Rizman melangkah maju, memperpendek jarak hingga Rita bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tubuh suaminya. Sebuah tangan besar mendarat di bahu Rita, bukan untuk membelai, melainkan mencengkeram kulitnya hingga kuku-kuku pria itu seolah menembus kain pakaiannya. “Istriku sayang… ayo ke kamar, aku sangat merindukanmu,” ucap Rizman. Suaranya rendah dan serak, namun nada bicaranya justru terdengar seperti ancaman mati yang dibalut kata-kata manis. Rita hanya mampu pasrah, tubuhnya bergetar hebat di bawah kuasa pria itu. Walaupun kakinya terasa selemas jeli dan perutnya mual karena ketakutan, ia tetap harus dipaksa berjalan, menyeret langkahnya menuju ruang penyiksaan yang mereka sebut kamar tidur. Bamb! Suara pintu kamar yang dibanting itu berdentum keras, mengunci segala akses ba

