Pesaing

1901 Kata
Setelah beberapa jam, barulah Jessica sadar dan melihat sekelilingnya ada nyokab dan temen-temennya, ternyata dia sudah di rumah sakit. Kepala lumayan terasa sakit. “Sayang, bagaimana bisa kok sampai gini…?” cemas mamanya mengusap pipi Jessica dengan penuh kelembutan, tapi Jessica hanya bisa tersenyum dia masih berat untuk mengeluarkan suara. Dia teringat berantem dengan Alex di dalam mobil lalu menabrak pengendara motor. “Mama takut sekali setelah mendapat kabar dari polisi…” “Gi…gimana keadaan…orang yang ketabrak itu, ma…” suara Jessica terdengar lemah dan tertatih-tatih. “Alex dan orang itu belum sadarkan diri sampai sekarang…mereka masih di ruang UGD.” Cemas mamanya yang benar-benar terlihat dari raut mukanya. “UGD, ma? How severe?” cemas Jessica “Kita belum tahu seberapa parah mereka, sekarang masih ditangani oleh dokter.” Jawab mamanya “Ma…maafin Jessica…Jessica benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin…Jessica bicara begitu kasar…” sesal Jessica dengan tertatih-tatih, mamanya pun mengecupnya. “Kamu nggak perlu minta maaf, yang penting sekarang kamu cepat sembuh. Itu lihat Agnes, Putri sama Sari nungguin kamu bangun.” Ucap mamanya memberi ruang utuk teman-teman Jessica. “Maafin gue juga ya…” Jessica meraih tangan Putri yang dekat dengan dirinya sembari tersenyum. “Nggak, gue nggak mau maafin lo. Karena nggak ada yang perlu dimaafin tau…” ucap Agnes yang sempat bikin kaget Jessica. “Kita semua kawatir sama lo…” Sari mengusap tangan Jessica. “Jessica, mama keluar dulu ya.” Pamit mamanya berlalu. “Gimana bisa sih lo kayak gini?!” cemas Putri. “Gue berantem sama Alex, setirnya gue banting ke kanan kiri, sampai-sampai nabrak orang pake motor.” Jelas Jessica. “Lo gila ya, bisa-bisanya lo berantem di mobil sampai kayak gitu, nyawa tau taruhannya. Lo ini gila apa?!” omel Agnes. “Ya, gue…gue…kan lagi emosi. Gue udah nggak berpikir gitu, yang gue pikirkan cuma kesal sama dia, so suck.” Jessica mengelak tak mau dikalahkan kalau berurusan dengan Alex. “Tapi lo harus mikirin keselamatan lo juga dong, coba lihat. Parah. Dan sekarang lo tau, berkat lo…Alex sampai sekarang nggak sadar-sadar, dan nggak cuma Alex doang, cowok yang lo tabrak juga nggak sadar-sadar sampai sekarang juga. Lo sama aja kayak ngebunuh mereka dan diri lo sendiri.” Kesal Putri yang sebenarnya juga cemas dengan apa yang terjadi pada Jessica, Agnes dan Putri berusaha menenangkan Putri karena terlihat mata Jessica berkaca-kaca. “Put, udah…jangan terusin lagi. Cukup.” Tenang Sari, tapi Putri tetap saja meneruskannya. “Lo mau dipenjara karena ulah t***l lo?!” nada Putri menekan rendah. Dan air mata Jessica pun tak tertahankan jatuh membasahi pipinya lalu Agnes segera menenangkan Jessica. “Put, udah.” Tekan Agnes. “Udah, gimana Nes?? Dia terlalu egois. Dia nggak mikirin kita atau yang lainnya.” Jawab Putri ketus. “Put, Jessica masih sakit. Dia baru sadar, lo jangan gini dong.” Sari menyela. “Gue kesal banget sama Alex karena dia udah bikin temen-temen gue marah sama gue tentang gue nggak cerita kalau selama ini Alex tinggal sama gue, dan kemarin dia juga yang buat gue berantem sama nyokab gue… gue kesel…gue kesel…” isak tangis Jessica mulai terdengar, mereka pun tak sanggup melihat temennya menangis. “Maafin gue…gue bener-bener minta maaf…” teman-teman Jessica pun kemudian memeluknya dengan penuh rasa kasih sayang. “Gue nggak mau lo jadi jahat cuma gara-gara lo kesal sama satu orang, kami nggak pernah mempermasalahkan Alex tinggal dimana, tapi lo jangan kayak gini...” tutur Putri. Sudah beberapa hari Alex belum juga sadarkan diri, dia melihat mamanya menelpon tante mama Alex, berusaha meyakinkan kalau Alex bakal baik-baik saja. Dia berpikir, benar apa yang dikatakan Putri. Dia terlalu egois sehingga dia bisa menjadi pembunuh kalau seandainya Alex dan pengendara motor itu tidak terselamatkan. Jessica pun menengok Alex dari luar kaca, dia melihat Alex berbaring tak berdaya diatas ranjangnya. Dia merasa, dirinya benar-benar keterlaluan. Tak lama kemudian, teman-teman Alex datang. Mereka mengacuhkan Jessica yang berada di luar kamar Alex, kemudian mereka masuk begitu saja dengan pandangan sinisnya ke Jessica. ********* Setelah beberapa hari kemudian, Alex pun sadarkan diri. “Alex, sudah baikan, apa kamu nggak jenguk dia…tengok-tengok sebentar gitu.” Ujar mamanya. “Jenguk dia?? Jessica aja juga masih sakit. Masih berbaring juga. Kalau dia udah sadar, suruh jenguk Jessica aja kemari, ngapain juga Jessica jenguk dia, kurang kerjaan banget.” Cetus Jessica mentah-mentah membuat mamanya geleng-geleng kepala. “Mama bingung, sebenarnya kalian ini ada apa? Ya sudah, kalau nggak mau jenguk Alex mama aja yang jenguk, kamu jenguk Rega aja. Kamar sebelahnya Alex” Ucap mamanya mau pergi. “Siapa Rega?” Jessica mengerutkan keningnya. “Yang kamu tabrak itu.” Jawab mamanya singkat kemudian berlalu. Suatu waktu, ketika Jessica termenung sendiri, dia berpikir untuk menjenguk orang yang telah dia tabarak. Kemudian dia bangkit dan keluar dari kamarnya, tapi saat dia melewati kamar Alex dari pintu kaca terlihat Alex yang sedang berbaring tidur. Langkah Jessica terhenti, berpikir sejenak. Kemudian dengan diam-diam dia masuk ke kamar Alex, dia melihat kepala Alex diperban dan lengan Alex juga diperban. “Hufh…parah juga…” ucap Jessica menggigit bibirnya merasa bersalah “Maaf yaaa” ucap Jessica terdengar tidak sepenuhnya minta maaf “Seharusnya lo yang minta maaf, tapi lihat keadaan lo kayak gini, jadi kepaksa gue yang harus minta maaf.” Gumamnya sendiri “tapi…mau gimana lagi, lo lebih parah dari pada gue…” ucapnya lalu berbalik dan akan pergi, namun tiba-tiba salah satu tangannya tertahan, Jessica pun menengok dan melihat Alex menahan tangannya. “Emang kayak gitu ya cara orang minta maaf, singkong?” tersadar Alex yang ternyata mengetahui kedatangan Jessica dan mendengar ocehan cewek itu. Mata Jessica terbelalak mengetahui Alex ternyata mendengar semua omelannya. “Lo, lo, denger semuanya?!” kejut Jessica melepas tangannya dan Alex hanya cengar-cengir. “Jangan-jangan…lo…lo pura-pura sakit ya??!!” Tebak Jessica langsung meraba semua bagian Alex yang diperban, dan tanpa tanggung-tanggung Alex teriak kesakitan. “Aow??!! Aow??!! Aooww??! Sakit tau, gila lo ya?! Kayaknya lo emang bener pengen ngebunuh gue?!!” rintih Alex, tapi Jessica tak memperdulikannya dia terus meraba bagian tersebut, tapi saat Jessica menyentuh kepalanya Alex benar-benar kesakitan karena Alex menahan tangan Jessica yang masih di kepalanya hingga membuat Jessica lumayan tersentak juga hatinya, mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, ketika tersadar mereka saling melempar muka dan Alex melepas tangannya di kepala kemudian memegang kepalanya yang benar-benar sakit. Ternyata cowok itu emang bener-bener kesakitan cengir Jessica menggigit ujung lidahnya. *********** Saat Jessica masuk kamar Rega, ada orang tuanya yang sedang menyuapi cowok itu. “Permisi…” Jessica mempersilahkan diri, semua orang ada di dalam itu pun menoleh ke sumber suara tersebut, dengan senyum yang canggung Jessica pelan-pelan masuk “Mmhh…saya…saya…minta maaf…kar… karena…saya yang sudah menabrak anak tante sama om…”Jessica benar-benar nggak enak hati dengan keadaan itu. “Masuk aja, nggak apa-apa.” Ucap cowok itu masih terdengar lemas. Jessica pun mendekat pada mereka. “Om, Tante…saya bener-bener minta maaf atas yang telah terjadi dengan anak tante sama om.” Sesal Jessica “Melihat Rega sudah sadarkan diri, tante udah seneng banget kok… semua itu kan juga nggak sengaja, mama kamu sudah cerita semuanya.” Ucap mama Rega mengelus pundak Jessica “Kamu sendiri gimana?” tanya mama Rega lembut. “Saya baik-baik saja tante, malah saya kawatir dengan anak tante…” sahut Jessica lembut juga. “Gue baik…malah lebih baik lagi ternyata yang nabrak gue cewek secantik kamu.” Rayu Rega membuat Jessica lumayan kaget juga, matanya sempat terbelalak. “Rega…” tegur papanya. “Maaf, pa…melihat cewek ini serasa lukaku sudah sembuh…” rayu Rega lagi membuat Jessica tersenyum tak percaya. “Oh ya, mah. Kayaknya Rega pengen banget makan chinesfood. So…papa anter mama ya…” tambah Rega mulai terdengar bersemangat. Mama dan papa-nya pun tersenyum “Ok, kalau kamu mau itu sayang…kami pergi dulu.” Ucap papanya berlalu bersama mamanya. Sejenak setelah mereka menghilang dari pintu Jessica tersenyum-senyum sendiri. “Apa? Kenapa lo tersenyum seperti itu?” tanya Rega. “Jadi seperti itu lo mengusir your parents???” senyum Jessica. “Sebenarnya bukan mengusir…nggak sekasar itu. Hanya saja gue butuh waktu sebentar saja…setidaknya nggak nyinggung mereka.” Sahut Rega sembari tersenyum. “By the way…what’s your name?” Rega terus berusaha merayunya meski dalam keadaan sakit, tapi Jessica hanya tersenyum tersipu malu. “Gimana keadaan lo? Apa ada yang parah?” Jessica mengalihkan pembicaraan menutupi kegugupannya itu. “Ada yang parah, satu yang sangat parah, disini.” Tangan Rega mengarah pada dadanya “Sini terasa sesak saat gue melihat lo disini.” Rega benar-benar tak hentinya mengeluarkan rayuan gombalnya membuat Jessica lumayan terhanyut dalam gombalannya. “Waow, dalam kondisi kayak gini, lo masih bisa merayu cewek???” Jessica mengelak “Gue tebak pasti lo playboy cap mmhh…??” “Itulah yang dikatakn semua cewek setelah dia terkena panah asmara gue…” Sahut Rega dengan PD-nya membuat Jessica tambah tak percaya. “Ok, I have to go. Lo cepet sembuh.” Pamit Jessica. “Kalau lo sering kesini, gue pasti cepet sembuh.” Rayu Rega lagi. Sepertinya Jessica telah tersihir oleh rayuan Rega, dia pun hanya tersipu malu sembari berlalu. Jessica terus tersenyum saat mau kembali ke kamarnya, tapi ketika dia melewati kamar Alex terlihat mamanya sedang bersama Alex. “Ma, mama ngapain disini?” sambar Jessica begitu saja. “Lagi nyuapin Alex.” Mamanya tidak begitu memperdulikan Jessica. “Mama apa-apaan sih? Ngapain juga nyuapin dia? Kenapa mama nggak nyuapin Jessica aja.” Kesal Jessica melirik tajam Alex. “Tadi mama ke kamar kamu, kamunya nggak ada. Ya mama kesini aja nemenin Alex.” Jelas mamanya tetap menyuapi Alex. Dengan kesal Jessica menghampiri mereka berdua. “Jessica baru aja jenguk orang yang udah Jessica tabrak itu. Kenapa sih mama malah manjain Alex.” Cetus Jessica membuat mamanya hanya tersenyum. “So, Gimana keadaan Rega?” mamanya mengalihkan pembicaraan dengan tersipu malu Jessica menjawabnya. “Mmhh…lumayan tampan juga…dan…dia…dia so sweet.” Jessica berubah riang. “Ih, tante itu tanya keadaan orang itu, bukan tanya yang aneh-aneh.” Sela Alex membubarkan suasana hati Jessica yang sekejab berubah menjadi monster. “Apa sih lo?! Ganggu aja!!” ketus Jessica “Mama juga nyuapin Alex melulu, Jessica juga mau!” Jessica mengarahkan tangan mamanya yang akan nyuapin Alex jadi mengarah ke mulut Jessica. “Eh, lo ini. Itu kan buat gue.” Seru Alex. “Biarin!! Week!!” balas Jessica. Mamanya hanya bisa tersenyum melihat mereka yang saling berebut minta disupain oleh dirinya. Sekarang Jessica lebih sering menengok Rega, dan mereka terlihat begitu akrab. Alex jadi penasaran seperti apa cowok itu, hingga membuat Jessica terlihat berbunga-bunga. Terdengar suara pintu yang terbuka, Jessica dan Rega pun menoleh kearah pintu. “Hai.” Sapa Alex sambil cengar-cengir. Jessica terbelalak matanya kenapa Alex datang “Ngapain lo kesini?!” ucap Jessica tapi tanpa mengeluarkan suara. “Hai, lo Rega ya. Gimana kondisi lo? Gue yang satu mobil sama Jessica.” Sok akrab Alex berjalan mendekat pada mereka. “Gue udah baikan. Apalagi selalu ada yang jenguk gue, cantik lagi.” Sahut Rega. “Kayaknya kepala kamu harus diperiksa deh menurutku.” Ujar Alex membuat semuanya bingung “masa cewek kayak gini dibilang cantik? Darimana???” tambah Alex menyindir Jessica yang langsung mencubit lengannya. “Aow, sakit tau!??” “Sepertinya begitu, jangan-jangan ada yang salah dengan kepalaku.” Sahut Rega membuat Jessica kaget “soalnya tanpa kepala pun aku masih tetap merasakan kalau Jessica memang cewek yang paling cantik.” Tambahnya membuat Jessica tersenyum dan membuat Alex hanya bisa mengatupkan rahangnya. Rayuan maut batinnya. ************ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN