Lamaran dari teman masa lalu
Sarah menatap Adam yang sudah delapan tahun tidak bertemu dengannya dan sekarang tiba-tiba saja muncul di rumahnya.
Pria yang dulunya terkenal misterius dan pendiam yang selalu menjadi pria idaman para gadis di sekolahnya itu sekarang duduk dihadapannya, tapi enggan melihat matanya walaupun Sarah terang-terangan menatapnya.
Pria pendiam yang tidak pernah masuk dalam kategori tipe pria idamannya ini telah berani datang ke rumahnya dengan membawa kedua orangtuanya bersamanya.
Ini gila!
Bagaimana bisa pria yang tidak pernah dekat dengannya tiba-tiba saja datang melamarnya?!
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun Sarah tiba-tiba saja tertawa dan memecah keheningan serta suasana tegang yang sebelumnya menyelimuti.
"Ini pasti prank kan?" tanya Sarah sambil beranjak bangun dan melihat ke setiap sudut ruangan untuk mencari dimana keberadaan kamera tersembunyi.
Semua ini terlalu konyol untuk menjadi nyata!
Hampir saja Ia terjebak apalagi kedua orang tuanya tidak akan mungkin menjodohkannya karena ia sudah berulangkali mengatakan jika ia tidak ingin menikah.
Selama ini Kedua orangtuanya tidak pernah mengatakan apapun, itu adalah tanda jika mereka tidak menolak keputusannya.
Sarah tahu jika kedua orangtuanya adalah yang terbaik.
Semoga saja akan selalu begitu...
"Dimana kameranya?" Sarah melongok mencari ke setiap sudut arah. "Duh, ini pasti kerjaan Mitha sama Doddy... Iya kan, Ma? Mama sama papa mau aja diajak kerjasama sama mereka! Paling mereka cuma mau pansos aja." Sambil melipat kedua tangannya di dadanya, Sarah terus menggerutu.
Gadis itu kemudian menoleh menatap Adam dan kedua orang tuanya sekali lagi. Ekspresi tidak nyaman yang mereka tunjukkan membuat Sarah semakin dingin. "Baiknya pulang aja deh kalian semua... Udah gak jaman nge-prank gini!" tukasnya sinis.
Kedua orang tua Sarah terlalu terkejut dengan respon putri semata wayang mereka sehingga mereka tidak dapat mengatakan apapun begitu juga dengan kedua orang tua Adam karena Sarah bahkan tidak sungkan untuk mengusir mereka.
"Ini bukan prank, Sar." Adam akhirnya angkat suara yang sontak membuat Sarah tertegun.
Ia terduduk lemas dan masih berusaha untuk tidak mempercayai ucapan Adam yang terdengar serius.
Bahkan terlalu serius hingga membuat hati Sarah tiba-tiba saja bergetar seakan ia dapat merasakan keseriusan itu, padahal Adam hanya baru mengatakan tiga patah kata, tapi dia sudah berhasil membuatnya seperti ini.
"Ini udah gak lucu lagi." Sarah beranjak bangun dan segera melangkah pergi.
Jika terus berada diantara mereka bisa-bisa jantungnya menjadi lemah karena lamaran ini terasa sangat nyata dan Sarah tidak akan pernah bisa menerima kenyataan konyol ini.
"Aku datang untuk melamar kamu karena aku ingin menikahi kamu, Sarah...." Langkah kaki Sarah seketika terhenti di anak tangga pertama saat Adam kembali bicara.
Sarah kemudian menoleh dan kembali melangkah menghampiri Adam.
"Loe gila?" Sarah memaki Adam tanpa ragu.
"Karena aku sangat sadar, aku ingin menjadikan kamu istriku."
"Wah eror nih laki!" Sarah kembali tertawa, ia tidak percaya akan semua ini tapi sialnya ia dapat merasakan jika semua ini nyata.
"Punya apa loe mau nikahin gue?" Sergah Sarah menatap tajam.
"Sarah!!" Rahma akhirnya beranjak bangun karena ucapan putrinya ini sudah semakin keterlaluan.
"Ya Allah, nak... Siapa yang mengajari kamu berbicara seperti itu?" tegur Rahma yang sudah merasa sangat malu atas kesombongan yang Sarah tunjukkan.
"Tolong maafkan putri kami, mungkin dia hanya terlalu terkejut dengan situasi ini."
Sekarang giliran Rendy yang merasa bersalah. Sebagai seorang ayah, ia sama sekali tidak menduga jika Sarah bersikap seperti ini padahal ia sudah sangat senang ketika Adam dengan berani menemuinya selesai sholat Jum'at dan mengatakan ingin datang membawa kedua orang tuanya untuk melamar Sarah kemarin.
Tentunya sikap Adam membuatnya terkesan apalagi ia mengenal dengan baik keluarga Adam karena ayahnya dulu teman mainnya saat kecil dan dia tahu bagaimana latar belakang keluarga Adam yang santun dan mengenal agama dengan baik apalagi ia dan istrinya mulai kesulitan mengontrol pergaulan Sarah yang semakin lama semakin liar.
"Mah, Pah, aku bukannya gak sopan, tapi aku itu logis. Cinta itu gak berguna bagi aku. Cinta juga gak mungkin ada karena kita udah delapan tahun gak ketemu dan di sekolah dulu kita gak pernah deket. Sekarang dia mau sok-sokan lamar aku, palingan dia mau numpang tenar!" ucapan Sarah terdengar pedas dan menyakitkan harga diri Adam sehingga kedua orang tua Adam tersinggung.
"Maaf kalau mungkin semua ini mendadak bagi kamu, tapi aku serius, Sarah. Aku baru menyelesaikan gelar master ku di Amerika dan baru kembali dua hari yang lalu," jelas Adam dengan tutur katanya yang lembut sekali lagi berhasil membuat Sarah gelisah.
"Baru lulus? Gila!" Sarah sadar jika ucapannya keterlaluan, tapi ia tidak bisa berpikir jernih sekarang.
"Mau kasih gue makan apa loe? Ijazah loe? Gelar master loe? Gak butuh gue!" sambungnya dengan angkuh.
"InsyaAllah kamu gak akan kekurangan materi dan InsyaAllah hati aku gak akan salah mengenali wanita yang sudah lama tinggal di disana."
Sarah terdiam, setiap jawaban yang Adam berikan membuatnya bungkam apalagi cara Adam bicara terdengar berbeda dan terasa tentram namun Sarah mencoba menutupinya.
Pria selalu begitu diawal kisah, tapi di pertengahan hingga akhir kisah pasti akan terus menorehkan luka seperti mantan kekasihnya yang lebih memilih menikahi wanita pilihan orangtuanya daripada memperjuangkan hubungan mereka yang sudah terjalin selama hampir tiga tahun.
Dimas membuangnya begitu saja setelah Sarah mati-matian menahan rasa sakit atas sikapnya yang terkadang merendahkannya selama mereka pacaran dan dua tahun berlalu, tapi Sarah masih bisa merasakan rasa sakit hati itu membuatnya tidak lagi percaya pada cinta.
Jadi bagaimana bisa ia percaya pada pria yang tiba-tiba saja muncul dari masa lalu ini?
Pria yang mendadak menawarkan cinta dalam sebuah pernikahan...
Itu konyol!
"Lupain aja, loe pasti keliru," tukas Sarah sebelum akhirnya memilih memasuki kamarnya untuk mengambil tasnya dan pergi begitu saja.
Sarah terang-terangan mengabaikan panggilan kedua orang tuanya yang hanya bisa menahan malu atas sikap putri mereka.
"Maafkan Sarah ya nak Adam, dia dulu gak seperti itu...." Sambil menahan malu Rahma meminta maaf kepada Adam dan kedua orang tuanya yang sudah terlihat sangat jelas menahan rasa jengkel.
"Gak apa Bu, saya masih belum akan menyerah..."
Jawaban Adam membuat Rendy dan Rahma merasa sedikit lega karena itu artinya masih ada kemungkinan Sarah memiliki calon imam yang akan kembali membimbingnya menjadi wanita yang shalihah.
***