Langkah kaki yang tenang namun berat menggema di lantai kamar, memecah kesunyian yang sempat tercipta oleh lamaran nekat David. Jonathan berdiri di sana, auranya mengintimidasi. “Harusnya kau menyerah… karena aku yang akan mengatakan kalimat itu.” Jonathan melangkah secara perlahan dengan tatapan tajam ke arah David. Matanya yang biasanya meneduhkan kini berkilat seperti pedang yang baru saja diasah. David sontak langsung berdiri, tubuhnya menegang, siap untuk konfrontasi fisik apa pun yang mungkin terjadi. Namun, Zee tidak membiarkannya. Dengan sisa kekuatannya, Zee dengan kuat menarik tangan David, menahannya agar tidak melangkah lebih jauh. “Tolong jangan berkelahi lagi,” ucap Zee mencengkram kuat tangan David. Jari-jarinya yang gemetar menunjukkan ketakutan yang mendalam akan kekaca

