berusaha berdamai

1710 Kata
Sore hari, setelah mandi Jesica menemani mamanya yang ada dihalaman belakang rumah sembari menyeduh secangkir teh. “Mama...” sapanya duduk disebelah mamanya “Mana si Alex?” tanya mamanya mengelus rambut Jesica. “Oh, mana Jes tahu...” Jesica meletakkan kepalanya ke bahu mamanya dengan begitu manja. “Kamu anak mama satu-satunya, mama hanya ingin kamu bahagia.” Ucap mamanya membuat Jesica bertanya-tanya kenapa tiba-tiba mama Jesica bicara seperti itu. “Mama...??” seru Jesica mengangkat kepalanya dari bahu mamanya dengan nada tidak sukanya karena dia tidak ingin ditinggal mamanya. Ketika Alex sedang berjalan, tiba-tiba mama Jesica memanggilnya “Alex.” Seru mama Jesica “Kemari.” Tambahnya membuat Jesica melongo kenapa juga mama Jesica memanggil tuh orang. Batinnya. “duduk sini.” Mama Jesica mempersilahkan Alex duduk didepannya. “Ya te.” Patuh Alex mengambil kursi dan duduk didepan mama Jesica Jesica yang hanya tersenyum melihat dirinya. Sekilas mama Jesica melihat wajah Jesica berubah garang meski tidak bicara. “Hahahaha” mama Jesica tiba-tiba tertawa membuat Alex dan Jesica bingung “Kalian ini...Hahaha” mama Jesica tidak bisa menahannya. “Mama, are you alright?” cemas Jesica. Beberapa saat kemudian mama Jesica mulai tenang “Mama..??” “Sebenarnya ada masalah apa kalian ini?” tanya mamanya membuat bingung keduanya saling melempar. “Problem? What?” bingung Jesica. “Mama ini sudah hidup cukup lama, mama sudah mengalami pahit manisnya hidup ini. Dan mama juga sudah mengenal kamu dengan baik sayang.” Ujar mamanya mencubit hidung Jesica dengan gemasnya. “Mmmh, sebaiknya saya pergi aja tante.” Ujar Alex akan pergi tetapi ditahan mama Jesica. “Tunggu dulu, kamu tetap disini saja.” Cegah mama Jesica. “Mama?” kesal Jesica kenapa harus mencegah Alex pergi. “Ada apa dengan kalian?” tanya mamanya “Ada apa dengan kami?” bingung Alex yang tidak mengerti begitu pula Jesica. “Mama lihat di mata kalian penuh dengan kebencian. Mama baru pertama kali bertemu dengan Alex, tapi kebencian dimata kalian begitu dalam. Mama hanya ingin tidak ada kebencian didalam diri kalian.” Tutur mamanya “It’s not funny.” Seru Jesica akan pergi tapi mamanya menahan tangan Jesica dan memintanya duduk kembali. “Jangan tanam kebencian dalam diri kalian. Cobalah kalian berpikir hal-hal yang baik.” Tutur mamanya lagi, Alex dan Jesica pun dengan canggung saling melihat aneh lalu saling buang muka. “Mama Jesica, percuma.” Sahut Alex “Cobalah tatap mata Jesica, dan ingatlah sifat baik Jesica yang pernah dia lakukan untuk kamu. Begitu pula kamu, sayang. Tatap mata Alex dan ingatlah sifat baik Alex selama ini.” Tutur mamanya bijak. Dengan canggung pun mereka terpaksa menuruti mamanya, mereka saling menatap dengan ragu, sesaat ketika mata mereka saling memandang “Nggak ada baiknya dia, ma.” Protes Jesica pada mamanya. “Tante, semua ini nggak ada gunanya.” Protes Alex juga akan pergi. “Alex.” Tahan mama Jesica “Apa salahnya kalian coba dengan serius.” “Mama, come on. All this useless.” Jesica mulai kesal. Tapi mama Jesica hanya menatap Jesica begitu lembut dengan penuh kesabaran membuat Jesica tidak bisa bicara lagi. Mereka pun akhirnya terpaksa mengulang untuk saling memandang lagi, dengan kesalnya Jesica menatap mata Alex dengan menyangga dagunya yang berarti berat melakukan hal tersebut. “Sayang, pikirkan hal apa yang paling kamu sukai dalam diri Alex.” Tutur mamanya lembut. “Dan kamu Alex, tatap mata Jesica. Dan berpikir hal apa yang paling kamu sukai dalam diri Jesica.” Tambah mamanya. Awalnya mereka hanya memandang biasa, dan masih ada kebencian dalam mata mereka. “Cobalah kalian ingat-ingat, hal yang paling kalian sukai diantara kalian. Saat kalian bisa tertawa bersama, ketika kalian menghabiskan waktu bersama yang menyenangkan. Cobalah kalian berpikir, kenapa kalian saling membenci, apa gunanya semua itu.” Tutur mama Jesica. Tatapan benci diantara mereka pelan-pelan berubah, mereka semakin dalam memandang. Entah apa yang terjadi, pelan-pelan kebencian diantara mereka terkikis, pudar entah kemana. Dan mulai berlahan-lahan mereka mengeluarkan senyum manis. Pandangan mata pun berubah menjadi lembut. Ketika mereka terbenam dalam tatapan itu, mama Jesica membubarkannya. “Kalian sudah merasakannya.” Ucap mama Jesica membubarkan pandangan mereka yang kemudian saling salah tingkah, dengan raut muka yang memerah mereka tidak berkata apa-apa. Mama Jesica pun hanya tersenyum sembari membelai rambut Jesica. “Ok, Give me a hug.” Ujar mamanya membentangkan tangannya kemudian Alex dan Jesica memberikan pelukkannya. Ketika memeluk mama Jesica, tangan Jesica dan tangan Alex tidak sengaja saling bertumbur, mereka sama-sama kagetnya, mereka saling memandang dibalik pelukan mama Jesica. “Kalau kalian tidak bisa berteman, itu tidak masalah. Tapi jangan ada kebencian dalam diri kalian. Mengerti.” Tutur mamanya melepas pelukan mereka. “Ya udah, kalau gitu bantu Alex kemas-kemas.” Perintah mamanya “What?! Help him?! Oh, come on mom’s.” Tolak Jesica sangat-sangat keberatan. “Jesica?! Bantu Alex berkemas.” Tekan mamanya , dengan berat hati Jesica harus mematuhi perintah mamanya itu. Saat berkemas dikamar Alex, Jesica pun terus ngomel-ngomel sendiri tanpa arah, dan memasukkan pakaian kedalam koper asal-asalan. “Orang udah gede gini masa iya harus dibantu beres-beres.” Kesalnya sendiri. “Heh, kalau enggak ikhlas nggak perlu bantuin kali daripada ngak dapat pahala.” Cetus Alex. Tanpa bicara Jesica pun berhenti berkemas lalu dia berniat keluar dari kamar Alex. “tapi jangan harap lo nggak diomelin nyokab lo.” Tandas Alex terkekeh-kekeh membuat Jesica mengurungkan niatnya dan kembali berkemas dengan menahan rasa garangnya. Dia nggak peduli rapi atau tidak, yang penting dia masukkan semua barang Alex ke dalam koper. “Wo...wo...take easy, girl. Lo bisa lebih rapi nggak sih ngemasnya.” Protes Alex. “Terserah gue, udah bagus gue udah mau bantu lo semampu gue! Biar lo bisa cepet-cepet pergi dari rumah gue!” sahutnya terus memasukkan barang-barang ke dalam koper, Alex pun tidak akan membiarkannya semua berantakan dia malah mengambil koper itu lalu menumpahkan semua isi koper itu diatas ranjang. Jesica ternganga melihat apa yang sudah Alex lakukan “What are you doing?!!” Jesica mendorong tubuh Alex. “Pack up!” tekan Alex “What?!” Jesica ternganga karena berani-beraninya Alex menyuruh dirinya “You know, Iam just to say bye!” kecamnya kemudian melangkah keluar. Alex yang tak mau kalah tidak akan membiarkan Jesica pergi begitu aja sebelum dia benar-benar puas mengerjai Jesica. Alex berlari menutup pintunya dan berdiri didepan pintu mencegah Jesica keluar sebelum mengemas pakaiannya. “Go away!!” kesal Jesica menarik tubuh Alex yang tetap bertahan ditempatnya. “Gue nggak akan biarin lo keluar sebelum lo kemasin barang gue sampai rapi!” sahut Alex memaksa. Tanpa berpikir panjang, Jesica menarik lengan Alex lalu menggigitnya kuat-kuat hingga Alex teriak kesakitan dan dalam keadaan itu Jesica membuka pintu, tetapi dengan sergap Alex memegang daun pintu bersamaan Jesica yang menutup pintu dengan cara membantingnya sehingga Alex teriak kesakitan karena kejepit pintu hingga terdengar sampai ketelinga mamanya dan mama Jesica di ruang tamu. Jesica pun yang melihat telapak tangan Alex kejepit itu kaget bercampur seneng tapi juga bercampur kasihan. “Jesica, ada apa?” teriak mamanya bertanya dari ruang tamu tentang apa yang terjadi. “Eh, e, enggak, enggak ada apa-apa ma. Kita Cuma candaan doang.” Sahut Jesica yang bingung harus berbuat apa. Dia ingin kabur tapi gara-gara dirinya juga Alex kejepit sampai kayak gitu, tapi salah sendiri menghalanginya pergi, tapi, tapi. Jesica begitu bingung harus gimana, dan akhirnya dia masuk kembali ke dalam kamar untuk melihat kondisi Alex yang mengerang kesakitan sembari mengipatkan telapak tangannya dan sesekali dia tiup. “Coba, gue lihat!” sambar Jesica meraih tangan Alex dengan kasarnya. “Pelan-pelan napa sih nih cewek?! Sakit banget tau! Gila lo ya.” Kesal Alex menahan rasa sakitnya. “Salah sendiri, siapa suruh pake nyegah-nyegah gue pergi segala!” ketus Jesica tak mau disalahkan tentang incident ini. Luka Alex cukup ngeri juga, telapaknya ampe terlihat lumayan memar hingga warnanya biru. Ketika Jesica menyentuhnya sedikit, Alex sudah mengerang tak karu-karuan. “Aow, aow, aow?!” desis sakit Alex “Aow? Aow? Aow? Kayak anak kecil aja.” Ledek Jesica membuat Alex semakin garang. “Gila lo, sakit beneran tau!!” bentak Alex meniup-niup tangannya, Jesica jadi malu sembari cengengesan. “Gue ambilin es batu dulu ya. Sorry...” cengirnya pergi mengambil es batu dan peralatan P3K. Terpaksa Jesica harus mengobati tangan Alex, kalau dipikir-pikir Jesica memang yang salah. Dengan penuh kelembutan dan ekstra hati-hati dia membasuh memar Alex dengan es batu dibalut dengan handuk kecil. Sesekalipun Jesica meniup-niup memar tersebut. Sementara Alex, harus menahan rasa sakit yang menyiksanya. “Masih sakit?” tanya Jesica. “Ya masihlah, emangnya sulap bisa sembuh gitu aja!” cetus Alex. “Biasa aja kali jawabnya nggak usah pake nyolot gitu!” tandas Jesica menekan luka memar Alex. “Aduhh!!?? Gila lo ya. Ah, ah, sakit banget?!!” kaget Alex yang merasa sakitnya merasuk kedalam tulangnya, dan Jesica hanya bisa menggigit lidahnya. Dan akhirnya, Jesica selesai memerban luka Alex ditambah terpaksa dia mengemas barang-barang Alex lagi. “Yang rapi ya.” Seru Alex. “Iya, iya. Bawel!” kesal Jesica, mau pergi aja masih nyusahin dirinya. Setelah cukup lama mereka menuju ruang tamu, karena tangan Alex sakit terpaksa Jesica harus membawakan koper Alex. “Alex, kok kamu nyuruh Jesica membawa koper kamu?!” seru mama Alex. “Oh, nggak apa-apa kok ma, tadi Jesica yang memintanya sendiri.” Sahut Alex menyembunyikan tangannya dibalik saku jaket. “Iya kok tante. Jesica yang minta sendiri kok.” “Jesica, tolong dong bawa ke mobil sekalian.” Perintah Alex sok kalem yang membuat Jesica ingin sekali membunuh Alex. Tetapi untuk sekarang ini dia tidak bisa berbuat apa-apa terpaksa dia harus melakukan apa yang disuruh monster itu. Alex menghampiri Jesica yang sedang susah payah memasukkan koper kedalam bagasi. “Thanks” ucap Alex. “Idih, najis nrima terima kasih dari lo.” Tekan Jesica. Tiba-tiba Alex menginjak kaki Jesica hingga Jesica ingin sekali berteriak tapi dia melihat nyokapnya sudah berjalan menuju mobil bersama tante Rita. “What the hells!!??” kesalnya dengan nada rendah tetapi menekan sembari mengelus-elus kakinya yang diinjak itu. “Lo kan nggak mau nrima ucapan terima kasih gue, ya gue injak aja kaki lo. Karena lo pasti mau nrima, ya kan?” jelas Alex cengengesan. “Lo akan gue...” Jesica menunjuk ke arah muka Alex dan akan mengancamnya tetapi mamanya keburu datang dan terpaksa dia menurunkan jarinya itu. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN