Andai itu aku...

617 Kata
Sesampai kembali pulang, terlihat dengan sangat bahagia penuh pancaran sinar yang belum pernah Alex lihat sebelumnya. Senyum Jessica terlihat sangat mempesona ketika bersama dengan Jonathan. Mama yang membukakan pintu rumah cukup terkejut karena kedatangan Jonathan. Beliau pun menyambutnya dengan suka cita. "Jonathan? Kapan balik dari Australi??" mama ingin tahu. "Ketepatan kemarin, tan. Enggak nyangka saat menjenguk kakek ternyata Jesica ada juga." jawab Jonathan santun. Mama Jesica mengelus lengan kokoh Jonathan sambil tersenyum. "Ayo masuk dulu." ajak beliau. "Rega, jangan pulang dulu. Kamu harus makan bersama kita." lanjut mama Jesica kepada Rega kemudian berganti melihat Alex. "Ajak Rega masuk juga, Lex."  Mata Jonathan melempar pandangan kearah mama Jesica lalu melihat Alex yang seakan sudah biasa berada di rumah Jesica. Pikirannya bertanya-tanya, namun tak lama Jessica merangkul lengannya dan mengajaknya masuk. "Ayo, kita masuk." ajak Jessica yang diikuti Jonathan. * Di meja makan, Jonathan hanya diam memperhatikan keakraban mama Jesica dengan Alex. Seolah Alex lah yang menjadi anak menantu di rumah ini. "Jon, apa kamu masih kembali ke Australi?" tanya mama Jesica. "Sore ini saya harus kembali pulang, te." jawab Jonathan. "Apa tidak ingin menginap disini dulu?" tanya beliau lagi. Jonathan menyebarkan pandangannya kesekitarnya. "Andai saya bisa, pasti saya akan disini untuk menjaga Jessica, te." tersenyum ramah. Rega pun kemudian menyambungkan perkataan Jonathan. "Sepertinya itu perlu. Jika tidak, maka Jessica akan menua sebelum waktunya." singgung Rega melihat kearah Alex yang membalas dengan pelototan mata. Tetapi Rega hanya terseringai melihat tingkah Alex itu. "Tante, setelah makan selesai boleh saya keluar sebentar dengan Jessica?" ijin Jonathan. mama Jesica tersenyum lalu dengan mudahnya mengijinkan mereka pergi berduaan saja. "Gue boleh ikut?" Alex menawarkan diri. Semua mata tertuju ke Alex dengan berbagai sudut pandang masing-masing. Lalu Jesica berkata. "Lo mau jadi ajudan gue??" sinisnya. "Jess..." tegur mamanya. "Ya habis gimana lagi menangani orang ini." kecut Jessica. "udah tahu aku dan Jonathan jarang bertemu, tetapi dia selalu ingin menganggu." imbuhnya. Rega kemudian membalas. "Mungkin dia ingin tahu cara berpacaran kalian kayak gimana. Kan setahu ku dia belum punya pacar tuh, mungkin saja dia mau belajar dari Jonathan." lagi-lagi Rega berhasil membuat Alex geram. "Gue? nyari pacar? Tidak perlu. Karena yang ada semua pada antri ingin jadi pacar gue." sombong Alex membuat semua orang geleng-geleng kepala. * Di taman kota, kini Jonathan dan Jessica duduk berdua dengan hangatnya. Jessica menyandarkan kepala di bahu Jonathan. Sedangkan Jonathan menggenggam erat tangan Jessica. "Jes." "Hem?" "Aku merasa cemburu dengan Alex." terang-terangan Jonathan yang membuat Jessica mengangkat kepala kemudian memposisikan duduknya setengah menghadap Jonathan. "What?" Jessica tidak habis pikir kenapa bisa-bisanya Jonathan cemburu dengan Alex. "Iya, Jes." jawab Jonathan penuh keyakinan. "Ketika kamu menceritakan siapa Alex lewat video call, mungkin aku masih bisa menahan emosi dan menepis bahwa aku tidak akan cemburu." Jonathan menarik napas. "tapi setelah bertemu dengan Alex secara langsung, aku merasakan rasa cemburu." Mata mereka saling menatap. Beberapa kali mata Jesica berkedip-kedip mencari jawaban dibalik mata Jonathan kemudian beberapa saat Jessica tak bisa menahan diri, dan akhirnya ia pun tertawa didepan Jonathan. "Hahahaha, Jon...apa yang kamu pikirkan??" Jessica tak percaya kalau kekasihnya cemburu dengan Alex. Jonathan tetap memandang serius ke Jessica sebab ia tidak bisa membohongi dirinya bahwa benar dirinya cemburu. "Oke, oke, oke, maafkan aku telah menertawak ini." Jesica mengatupkan kedua tangannya di rahang tegas Jonathan. "I love you. I love you so much." deliknya menatap tajam penuh inten kepada Jonathan. "Kamu tidak perlu mengkhatirkan apapun. Oke." Jesica berusaha meyakinkan Jonathan yang kemudian menganggukkan kepala lalu kembali menggenggam tangan Jessica. "Aku harap ini hanya sebuah kecemasan ku saja. Aku tidak ingin kehilangan mu, Jes." ungkap Jonathan yang disambut senyuman manis penuh cinta dari Jessica. "Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap berada di samping mu." jelas Jessica kembali menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Jonathan. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN