“Nyonya!” Jeritan Bi Tarmi membelah kesunyian kamar yang pengap itu. Ia jatuh terduduk, tangannya menutupi mulut seolah tak sanggup melihat pemandangan di depannya. Heri tidak membiarkan sedetik pun terbuang sia-sia. Dengan gerakan sigap, ia berlutut dan menyelipkan lengannya di bawah tubuh Rita yang terasa dingin dan ringan secara tidak wajar. Begitu ia mengangkatnya, kepala Rita terkulai lemas di bahu Heri, memperlihatkan sudut bibirnya yang pecah dan berdarah. “Dia masih bernapas!” seru Heri. Kalimat itu bagaikan embusan nyawa bagi Rusdi yang hampir kehilangan harapan. Tanpa menunggu aba-aba, Heri langsung berlari keluar kamar, membopong tubuh ringkih itu dengan langkah-langkah besar yang mantap. Rusdi mengikuti dari belakang dengan langkah tertatih namun dipenuhi energi kepanikan. N

