"Sialan!"
Doddy dan Mitha langsung menoleh kearah Sarah yang baru saja tiba, tapi sudah memasang wajah frustrasi.
"Sial kenapa loe?" tanya Doddy yang bingung dengan tingkah Sarah yang tidak seperti biasanya selalu yang bersemangat ketika berada di klub seperti ini.
"Berisik banget lagi tuh musik setan!" umpat Sarah sekali lagi membuat Mitha dan Doddy saling menatap bingung karena Sarah biasanya akan menari mengikuti irama musik sambil memegang segelas cocktail di tangannya kini memilih duduk di meja bar tanpa menyentuh minuman yang telah di sajikan sangat bartender.
"Kenapa sih loe? Kesurupan?" tanya Doddy sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sarah yang masih menyembunyikan wajahnya di balik lipatan kedua tangannya di atas meja.
"Gue di jodohin!" Rasanya Sarah ingin berteriak menceritakan keluh kesahnya kepada Mitha dan Doddy, tapi ia tidak ingin menjadi bahan tertawaan mereka jadi Sarah hanya bisa diam.
"Loe begini karena Dimas baru aja balik ke Indonesia, kan? Loe galau takut ketemu dia? Masih cinta loe?" tebak Doddy, dia mungkin seorang pria, tapi kalau soal bicara julid dialah yang paling jago diantara mereka bertiga.
"Ya enggak lah, gila loe! Gue udah 1000% move on dari dia," sahut Sarah dengan tegas.
"Yang bener? Bisanya orang yang terlalu berusaha keliatan tegar itu yang justru nyembunyiin lukanya." Mitha menambahkan kecurigaan Doddy membuat Sarah semakin kesal dan akhirnya beranjak bangun.
"Stress loe berdua!" Cibir Sarah sebelum akhirnya memilih pergi dan membiarkan kedua temannya itu menertawakannya.
"Awas nanti ketemu baper!" Teriak Doddy membuat Sarah langsung menoleh dan menatapnya sinis.
"Awas loe ya kalau minta endorse gratis dari gue!" Balas Sarah sambil melangkah keluar dari dalam klub dengan perasaan semakin kesal.
Sudah cukup rasanya Adam membuatnya sakit kepala dan semoga ia tidak bertemu dengan mantan kekasihnya yang b******k itu.
"Sarah...."
Sarah seketika menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya.
"Susah banget ya hubungin elo ... Gue DM berkali-kali, tapi gak loe baca." Dewi langsung menggerutu begitu ia berada dihadapan Sarah.
"Maaf beb, gue lupa kasih loe nomor baru gue..."
Sarah sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Dewi sebelumnya, tapi semenjak followers-nya semakin banyak membuat semua orang yang mengenalnya tiba-tiba menjadi sangat ramah kepadanya salah satunya adalah model cantik ini.
"Minggu ini gue nikah, loe mau kan jadi Bridesmaids gue? Ya please...."
Sarah masih berpikir dan belum menjawab, tapi Dewi sudah menarik tangannya dan menggenggamnya erat, "Please ya, Sar... Loe kan sahabat gue?"
Hah? Sejak kapan?
"Ya udah deh...," sahut Sarah enggan.
Salah satu kelemahannya memang selalu merasa tidak tega melihat ekspresi memohon seseorang dan untungnya Adam tidak memohon padanya tadi karena jika pria itu sampai memohon maka mungkin ia akan menerima lamarannya.
Oh Tuhan...
Apa yang ada dipikiran loe sih, Sar?!
Kenapa juga Adam terus muter di otak gue sih?
"Makasih ya, beb... Jangan lupa besok datang ke acara pesta lajang gue di hotel Kemboja ya. Gue tungguin pokoknya," ucap Dewi yang membuat Sarah hanya bisa tersenyum kikuk karena Dewi tidak memberikan kesempatan untuknya bicara.
"Loe gak mau masuk?" tanya Dewi yang berniat masuk ke dalam klub, tapi Sarah langsung menggelengkan kepalanya, "Lagi sakit kepala gue. Gue pulang duluan ya...."
Sarah baru akan pergi, tapi Dewi menahannya dengan menarik pergelangan tangannya, "Apa lagi?"
"Kita kan belum foto..."
Oh Tuhan, ada kalanya ia merasa kesal dengan sikap orang-orang yang jelas-jelas dulu tidak perduli padanya dan mendadak sok dekat, tapi Sarah tidak bisa menolak sehingga ia akhirnya berfoto dengan Dewi.
"Ketemu sahabat lama..." Ketik Dewi dalam postingan terbarunya.
"Lucu kan caption-nya?"
Sarah hanya bisa mengangguk dan tersenyum malas saat Dewi menunjukkan layar ponselnya sebelum akhirnya pergi memasuki club.
Sarah ingin segera tidur, tapi ia tidak ingin pulang ke rumah orangtuanya jadi ia memilih untuk menginap di hotel.
***
Sarah melemparkan tasnya ke atas tempat tidur lalu membanting tubuhnya ke atas tempat tidur hotel dengan kasar.
Rasanya hampa, dia dikelilingi oleh banyak orang, tapi ia selalu merasa kesepian.
"Sial! Gue belum posting apapun hari ini, semua gara-gara Adam yang udah ngerusak mood gue!" Gerutu Sarah yang kemudian memilih untuk mandi, tapi sebelum itu ia menyempatkan diri untuk berfoto di teras kamar hotel tempat dia menginap dan memposting-nya di aku jejaring sosialnya dengan caption, "Malam yang indah...." Sebuah kebohongan besar.
Setelah itu ia langsung melemparkan ponselnya, membiarkan ribuan notifikasi memenuhi ponselnya sementara ia pergi mandi.
Entah sejak kapan ia menjadi setenar ini? Yang pasti Sarah sangat menikmati semua ini kecuali ketika ia dikelilingi oleh teman palsu.
Selesai mandi Sarah berbaring di tempat tidurnya dengan jubah mandinya hingga akhirnya terlelap.
Dalam mimpinya ia melihat Adam tersenyum dan ia kemudian mencium tangannya setelah resmi menjadi istrinya hingga akhirnya Sarah langsung terbangun karena begitu terkejut.
"Sial! Mimpi buruk sialan!" Teriak Sarah frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya.
Akhirnya Sarah tidak berani tidur lagi karena takut mengalami mimpi yang sama yaitu menikah dengan Adam.
...
Pagi akhirnya tiba dan Sarah langsung check out dari hotel tempatnya menginap karena kedua orangtuanya sudah menerornya dengan puluhan panggilan tidak terjawab.
"Lama gak ketemu, sayang...."
Sarah menoleh begitu ia mendengar suara seseorang yang sudah lama tidak ia dengar. Suara yang tidak pernah ingin ia dengar lagi.
Terlihat Dimas tersenyum padanya padahal Sarah sudah memasang ekspresi dingin, tapi pria itu tetap melangkah mendekatinya namun bodohnya ia malah diam di tempatnya.
"Dua tahun patah hati bisa buat kamu jadi se-glow up ini, ya..." komentar Dimas sambil berusaha menyentuh wajah Sarah namun Sarah langsung menepisnya sebelum Dimas berhasil menyentuhnya.
"Kamu jadi galak... Jangan bilang kamu gugup ketemu aku?" Pria berambut coklat itu masih bersikap tidak tahu malu.
Entah kenapa Sarah menyesal pernah jatuh cinta pada pria ini. Bukan karena Dimas telah meninggalkannya dan menikahi wanita lain, tapi karena tidak ada satupun hal bagus dari diri pria itu kecuali penampilannya.
Oh, bahkan Adam jauh lebih tampan darinya!
Shit, kenapa Adam terus sih?!
"Gila loe ya?" Sarah memekik, ia melampiaskan kekesalannya pada dirinya sendiri yang terus-menerus memikirkan Adam kepada Dimas.
Dimas tersenyum, "Aku gak gila, sayang... Cuma kangen, kamu juga kan?"
"Muntah boleh gak sih?" Sarah memutar bola matanya jengah tanda jika ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan pria b******k yang dua tahun lalu mencampakkannya.
"Gue enggak!" Sahut Sarah dengan tegas sebelum akhirnya melangkah pergi.
"Jangan jual mahal, aku tahu kamu gak bisa move on dari aku buktinya kamu masih sendiri sampai sekarang..."
Sarah seketika mengehentikan langkahnya dan kembali menghampiri Dimas.
"Karena gue terlalu berharga buat ketemu cowok b******k lain kaya loe!"
"Jadi aku begitu membekas?" bisik Dimas membuat Sarah terdiam. "Aku gak masalah kok kalau kamu bersedia, kita bisa main cantik dibelakang istri aku. Dia gak akan pernah tau."
Sekali b******k maka selamanya b******k!
Tanpa ragu Sarah mendorong tubuh Dimas dan membuatnya terjatuh.
"Loe emang membekas, seperti kerak di tempat sampah! Busuk!"
***