“Bagaimana, Mas?” Sifa segera menyongsong kedatangan Heri. Napasnya tertahan, menanti kepastian setelah Heri pergi melaporkan tindakan brutal Rizman ke pihak berwajib. Heri mengembuskan napas panjang, raut wajahnya tampak lelah sekaligus geram. “Laporan sudah masuk. Aku juga sudah menyerahkan Surat Permintaan Visum ke bagian administrasi rekam medis agar segera diproses oleh dokter,” ucap Heri, suaranya rendah namun penuh penekanan. Heri kemudian menoleh ke arah Bi Tarmi yang duduk menyudut di kursi tunggu. Sosok wanita tua itu tampak begitu rapuh. “Bi… kalau nanti polisi datang untuk meminta keterangan, Bibi bersedia bicara jujur, kan?” Bi Tarmi mendongak. Tubuhnya masih gemetar hebat, sisa trauma dari keributan tadi jelas belum hilang dari sarafnya. Ia meremas ujung daster batiknya se

