Sifa terus menekan bel rumah Rizman dengan gerakan obsesif, namun hanya keheningan yang menyambut dari balik bangunan megah itu. Rusdi berdiri di sampingnya, matanya menyapu setiap sudut rumah yang nampak seperti benteng sunyi. “Apa mereka tidak ada di rumah?” tanya Rusdi, suaranya mulai bergetar karena firasat buruk yang merayap. “Gak mungkin, Om… rumah sebesar ini punya pembantu. Sekalipun mereka pergi, pembantunya pasti ada di dalam,” sahut Sifa. Ia meremas jemarinya yang mulai tremor hebat. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara malam itu cukup sejuk. “Aku jadi tambah khawatir… soalnya pernah begini juga,” bisik Sifa dengan napas yang mulai tidak teratur. “Pernah begini gimana maksudnya?” Rusdi menoleh cepat, rasa panik kini sepenuhnya menguasai wajah tuanya. “Aku dan Ze

