Di dalam kamar perawatan Zee duduk bersandarkan bantal, matanya terpaku pada layar televisi yang tergantung di dinding. Ia tak berkedip menyaksikan Jonathan yang berdiri tegap di bawah sorotan lampu kilat wartawan. Ada kekaguman yang membuncah saat ia melihat pria itu mengungkap kebenaran dengan suara yang begitu tenang dan mantap. Binar lega yang jernih terpancar dari mata Zee yang masih sembab. Tatapannya tertuju pada sosok Jonathan di layar dengan kehangatan yang tak bisa disembunyikan—sebuah tatapan cinta yang mendalam. Perlahan, tangan Zee turun mengelus perutnya yang masih rata, tempat sebuah kehidupan baru mulai berdenyut. “Dia papamu, sayang… dia benar-benar penuh tanggung jawab,” ucap Zee dengan senyum tipis yang tulus, seolah sedang membisikkan janji masa depan kepada janinnya.

