"Dari mana aja kamu? Kenapa kamu gak pulang semalam?"
Oh Tuhan, apalagi sekarang?
Rasanya belum hilang rasa jengkelnya karena bertemu dengan Dimas dan sekarang begitu tiba di rumah, ibunya langsung menyambutnya dengan muka marah.
"Aku nginep di hotel mah, aku males pulang," jawab Sarah malas.
"Ya Allah, Sarah... Sejak kapan kamu jadi kurang ajar begini sama mama?" tanya Rahma menahan tangis, tidak percaya putrinya berubah sejauh ini.
"Ya salah mama sendiri. Aku kan udah bilang berkali-kali kalau aku gak akan mau nikah, tapi kalian malah jodohin aku sama cowok antah-berantah kayak Adam."
Rahma akhirnya tidak dapat menahan air matanya karena Sarah bahkan berani membentaknya dan langsung pergi meninggalkannya.
"Sarah dengar mama dulu nak, mama belum selesai bicara sama kamu!" Teriak Rahma sambil berjalan menaiki anak tangga mencoba menyusul langkah kaki Sarah yang melangkah cepat menuju kamarnya, namun Sarah mengabaikan panggilannya dan langsung mengunci pintu kamarnya dan membiarkan ibunya mengetuk-ngetuk kamarnya.
"Sarah... Buka dulu, nak! Mama perlu tahu kamu sama siapa semalam? Kenapa kamu menginap di hotel, nak? Apa nanti kata orang nanti tentang kamu!"
Sarah sama sekali tidak perduli, ia menutup telinganya meskipun ada rasa sesak dalam hatinya karena sudah membuat ibunya menangis, tapi Sarah tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Ia hanya tidak ingin terlalu di atur dengan aturan kolot yang ketinggalan zaman.
***
"Mau kemana lagi kamu?"
Sarah menghentikan langkahnya saat ayahnya memanggilnya.
Sejak pulang, ia memang mengunci diri di kamarnya dan mengabaikan panggilan ibunya yang mengajaknya makan karena masih merasa kesal.
Rendy kemudian melangkah mendekati Sarah dan menatapnya dengan air mata yang tertahan.
"Kamu kenapa sih, nak? Apa yang ngebuat kamu berubah sebanyak ini?" Rendy berusaha berbicara dengan lembut agar Sarah mau mengerti jika sikap mereka kepadanya sebenarnya hanya ingin agar Sarah tidak salah memilih jalan yang akan menyulitkannya di masa depan.
"Gini ya pah, usia aku udah 25 tahun, udah dewasa dan udah bisa membuat keputusan aku sendiri... Aku gak mau nikah, aku udah bilang berkali-kali kalau aku gak percaya sama konsep pernikahan dan cinta."
"Ya Allah, nak... Nikah itu ibadah, cinta itu bisa hadir dengan ketulusan jika kita tahu bagaimana caranya mencintai diri sendiri karena Allah..."
"Aku cinta sama diri aku sendiri pah, tapi aku gak butuh cinta dari yang lain dengan alasan apapun itu."
"Astaghfirullah, Sarah!" Rendy tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, ia menyeka air matanya di balik kaca matanya.
Rahma langsung mengusap d**a suaminya dan menenangkannya, ia tahu jika kondisi suaminya sangat lelah karena semalaman mencari keberadaan Sarah sehingga Rahma tidak ingin kondisi kesehatan suaminya memburuk.
"Kamu mau kemana sekarang?" tanya Rahma yang berharap kelembutan akan melembutkan hati putrinya.
"Mau party dong biar happy," jawab Sarah dengan nada dingin.
"Gak bisa apa kamu gak keluar malam?"
"Gak bisa, Ma. Party udah jadi bagian hidup aku."
Sarah menatap kedua orangtuanya yang terlihat tertekan dan lelah membuatnya merasa bersalah namun ia merasa tertekan setiap kali orangnya menasihatinya.
***
Sebenarnya Sarah tidak ingin berada di pesta lajang yang Dewi adakan, tapi ia sudah terlanjur janji apalagi Mitha dan Doddy juga di undang oleh Dewi. Hanya saja mereka belum datang.
Banyak orang yang mendekatinya, menyapanya dan berfoto bersamanya bahkan memintanya menyapa dalam siaran langsung dijejaring sosial media mereka.
Sangat terlihat jika Sarah adalah primadona, tapi setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka kembali pergi meninggalkannya duduk sendirian di meja bar tanpa meneguk minuman yang di sediakan oleh bartender.
Dalam kesendiriannya, Sarah kembali mengingat bagaimana sikapnya kepada orangtuanya tadi, ia merasa sangat bersalah. Namun, entah kenapa ia selalu merasa marah seperti ia menyimpan bom hati dalam hatinya yang siap meledak kapanpun juga jika ada yang menyinggungnya.
"Hayo loh, ngelamunin apa? Dimas ya?"
Sarah langsung memijat pelipisnya begitu Doddy dan Mitha datang dan langsung membahas tentang Dimas yang membuat api di dalam hatinya kembali berkobar karena kesal.
"Sebenernya gue apa loe yang mantannya Dimas? Kenapa loe seneng banget bahas dia?"
Doddy hanya diam dan tersenyum tanpa rasa bersalah ketika Sarah menjawab pertanyaannya dengan ketus.
"Lagian emang kenapa sih loe sensitif banget? Dimas juga udah mau cerai kok. Gue denger gosipnya Dimas selingkuh," ucap Mitha yang sengaja berbisik ketika ia membicarakan tentang perselingkuhan yang Dimas lakukan.
"Dia emang pria b******k jadi gak usah heran...." Komentar Sarah yang ingin sekali mengatakan pada Doddy dan Mitha jika pagi tadi ia bertemu dengan Dimas dan pria b******k itu berani menawarkannya menjadi selingkuhannya.
Mungkin itu yang membuat Sarah sejak tadi merasa marah karena ia kembali merasa di injak-injak oleh Dimas.
Hal yang membuatnya merasa rendah dan mengikis rasa percaya dirinya hingga membuatnya terpuruk.
"Seru banget sih, lagi ngomongin gue ya?"
Doddy dan Mitha langsung pergi begitu Dimas tiba-tiba datang dan dengan santainya duduk di sebelah Sarah dan meneguk habis champagne milik Sarah tanpa permisi.
Sarah membiarkan minuman miliknya di minum oleh Dimas karena ia memang sedang tidak ingin minum. Ekspresi sedih orang tuanya sebelum ia pergi tadi menjadi salah satu alasannya kenapa ia tidak ingin mabuk malam ini.
"Tempat ini luas kenapa loe milih disini?" tanya Sarah yang tanpa ragu menatap Dimas sinis.
"Karena aku suka deket-deket sama kamu, " bisik Dimas menggoda.
Sarah mendengus mendengar rayuan yang sudah tidak akan mempan lagi baginya.
"Sebaiknya loe jaga sikap, gue udah mau nikah." Akhirnya Sarah memilih berbohong, apapun itu asalkan Dimas pergi dari hadapannya, tapi Dimas malah menertawakannya, "Sarah-Sarah... Kamu selalu lucu. Nice joke."
"I'm so f*cking serious, Dude. Kemarin pagi gue di lamar."
"Oh, really? Tapi kenapa kamu nginep sendirian di hotel semalam?" tanya Dimas membuat Sarah seketika terdiam karena ia sudah tidak bisa lagi melanjutkan kebohongannya.
"Udah deh jangan jual mahal... Hotel ini milik aku, Kamar manapun yang kamu mau aku bisa kasih."
"Gimana kalau di penjara?"
Sekali lagi Dimas menyeringai, ia tertawa lalu menyalakan rokok membuat Sarah semakin benci melihatnya.
"Dari dulu sampai sekarang kamu masih aja sok suci...."
Sarah hanya memalingkan wajahnya, ia kemudian beranjak bangun dari tempat duduknya dan bergegas pergi, tapi Dimas mencekal pergelangan tangannya.
"Gue pasti bisa dapetin itu."
Sarah sudah tidak tahan lagi dengan Dimas apalagi cara pria itu menatapnya dengan cara yang menjijikkan sehingga Sarah tanpa sungkan menepisnya tangan Dimas dan berkata, "F*ck!" Lalu pergi meninggalkan pesta dan juga Dimas yang masih terus memperhatikan langkahnya.
***
Ini adalah rekor tercepat Sarah pulang ke rumahnya karena sekarang masih jam sepuluh malam, tapi sepertinya kedua orangtuanya sudah tertidur sehingga ia langsung pergi ke kamarnya tanpa menemui mereka.
Di dalam kamarnya Sarah menemukan sesuatu, sebuah kotak kecil berwarna biru yang terbungkus pita berwarna emas.
Para penggemarnya tidak ada yang tahu dimana alamat rumahnya sehingga Sarah tidak pernah menerima kado kecuali ketika ia pulang ke apartemennya itupun hanya untuk sekedar berfoto agar orang-orang menganggap ia sudah tinggal sendiri bukan seperti anak manja yang masih tinggal dengan kedua orang tuanya.
Mungkin ini kado permintaan maaf dari kedua orang tuanya yang telah keliru karena ingin menjodohkannya?
Seketika Sarah merasa bersemangat sehingga ia langsung membukanya dan terlihat sebuah benda sederhana seperti sebuah jam tapi sangat kecil hingga hanya muat di pakai di jari telunjuknya.
"Sangat pas..." Komentar Sarah setelah memakainya, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan pantulan cahaya membuat benda itu terlihat berkilau.
"Tombol apa ini?" Sarah menekan tombolnya dan angka muncul pada layar kecil itu, karena tidak mengerti jadi Sarah melihat kembali kotak tempat benda kecil itu berasal untuk mencari kertas petunjuk penggunaan, tapi yang ia temukan malah secara surat.
"Tasbih digital ini semoga membantu kamu dalam bertasbih kepada Allah, semoga kamu suka. Adam." Itu adalah isi dari surat itu.
Sarah sungguh tidak habis pikir, jika sebelumnya ia selalu menerima hadiah-hadiah seperti perhiasan, kalung atau gelang bahkan tas mewah dari pria-pria yang mencoba mendekatinya meskipun ia selalu mengembalikannya, tapi untuk pertama kalinya ia mendapatkan hadiah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan dari seorang pria yang kemarin dengan berani melamarnya.
"Dia emang gila...." Komentar Sarah tanpa rasa kesal, justru ia terus tertawa karena benda kecil yang saat ini melingkar di jarinya sungguh menarik perhatiannya.
Sarah kemudian memfoto hadiah yang Adam berikan dan mempostingnya.
"Kamu pria yang langka...." Tulisnya dalam caption dalam foto cerita yang ia bagikan dan tidak lama ada pesan masuk dan entah kenapa Sarah tiba-tiba membuka pesan itu padahal biasanya ia tidak pernah melakukannya.
"Adam? Gak mungkin ini Adam yang ngelamar gue kemarin kan?" gumam Sarah terkejut setelah membaca nama dari profil orang yang pertama kali mengirimkan pesan padanya setelah ia memposting ceritanya beberapa detik yang lalu.
"Assalamualaikum...." Tulisnya membuat Sarah semakin geleng-geleng kepala.
"Ini pencitraan bukan sih?" pikir Sarah karena ia tidak pernah menerima salam dari pria yang mengirimkan pesan padanya.
Adam memang one of a kind.
"Eh, Tunggu dulu... Gue gak boleh baper cuma karena salam! Tenang Sarah, kendaliin hati dan pikiran loe! Dia cuma lagi pencitraan, itu bener... Pencitraan aja, karena cowo yang sopan dan alim model begitu cuma hidup di jaman dulu apalagi dia lama tinggal di luar negeri! Jangan sampai loe terperangkap, Sar..." Sarah berusaha meyakinkan dirinya yang langsung melepaskan tasbih digital dari jarinya dan pergi menjauh dari benda yang membuat jantungnya tiba-tiba berdebar.
***