“Sella! Anakku!” Suara pekikan itu menyayat udara. Susan, ibunda Sella, berlari menembus kerumunan entah dari mana asalnya. Ia muncul tepat saat orang-orang mulai merubung, menjerit histeris sambil memangku kepala Sella yang tak berdaya. Kehadirannya yang terlalu tepat waktu menambah dramatisasi suasana yang sudah kacau. Beberapa petugas kesehatan datang tergesa-gesa mendorong brankar, menciptakan suara roda besi yang berderit memekakkan telinga. Zee, yang didorong oleh rasa bersalah dan empati, bergerak maju. Kakinya gemetar, hendak menuruni anak tangga untuk memastikan kondisi Sella, namun sebuah tangan kekar menyentak lengannya dengan kuat. “Jangan turun!” desis Jonathan. Suaranya rendah namun penuh penekanan. Matanya menatap tajam ke arah kerumunan di bawah, menyadari bahwa situasi

