Jonathan menangkap perubahan drastis pada wajah Zee, sebuah ekspresi kosong yang lebih mengerikan daripada ketakutan. Tanpa membuang waktu, ia menyambar ponsel yang tergeletak di lantai, yang masih menyisakan suara isak tangis dari seberang sana. “Halo, Sif? Ini aku, Jonathan. Apa yang terjadi? Bicara padaku!” tuntut Jonathan, suaranya mengeras berusaha menembus kekacauan suara di telepon. “Tante Rita... mamanya Zee... dia kritis di rumah sakit,” suara Sifa pecah, tersendat oleh napas yang memburu. Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Jonathan. Ia menoleh cepat ke arah Zee, dan jantungnya mencelos. Wanita itu nampak sedang berjuang menghirup oksigen yang seolah hilang dari ruangan itu, dadanya naik turun dengan tidak beraturan, dan hanya dalam hitungan detik, kesadaran Zee meredu

