Teman-teman Jessica menjadi tambah curiga, karena beberapa minggu ini teman-temannya tidak boleh maen ke rumahnya, dan lebih parah lagi, dia tiba-tiba datang dan tiba-tiba menghilang begitu saja.
“Jessica udah ngilang lagi.” Agnes menyelidik, dan temen-temennya dengan jawaban yang sama serentak mengangguk.
“Kira-kira apa ya yang dirahasiain Jessica sama kita??” Putri mencoba tebak-tebak.
“Kita harus cari tau.” Sari bersemangat.
Ketika Jessica dan Alex menikmati makan malam, tiba-tiba terdengar bel berbunyi. “Gue bukain pintu.” Seru Alex mau berdiri. “No way, I just! Lo diem disini!!” sahut Jessica segera menuju pintu depan.
“Hai Jessica.” Sapa Sari yang datang bersama yang lain. Seketika Jessica terbelalak matanya dan menelan ludahnya dalam-dalam. “Ka, kalian…nga…ngapainn…????” Jessica begitu terlihat gugup. “Ngapain??? Ya kita maenlah Jessica...” sambar Putri.
“Lo lihat kita kayak lihat setan aja sampai lo ketakutan gitu.” Tandas Agnes membidik.
“Oh, enggak kok. Engak. Kita mau maen kemana???” sahut Jessica berniat maen keluar aja.
“Nggak kemana-mana kok, kita Cuma pengen maen ke rumah lo, kan udah lama kita nggak maen ke rumah lo, ya kan?!” Putri memperjelas semuanya.
“betul!” seru Sari lalu mereka masuk begitu aja.
“Eh, eh, eh??? Mmmhh, lo semua tunggu disini, gue kedalem dulu ada yang harus gue beresin dulu. Ok. Jangan kemana-mana.” Seru Jessica kemudian cepat berlalu.
Alex yang masih menikmati makannya tiba-tiba ditarik oleh Jessica. “Eh, eh, eh, apa-apaan sih lo..” Omel Alex yang langsung dibungkam Jessica. “Diem lo, jangan sampai lo ngeluarin sepatah kata pun, nanti gue patahin tulang lo kalau lo sampai ngomong, ngerti!” ancam Jessica dengan suara menekan dan melepas bungkamannya lalu mengusap telapak tangannya ke baju Alex. “Lo sekarang sembunyi jangan sampai temen-temen gue tahu kalau lo ada di rumah gue, apalagi lo tidur disini, cepet sembunyi sana!!!” tekan Jessica dengan nada rendah.
“Jessica, lo baik-baik aja kan??” Agnes menghampiri ke meja makan.
“Enggak, nggak apa-apa kok. Gue baik-baik aja.” Sahut Jessica
“Ada siapa sih?” Sari penasaran dan ingin melihat lebih dalam, meski dicegah oleh Jessica tetap aja ngotot ke dalam “Nggak ada siapa-siapa kok? Lo udah gila ya Jessica??” Sari jadi aneh tapi membuat Jessica lebih lega, dia bisa bernapas lepas.
Hingga teman-temannya pulang, dia lega mereka tidak tau kalau Alex ada di rumahnya. Tapi Jessica tak bisa menyembunyikan terlalu lama rahasianya tentang Alex yang tingal bersamanya.
Sampai suatu hari teman-teman Jessica melihat dengan mata kepala mereka sendiri Alex turun dari mobil Jessica bersama dengan Jessica juga. “Jessica??!!!” Seru Sari dari kejauhan, Jessicapun menjadi terkejut tak karuan, dan teman-temannya pun menghampirinya.
“Cie…cie…jadi ceritanya Tom and Jerry nya udah the end nih….” Sindir Putri
“Pagi ini pagi apa sih? Nes, tolong lo catet tanggal, hari dan waktunya, nanti kita ke ustad tanyain hari yang cocok buat mereka.” Goda Sari membuat temen-temennya tertawa semua.
“Apa-apaan sih kalian ini. Gue nemuin dia lagi dipinggir jalan dan dia mohon banget buat nebeng sama gue! Gitu aja nggak lebih.” Cerocos Jessica membuat Alex tidak terima.
“Maksud lo, gue ngemis-ngemis gitu sama lo??!! Najis.” Tandas Alex, dan mereka pun tetep seperti biasa berantem saling adu mulut. Temen-temennya pun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menepuk dahi mereka masing-masing. Baru saja tadi pagi terlihat pemandangan yang indah mereka bisa akur, eh nggak taunya tetep aja ujung-ujungnya berantem.
“Wah, pagi-pagi udah pada kumpul semua nih…ada apa? Reunian ya?!” sambar Mike yang baru saja datang bersama yang lain.
“Diem lo!” bentak Jessica.
“Eh, jangan sekali-kali lo macem-macem sama temen-temen gue.” Ancam Alex.
“Kenapa?! Lo takut!? Gue nggak akan takut sama lo!” tantang Jessica.
“Udah Jessica kita perg dari sini aja.” Ajak Agnes.
“Apa lo bilang, gue? Takut sama lo?! Kalau gue takut sama lo gue nggak bakal mau tinggal di rumah lo, buktinya lo nggak bisa tenangkan sekarang, gara-gara gue sekarang tinggal di rumah lo.” Ucap Alex membeberkan semuanya membuat Jessica begitu kaget termasuk teman-teman Jessica yang tak kalah kagetnya.
“Jessica??! Apa maksudnya?!!” Sela Putri.
“Oh, gue lupa…kalian nggak tau ya, sudah sekitar 2 bulan gue tinggal di rumah Jessica, di rumah Jessica.” Cengir Alex memandang teman-teman Jessica yang benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi selama ini. Jessica tak bisa berkutik, dia bingung harus bicara apa dengan teman-temannya.
“Jessica??” Sari memastikan.
“Kasihan banget sih kalian nggak tau apa yang terjadi selama ini, teman macam apaan kalian.” Sahut Damar.
“Asal kalian semua tahu, mama Jessica lebih sayang sama gue daripada sama anaknya sendiri.” Alex begitu puas membeberkan semuanya di depan teman-teman Jessica.
“Jawab kami Jessica, apa semua itu benar??” Agnes penasaran dan ingin mendengar jawaban itu dari Jessica langsung. Dengan ragu Jessica menganggukkan kepalanya dengan takut, dan teman-temannya tak menyangka kenapa Jessica menyembunyikannya dari mereka. “Gue nggak nyangka sama lo?!!” kesal Agnes.
“Tapi girls, ini nggak seperti yang lo pikirin. Iam just…”
“Semua sudah jelas, ternyata lo nggak hargai persahabatan kita sejak kecil.” Tambah Putri juga nggak kalah kesalnya.
“Sorry, Jessica. Gue nggak bisa berbuat apa-apa, lo udah keterlaluan.” Ucap Sari kemudian teman-temannya berlalu begitu saja.
“Tap, tapi, Sari?! Putri?! Ag, Agnes please…jangan pergi” cegah Jessica tapi mereka tetap berlalu, sementara Alex dan yang lain menertawainya. “Seneng lo sekarang!!! Puas lo!! Lo ini nggak tau diri ya!! Udah tinggal dirumah gue tapi lo nggak tau terima kasih!!” bentak Jessica setengah mati.
“Heh, singkong, lo harus tau satu hal. Bukan gue yang minta buat tinggal di rumah lo, tapi nyokab lo. Inget itu!!” tandas Alex menantang
“Gue bener-bener benci sama lo!!!” gregetan Jessica berlalu.
***********
Temen-temen Jessica bener-bener marah besar dengannya, Jessica sampai kewalahan menghadapi mereka. Dia memang merasa bersalah telah menyembunyikannya.
“Please, dengerin gue…awalnya gue mau cerita sama kalian, tapi…gue nggak mau nelen ludah sendiri. Lo semua tau, gue bencinya kayak apa sama tuh cowok. Kalau kalian tau dia malah tinggal di rumah gue, gue takut kalian pikir gue cewe nggak bener…” terang Jessica tapi temen-temennya tetap cuek. “Please, maafin gue…gue bener-bener nyesel…Iam so sorry…maafin gue…” pinta Jessica setengah mati.
“Itu alasan lo kenapa lo datang dan pergi begitu aja??!” sahut Putri, dan Jessica mengangguk.
“Terus itu masalah lo kenapa kita semua lo larang maen ke rumah lo?” tambah Agnes, dengan jawaban yang sama Jessica menganggukkan kepalanya.
“So, saat kita datang ke rumah, Alex lo suruh sembunyi gitu?!” Sari menyidik, dan dengan jawaban yang sama pula Jessica menganggukkan kepalanya.
“Dan kenapa lo nggak cerita dari awal?!!” serentak mereka bertiga mengatakan itu membuat Jessica sedikit tersentak.
“Sorry…” Jessica hanya bisa mengeluarkan kata itu.
Berhari-hari Jessica benar-benar dicuekin dengan teman-temannya, sudah beribu cara dilakukan Jessica untuk meminta maaf tapi temen-temennya tetap saja belum bisa memaafkan dia.
***********
Jessica benar-benar dibuatnya begitu kesal, apalagi Alex telah membeberkan semuanya dihadapan teman-temannya. Hingga suatu hari, sepulang dari kampus Jessica sudah menunggu terlalu lama, dan Alex belum juga terlihat batang hidungnya. “Waow, Iam so great.” Ocehnya sendiri “Jessica, What are you doing? Waiting him??! Emang siapa dia??! Kenapa semua orang dibuat simpati pada orang gila itu, termasuk nyokab gue??!” kesalnya sendiri di dalam mobil “Terus, kenapa gue harus selalu nunggu dia?!!” pikirnya tak percaya. Dari kejauhan barulah terlihat Alex “Sampai hitungan ke sepuluh, lo nggak nyampe mobil, jangan salahin gue karena gue udah muak sama lo!!” kesalnya sembari mulai menghitung, di tengah hitungannya ke empat, Alex malah menghampiri seorang cewek dan mengajaknya ngobrol.
“What??!” kaget Jessica “dasar nggak tau di untung ya?!! Ok, bye!” begitu kesalnya Jessica mengegas mobilnya, Alex pun nengok dan langsung terkejut mobil Jessica pergi begitu saja, Alex berlari sambil berteriak namun apa daya tetap tak bisa terkejar juga hingga Alex cukup dibuatnya ngos-ngosan.
“Gila ya tuh cewek. Lihat aja nanti.” Ngos-ngosan Alex yang sempat mengancam.
***********
Mau nggak mau, Alex pun naik taksi sampai rumah, tidak tahunya bersamaan dengan mama Jessica yang baru datang melihat Alex turun dari taksi. “Alex, dari mana kamu?” tanya mama Jessica.
“Oh, sepulang dari kampus tan.” Sahut Alex ramah.
“Lho, bukannya kamu barengan sama Jessica??”
“Tadi ditinggal tante…” Alex memelas
“Ck, ck, ck, anak itu…” kesal mama Jessica “Ya, sudah ayo masuk.” Ajaknya dan Alex membuntutinya dari belakang.
Seusai makan malam, Jessica ingin segera bergegas pergi ke kamar, tapi ketika akan bangkit mamanya menahannya. “Jessica, mama mau bicara.” Ucapnya membuat Jessica duduk kembali “Kenapa kamu meninggalkan Alex dan membiarkan Alex pulang sendiri?” tanya mamanya membuat Jessica tercengang, kenapa mamanya membahas masalah yang tidak penting itu, sementara Alex juga jadi tidak enak hati kalau mama Jessica langsung memarah Jessica di hadapannya.
“Mom??” sahut Jessica tak mau menjawab.
“Jawab mama, kalian berangkat bersama, kenapa pulang tidak bersama?” kejar mamanya selayaknya pengacara.
“Ma, meskipun Alex pulang sendiri pun dia juga nggak akan kesasar.” Nada Jessica mulai meninggi. Saat mama Jessica akan menjawab, Alex melarangnya.
“Tan, sudah nggak apa-apa kok. Lagian kan Alex sudah ada disini.” Ujar Alex, tapi mama Jessica tidak bisa terima.
“Jessica, apa seperti itu mama ajari kamu bicara sama mama??!” mama Jessica juga mulai meninggikan nada suaranya.
“Why mom always defends him?!! Why do mom always choose him?!! Why mom love him more than me??!!” Jessica lebih meninggikan suaranya dengan lantang “Padahal dia sudah mengacaukan kehidupan Jessica, sekarang teman-teman Jessica marah sama Jessica karena ulah dia juga! Kenapa Jessica tinggalin dia, karena dia malah asyik dengan teman ceweknya sedangkan Jessica menunggu lama di mobil, dan sekarang…dia pulang naik taksi mama mempermasalahkannya. This is not fair!!” teriak Jessica kemudian berlalu begitu saja.
“Jessica?!!” panggil mamanya tetapi Jessica tak mau mendengarkannya, dia terus berjalan menuju kamarnya dan terdengar bantingan pintu kamarnya. Alex benar-benar tak enak hati melihat apa yang baru saja terjadi.
Mama Jessica duduk lemas sembari menopangkan tangannya ke kepalanya yang terasa pusing. “Tante, maafin Alex…seharus…”
“Kamu nggak perlu minta maaf, akhir-akhir ini tante sama Jessica lama tidak kumpul bareng untuk berbagi cerita, jadi…ya seperti ini, membesar-besarkan masalah. Dia memang seperti itu kalau sedang ngambek.” Ujar mama Jessica.
*********
Suasana sarapan pagi ini begitu dingin, tanpa banyak bicara, dan tanpa banyak gerakan. Setelah cukup kenyang Jessica segera menuju mobil tanpa pamitan pada mamanya. “Tan, Alex berangkat dulu.” Pamit Alex kemudian menyusul Jessica.
Dalam perjalanan, Alex yang sedang menyetir sesekali melihat raut muka Jessica yang begitu menakutkan. “Lo tau, semarah gue atau sejengkel gue sama nyokab gue nggak pernah berteriak gitu atau melantangkan suara gue.” Alex membuka obrolan.
“Nggak usah ikut campur urusan gue!!” bentak Jessica.
“Ok.”
“Lo puas. Lo puaskan sekarang buat hidup gue lebih sengsara, pertama temen-temen gue lo buat mereka marah sama gue, dan sekarang nyokab gue!! Lo buat gue berantem sama nyokab gue!! Happy now!! Sebenarnya apa sih mau lo!!?? Kenapa dari dulu sampai sekarang lo nggak pernah ada baiknya sama gue!!?? Gue nggak habis pikir sama lo kok ada orang kayak lo ini. Dan kenapa gue harus ketemu sama lo dan buat hidup gue berantakan kayak gini?!!” oceh Jessica begitu kesal tapi Alex hanya diam sembari memperhatikan jalan, namun sesekali dia melihat Jessica yang begitu kesal.
“Udah ngocehnya???” ucap Alex seakan-akan tak terjadi apa-apa “eh, kalau lo terus bawel gini, gue nggak jamin kita bisa nyampe ke kampus dengan selamat, panas tau telinga gue denger suara lo yang nggak ada hentinya itu. Merdu juga kagak tapi pede banget ngoceh terus kayak burung.” Gerutu Alex yang buat Jessica semakin mendidih dan membludak-b***k emosinya, dengan perasaan yang penuh amarah dia pegang setirnya dan membolak-balikkan setirnya dengan brutal hingga Alex yang sedang menyetir dibuatnya kewalahan. Jessica sangat membabi buta, dia tak memikirkan keselamatannya lagi.
“Singkong, gila lo ya. Bahaya tau!! Gila lo, lepasin setirnya. Singkong!!??” bentak Alex yang berusaha mengendalikannya tapi tetap saja kewalahan dan tiba-tiba dari arah berlawanan mereka menabrak pengendara motor lalu Alex membanting setir ke kiri menabrak sebuah tiang hingga mereka sama-sama tidak sadarkan diri.
***********