Bab 1. Moran Woses
Menjadi satu-satunya pewaris kerajaan dan memiliki sihir dengan mana yang begitu kuat membuat Raja Moran Woses sombong. Dia tak pernah berniat mengalah dengan siapapun. Tapi nilai akademis yang baik dan kultivasi yang tinggi membuat pria satu ini sangat di perhitungan sejak dia pertama kali berada di akademi sihir. Fisik yang sempurna dan wajah yang tampan membuatnya juga sangat istimewa di mata para wanita.
Hingga saat itu, Moran yang masih duduk di bangku akademi, dan belum menjadi Raja, meniduri seorang gadis yang memiliki kultivasi tingkat tinggi. Di dalam darahnya mengalir darah Naga, dan di dalam tubuhnya terdapat batu jiwa yang hanya di miliki penyihir kelas atas. Kini gadis itu tinggal di Istana, dia adalah Alana! teman satu Akademi yang baru saja pindah dari desa menuju dataran Zarfas.
Alana pergi dari kehidupan Moran setelah mengetahui suatu hal. Raja Moran Woses yang hanya menjadikan Alana taruhan bersama penyihir lain pun menolak untuk bertanggungjawab atas bayi yang gadis itu kandung.
Moran tak ingin terpuruk dan menghancurkan keluarga Kerajaan karena menghamili seorang wanita desa yang tidak memiliki darah bangsawan. Pria pengecut itu akhirnya menerima karma.
Tidak ada angin, dan tidak ada hujan! entah darimana datangnya, Alana yang membuatnya gila bertahun-tahun kini berada tepat di hadapan mata. Bola mata sendu penuh kebencian menyeratkan betapa mual Alana pada Moran. Dia membuang wajahnya karena rasa jijik yang tidak tertahankan.
"Kau?" Moran mengangkat alisnya menatap Alana! "Apa yang kau lakukan di istana ini?" Kemudian dia menatap bayi yang ada di dalam kamar tersebut dan melihat kembali ke arah Alana, “Katakan padaku apa yang kau lakukan di dalam istana, Alana?!” wajah Moran terlihat sangat geram, dia seperti ingin menerkam Alana saat ini juga. Dan jelas saja itu membuatnya sedikit takut. “Kenapa kau menjadi bisu? Bukankah kau sangat pandai dalam bicara?! gadis sombong yang angkuh, kau menghancurkan hidupku. Berani sekali kau datang ke istana ini, tidak benar! Apa yang kau lakukan sangat tidak benar dan jelas saja aku tidak bisa menerima ini.”
Gadis tersebut mundur satu langkah saat Moran terus maju ke arahnya. "Jangan mendekat." Ancam Alana. “Anda tahu saya tidak main-main Yang Mulia, silahkan pergi dari tempat ini karena saya tidak ingin bicara pada anda.” Alana terus melangkah mundur, “keberadaan saya di sini tidak ada hubungan dengan anda, Wahai Raja!” Alana tersenyum mengejek dan itu sangat menyakitkan hati Moran. “Tidak di sangka, anda benar-benar menjadi Raja!”
Moran menggangguk, lalu tersenyum, “Itu takdirku!” dengan sombong Moran mengatakan hal itu, "Oke, kalau kau ingin, Aku tidak akan mendekat." Dia tersenyum jahat. Moran mundur satu langkah lalu kembali maju, dan tentu saja itu membuat Alana terkejut. “Hahaha, kau masih saja seperti itu!” tawa Moran membuat Aluna kesal.
"Hah." Alana menghela nafas saat melihat tatapan mata Moran yang berang. “Saya mohon jangan ganggu saya! Yang Mulia tidak berhak terus berbuat sesuka hati! anda menyakiti hati saya."
Moran tersenyum, "Alana! Aku sangat merindukan kau dan anak kita." Moran tersenyum enteng, dia tak peduli dengan apa yang Alana pikirkan. “Tolong jangan menghindar lagi.”
Mendengar kalimat tersebut Alana bukannya senang! Gadis itu malah merasa jijik. "Apa? Anak kita? Apa ingatanmu sudah rusak?! atau kau benar-benar sudah gila?! saya tak menyangka Tanah Zarfas memiliki Raja yang gila, cih memalukan sekali!"
Moran tersenyum pelan sambil menatap wajah anaknya, dia tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh Alana. "Iya, Tidak mungkin anak anjing di simpang jalan." Jawabnya! Dan itu sukses membuat Alana semakin kesal. "Dengar Alana. Jika kau tidak ingin aku merebutnya darimu! Ikuti apapun yang aku inginkan! Jangan pernah mengadu pada siapapun. Kau jelas akan selesai!" Ancam Moran padanya. “Kau sendiri yang bilang kalau aku ini Raja yang gila!”
Hati Alana menjadi cemas karena ulah Moran! Padahal dia sudah berusaha untuk menetapkan dirinya! Dia tidak ingin terpengaruh Oleh pria ini. Dengan sepenuh hati Alana berkata, "Apa ini salahmu? Ataukah ini salah saya? Anda yang dari awal tidak menginginkan anak ini! Bukankah anda yang menganggap saya hanya seonggok sampah?" Alana menatap dengan tatapan sinisnya. ”Di Akademi bahkan anda tidak menatap wajah saya setelah hari itu!”
Moran ingin menutup mulut Alana, "Kau-!"
Tapi saat dia belum selesai bicara tapi Alana sudah memotongnya. "Saya membenci anda sampai ke ubun-ubun! Anda pikir bisa menindas saya seperti ini? Saya bukan Alana yang dulu, dan posisi saya di sini bukan untuk anda tindas, wahai Raja.”
"Hah." Moran berdecak! "Apa kau sedang mengujiku saat ini? Aku tahu seberapa pantaskah dirimu untukku! Atau seberapa pantaskah diriku untukmu. Jangan terlalu banyak celoteh jika kau bukan siapa-siapa di dunia ini." Moran mengangkat bayi itu dari dalam kotak tidurnya. “Ini salah satu akibat jika kau mempermainkan aku.”
Alana panik, dia langsung berteriak sangat kuat. "Lepas! Lepaskan bayiku." Teriak Alana yang tak ingin mengalah. “Anda adalah seorang Raja Negeri Ini, apa pantas anda melakukan ini pada saya?!”
Moran tertawa gila, "Hahahaa... Apa kau pikir bisa memilikinya jika ada orang lain yang tahu? Kau hanya anak yatim piatu yang tak memiliki siapa pun di dunia ini! Aku bisa merebut anak ini melalui Kementerian Kerajaan Sihir. Kau bisa apa Alana? Sampah!" Umpatnya.
Alana tahu, semua yang dikatakan Moran adalah kebenaran! Bodohnya dia baru menyadari semua itu. Gadis yatim piatu sepertinya punya hak untuk memilih! Sayang sekali! "Baiklah! Aku akan menuruti apapun yang kau inginkan. Tapi jangan pernah mengganggu anak saya."
Moran tak bisa menahan senyumnya! "Baiklah! Aku suka sekali caramu yang seperti ini. Sadar diri dan tahu memposisikan dirimu!"
Alana kesal sekali, dia memang tak ingin bicara pada Moran. "Ternyata Anda terlalu banyak bicara. Sekarang katakan apa yang Anda inginkan?! Saya benar-benar muak!"
Moran yang tersenyum membuat Alana semakin kesal dan murka. "Aku menginginkan dirimu. Sekarang buka seluruh pakaianmu. Aku ingin melihat kau menyusui bayi ini! Anak kita!"
Senyum itu sangat menyakitkan bagi Alana. Apalagi saat Moran memandang dirinya dari atas sampai ke bawah, di seolah sedang mencecar diri Alana dan mengoreksi dirinya secara perlahan. Hati Alana sangat kesal, dia hanya menunduk saat ini. Menjadi ahli Sihir bukan pekerjaan yang mudah di dapatkan. Setidaknya dia bisa hidup dengan layak setelah meninggalkan Istana.