dan mempesona itu. “Kamu keberatan nggak kalau kita makan dulu sebelum anter kamu pulang?” Rega membuka obrolan yang cukup mengagetkan Jessica. “Makan?” yakin Jessica, dan Rega menganggukkan kepalanya pasti. Mereka pun duduk disebuah meja dekat kaca mengarah pada jalanan, pesanan pun datang. Mereka makan dengan tenang tanpa banyak bicara, terlihat Jessica begitu canggung saat itu. Setelah mereka selesai makan, Jessica pun mengambil minumannya. “Jessica, will you marry me?” ucapan Rega itu membuat Jessica tersedak setengah mati. “Uhugh, uhugh, uhugh, uhugh, uhugh!” kaget Jessica belum bisa bicara “Jessica, are you ok?” Rega mendekat pada Jessica untuk menenangkannya. “Hugh, hugh. What, what do you say?” shock Jessica, Rega pun mengambil sebuah kotak kecil kemudian membukanya berisikan sepasang cicin menambah Jessica semakin terbelalak matanya. “Will you marry me?” ucap Rega sekali lagi membuat Jessica bingung harus berkata apa, tapi dia harus memberikan jawaban sekarang juga sebelum Rega berharap lebih padanya. “Re, Rega, are you kidding me?” Jessica masih belum percaya. “Iam really serious.” Yakin Rega. Jessica pun menghela napas, berusaha menenangkan diri dan pikirannya agar apa yang dia katakan tidak menyakiti hati Rega. “Rega, it’s so fast. Bukannya aku menolak atau tidak mau, it’s just that I was in college. So, aku harus menyelesaikannya.” Ucap Jessica begitu tenang dan bijak sembari menutup kotak tersebut dengan lembut. Rega pun tak habis akal untuk mendapatkan hati Jessica, dia raih tangan Jessica begitu lembut. “Tapi kamu maukan jadi my grilfriend? Pacar aku?” tandasnya berharap menatap lembut mata Jessica “aku tidak bisa menyimpan rasa ini, aku terus memikirkan kamu semenjak kita bertemu.” Tambahnya. “I need time to think...” sahut Jessica bingung harus bilang apa. “Aku tidak perlu butuh waktu untuk kamu jawab, kalau kamu memang merasa hal yang sama atau tidak, aku butuh jawabannya sekarang. Please, jangan minta gue menunggu jawaba dari kamu.” Jelas Rega begitu mengesankan “kalaupun kamu menolakku, aku tidak akan marah sama kamu, kita akan tetap berteman, bahkan kita bisa jadi kakak adik.” Tambah Rega memperjelas semuanya. Ternyata hari sudah malam, Alex pun baru pulang kerumah. “Lex, baru pulang. Mana Jessica?” sapa mama Jessica tengok mencari Jessica. “Bukannya dia pulang lebih awal tadi sama Rega? Tadi Alex pulang belakangan.” Ujar Alex. “Gitu ya? Kemana ya tuh anak?” cemas mamanya “Ya sudah, kamu belum makan kan? Kita makan bareng.” Ajak mama Jessica. Selang beberapa saat kemudian, barulah Jessica datang. “Mom’s, Iam home.” Serunya begitu riang. “Where are you going, dear?” sahut mamanya dari ruang makan. “Mmmhh, ada deh.” Jessica mencium kening mamanya “Makan dulu.” Ujar mamanya. “Already full.” Seru Jessica riang. “Sudah makan sama Rega.” Tebak mamanya. “Kok tau?! Pasti ada yang ember lagi nih.” Sahutnya melirik Alex yang sedang melahap makanannya. “Well, I got to the my room.” Tambahnya berlalu. Jessica merebahkan tubuhnya ke ranjang yang empuk, dia teringat pada saat Rega menembaknya, dia pejamkan mata sambil mengambil napas dalam-dalam, dia jernihkan pikirannya. Lalu dia buka matanya menatap Rega “Maaf Rega, aku sudah punya pacar. Dia tinggal di Australia menempuh pendidikan sekarang.” Ungkap Jesica membuat wajah Rega berubah hilang harapan. “Gue cinta banget sama Jonathan. Dia pacar ku sejak SMA. Kami sudah berjanji untuk saling setia.” Imbuhnya. “Okay. Aku mengerti.” Sahut Raga menahan kekecewaan. “Tapi kita masih bisa berteman, bukan?” Tanya Jessica memastikan. Raga tersenyum sembari menganggukkan kepala. “Tentu.” Jessica tersenyum. “Bisa bantu teman lo ini? Gue lagi butuh bantuan banget.” Ucap Jessica memohon. “Jika aku bisa, why not.” Jawab Raga. “Mau jadi pacar pura-pura ku?” Jessica mengernyitkan kening berharap tidak ditolak. Tentu Raga tak langsung menjawab, dia malah menatap Jessica dengan pandangan tidak terbaca, entah setuju atau tidak. Suasana menjadi hening sesaat. “Beri aku alasan. Kenapa?” Jessica menggigit bibir bawahnya lalu berkata. “Kamu tahu, kalau pacar ku jauh disana, dan aku tidak ingin mmembuat dia cemas dengan hubungan kami. Sedangkan Alex selalu saja mengganggu ku. Jika dia tahu kita jadian, mungkin dia tidak akan mengganggu ku lagi.” Jelasnya. “Apa dia tidak tahu kalau kamu sudah punya pacar?” Tanya Raga lagi. “Sudah, tetapi dia tidak pernah percaya.” Jawab Jessica. Raga diam sesaat kemudian berkata. “Oke.” Seketika Jessica tersenyum lega. “Setidaknya aku bisa merasakan jadi pacar kamu meski hanya berpura-pura.” Lanjut Raga berusaha menghibur diri sendiri. Mengingat hal tersebut Jessica menjadi senyum-senyum sendiri, tapi kesenangan dan kebahagiaan dia sirna ketika Alex tiba-tiba datang nyelonong masuk begitu saja “Ngapain lo cengar cengir sendiri, kayak orang gila aja.” Celetuk Alex mengejutkan Jessica “What the hells?!” Jessica bangkit dari ranjangnya setengah mati “lo nggak sopan banget masuk kamar cewek?!!” kesal Jessica mendorong keluar Alex, tapi karena tubuh cowok itu lebih gede dia tidak sanggup mendorongnya. “Emangnya ini kamar cewek?” ledek Alex. “Lo ini?!!! Pergi sekarang juga dari kamar gue?!! Parah lo ya!!” seru Jessica tetep berusaha mengusir monster itu. “Gue itu tau sopan santun ya, kalau kamar lo itu nggak lo kunci bearti lo nggak lagi ngapa-ngapain, tapi kalau kamar lo itu lo kunci bearti...” nadanya rendah “lo lagi ganti baju.” Bisiknya membuat Jessica terbelalak matanya “Damn!” kesalnya memukul-mukul Alex tanpa ampun “pergi nggak lo! Pergi!” usirnya tetapi Alex tetap kekeh berada pada posisinya. Saat Jessica terus berusaha mengusir Alex, handphone-nya yang ada di ranjang berbunyi, dengan cekatan Alex mengambilnya “Alex??!!” Jessica benar-benar sangat jengkel dengan satu orang ini, Jessica berusaha merebut handphone-nya tapi dia tak sanggup melawan. “Rega yang telpon!” ledek Alex, Jessica semakin emosi dibuatnya “Alex, balikin handphone gue!!! Alex!!” kejaranya, tetapi tak semudah itu merebut handphone-nya kembali. Saking sukanya Alex menjaili Jessica, dia memencet tombol terima “Halo Rega.” Sapa Alex dari telepon membuat Rega cukup terkejut “Alex, I kill you!!” rebut Jessica setengah mati, dia tidak peduli lagi kamarnya sudah kayak kapal pecah. “Rega, sorry Jessica so busy.” Ucapnya, Jessica pun menginjak kaki Alex sekencang mungkin sehingga Alex loncat-loncat kesakitan “Aow?!! Aduh Jessica, aduh...aduhh...Jessica...” Alex semakin jadi menjaili Jessica “aduh Jessica...Jessica...” suara Alex menjadi mendesah tak karuan, dibalik telepon Rega yang mendengarnya menjadi aneh. Karena Alex semakin parah ulahnya, dia naik ke ranjang lalu menutup mulut Alex kencang-kencang dengan kedua tangannya, tetapi Alex tetap mengerang sembari mempertahankan handphone Jessica yang dia pegang. “Rega, don’t listen to him, he’s crazy!!” teriak Jessica tetapi Alex terus saja mengerang tak karuan. “Kalian ini apa-apaan?!” seru mama Jessica menghentikan semuanya, Alex pun seketika mematikan teleponnya. Sedangkan Jessica belum melepaskan sekapannya sampai Alex memukul kecil tangan Jessica yang menutup mulutnya “malem-malem teriak nggak jelas gitu? Terus, kenapa kalian belum tidur? Alex ngapain kamu masih keluyuran ke kamar Jessica?” tanya mama Jessica bertubi-tubi. “Iya ma, Alex...” belum selesai bicara Alex memotongnya “Alex tadi Cuma tanya aja, besok kuliah libur atau enggak, eh ternyata libur. Terus tadi si Rega telepon dan tadi...” “Alex, back your room, ok.” Putus mama Jessica meminta Alex kembali ke kamar dan dengan patuhnya Alex keluar. *********** Keesokan harinya, Jessica udah ngomel-ngomel sendiri sambil menyiram tanaman di depan rumah melihat teman-teman Alex maen kerumahnya untuk nemuin Alex “Emangnya ini rumah siapa? Datangin tamu seenaknya sendiri. Dasar! Sampai berapa lama sih dia tinggal disini? pengen banget gue tendang tuh orang.” Gerutunya. Setelah cukup lama, barulah teman-teman Alex pulang “Bye Jessica” sapa Mike, “Pulang dulu ya Jessica.” Sapa Rendy, “Thanks ya udah boleh maen ke rumah.” Ganti Damar tapi tak ada yang Jessica jawab satu pun. Setelah melihat mereka pergi, barulah Jessica berlagak seperti mereka dengan cabirannya sambil mengikuti gerakannya “Bye Jessica, pulang dulu ya Jessica, Thanks ya udah boleh maen ke rumah...” ledeknya sendiri “dasar, sok akrab emang mereka siapa?! Kalau...” gerutu Jessica berhenti saat air dari selangnya terhenti “Nah lho, napa lagi ini air nggak mau keluar? Tukang ledengnya nggak bener nih?” ocehnya sembari melihat-lihat lubang air tiba-tiba air muncrat begitu saja tepat ke mukanya Jessica. “Hahahahahaha!!!” tawa lepas Alex kegirangan yang melepas injakan saluran selangnya, Jessica yang menyadarinya jadi garang dan menyemprotkan airnya ke arah Alex yang berusaha menghindar tetapi Jessica terus mengejarnya hingga Alex benar-benar basah kuyup. Jessica pun bisa tertawa terbahak-bahak melihat Alex basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki, tetapi semua diluar dugaan Jessica meski dia terus menyemprotkan air karena Alex malah berpose sambil mengambil sisirnya dari kantong belakang celananya kemudian dia sisir rambutnya. “What?!” kejutnya tidak menyangka Alex malah berpose kayak gitu, dia mendekat pada Alex dan menyemprotkannya lebih dekat. Dengan sergap Alex merebut selangnya tetapi Jessica tidak kalah sigapnya, dia langsung mengeles gerakan Alex, lalu merekapun berebut dengan keadaan basah kuyup. “Stop it!!!” teriak Jessica yang berada dalam lingkaran kedua tangan Alex yang mengarahkan airnya pada Jessica. Mereka pun jadi bercanda gurau bersama air kran tersebut hingga Rega datang dan memperhatikan mereka “Jessica?” sapanya membuat Alex dan Jessica terhenti, dan segera Alex melepas kedua tangannya yang melingkar ketubuh Jessica. “Rega?!” kaget Jessica tersenyum sumringah menghampiri Rega dengan keadaan basah kuyup. “Kalian...?” penasaran Rega melihat keadaan mereka berdua “Oh, kita...kita...kita tadi cuma maenan aja kok.” Jessica jadi salah tingkah menjelaskan semuanya “Oh, gue kesini cuman ingin mastiin lo baik-baik aja, setelah semalem itu...” Rega tak enak meneruskan kata-katanya sembari melihat Alex yang berdiam diri membawa selang air yang terus mengucur airnya. “Oh, ya...sorry. semalem nggak ada apa-apa kok.” Ucap Jessica meyakinkan. “Kalau gitu kita keluar yuk, honey.” Ajak Rega membuat Alex cukup kaget mendengar ucapan terakhir Rega “Honey” dengan riangnya Jessica mengiyakan, dia angguk-angguk pasti. “Gue ganti baju dulu ya!” serunya “yuk kita masuk dulu.” Ajak Jessica meraih tangan Rega. “Mereka pacaran?” Alex bertanya-tanya penasaran melihat mereka begitu mesra. Setelah cukup lama, dia melihat Jessica dan Rega keluar rumah. Terlihat Rega begitu sayang dan perhatian dengan Jessica “Gue cabut dulu ya, Lex!” seru Rega melambaikan tangan. “Udah sana cepet ganti baju!! Entar masuk angin ujung-ujungnya gue yang susah!!” teriak Jessica ketus membuat Rega mengarahkan pandangannya pada Jessica. “Terserah gue!!” balas Alex dengan ketus juga. “Dasar monster.” Gerutunya terdengar sampai telinga Rega. ***********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN