"Apa maksud dari pertanyaanmu! Jelas-jelas kau-" Belum selesai Alana melanjutkan kalimatnya pria itu sudah membungkam bibir Alana dengan bibirnya. Dia lagi-lagi memukul d**a Moran dengan kuat tapi pria itu tidak menggubrisnya sama sekali. "Moran, apa yang kau lakukan??" Alana mendorong dengan keras.
Moran terjatuh, dia mengumpat beberapa kali. Moran yang kesal semakin memaksa Alana, tapi itu tidak akan mudah. “Aku akan membuatmu menyesal telah memperlakukan aku seperti ini! Padahal saat beberapa waktu yang lalu kita bertemu kau masih menggunakan ‘Saya dan Anda’, lalu sekarang kau menjadi kasar lagi! Cih, ‘Aku dan Kamu?’ Benar-benar berbisa!”
Alana hanya terdiam, dia berharap Moran tidak melakukan hal yang lebih gila nantinya. Setelah insiden itu mereka kembali belajar seolah tak ada yang terjadi. Sungguh Alana tak merasa nyaman di Akademi ini. Pelajaran habis dan waktunya untuk pulang. Moran langsung berdiri, menyeret Alana di depan teman-teman dan Guru mereka.
Semua orang tampak bingung dengan sikap pemuda itu. Tapi tidak bagi sahabat Moran yang tahu semua, apa terjadi pada pemuda tersebut. Gilanya dia, dan bagaimana dia mengalami hari-hari berat.
Alana memasang wajah marah, "Jangan seperti ini." dia menggertak gigi dengan kesal.
Moran pun memaksa! "Jangan melawanku!"
Alana yang tak ingin mengalah pun menjawab, "Kau tak berhak mengaturku." Alana menendang kaki Moran dan kabur dengan cepat. Dia berlari tidak tentu arah! Ada perasaan lelah di benak, tapi Alana yang masih berusaha untuk mengampuni dirinya sendiri agar tetap bisa berdiri tegap. Dia tidak ingin kalut dan hancur dalam perasaan marah.
Moran mengumpat dengan keras hingga dia tidak lagi bisa berkata-kata. Kalimat dari mulut pemuda tersebut hanya kalimat kotor. Lama berdiri akhirnya seseorang datang mendekati, lalu berbisik bahwa Moran harus kembali ke rumah hari ini. Ada kejutan untuk pemuda tersebut. Awalnya dia tidak ingin menggubris, tapi dirinya memang sudah lama tidak pulang. Pemuda tersebut pergi begitu saja tanpa memberikan jawaban pada manusia yang mendekatinya tadi.
"Antar aku ke Istana."
Pelayan menunduk, "Baiklah Tuan." Jawab pelayan tersebut. “Silahkan masuk ke dalam tandu.”
Tak lama, Moran menginjakkan kakinya di istana dengan tembok yang sangat tinggi! Dia tahu datang kemari akan mendatangkan masalah. Moran dan ibunya akhir-akhir ini tidak cocok sama sekali karena beliau memilih tinggal di luar Kerajaan Zarfas dan membiarkan dirinya di Istana sendirian. Semua itu hanya karena bisnis antar negara! Sedangkan ayah, dia hanya terus membuntuti sang Ibu kemana pun pergi!
Tapi tampaknya. Dia tidak ingin mendengar apapun yang Moran katakan! Buktinya mereka masih terus saja melakukan perjalanan dan menyerahkan tahta seutuhnya.
Seorang pria tua tersenyum dari jauh pada Moran. "Kau sudah tiba ternyata, ayah ingin bicara padamu, Moran."
Wajah Moran langsung berubah menjadi dingin, "Sayang sekali aku tak punya waktu untuk bicara dengan kalian." Jawabnya.
Sang ibu meraih tangan anaknya. Dia menggenggam erat dengan wajah memohon! "Ibu dan ayah melakukan ini karena ini adalah bisnis kerajaan besar kita! Kau lah yang akan meneruskannya, kenapa kau terus saja membuat perasaan kami kacau!"
Moran tak ingin bicara apapun karena dia hanya ingin semua orang mengerti perasaannya. "Kalian pasti sudah merencanakan segalanya! Membuat aku menjadi pewaris dan hidup tersiksa seperti ayah dan ibu! Kalian pikir Aku bodoh. Aku sudah dewasa dan tak menginginkan kerajaan! Aku bukan kultivator yang handal dan begitu banyak penyihir yang berbakat. Kalian bisa meminta mereka untuk menjadi Raja! Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia.”
Plak… wanita tua itu tanpa segan menampar wajah Moran karena kesal, dari tadi dia hanya bicara melantur saja. "Kenapa kau selalu berpikir hal yang buruk? Seharusnya kau sadar jika setiap hal bisa terjadi kapan saja. Baik itu buruk ataupun tidak."
Moran tidak senang karena sang ibu dan ayah asuh hanya memikirkan diri sendiri. “Aku akan melakukan apa saja yang tak kalian suka. Kalian tak akan pernah bisa mengatur hidupku! Bagaimana kalau aku membuat kalian malu? Ini mudah bukan?! seharusnya kita sama-sama hancur. Aku tidak akan pernah hidup seperti kalian.”
“Berhenti bicara Moran, ibu tidak ingin menerima apapun lagi dari mulutmu.” Rasanya beliau tak bisa memberi pengertian pada Moran saat ini. Seharusnya dia mengerti, memperbesar bisnis kerajaan sama dengan melebarkan Kerajaan. Ini adalah bentuk kasih saya mereka kepada Moran. “Jadi kembali duduk!”
Dia yang mulai tak sabar ingin mendengar penjelasan dari kedua orangtuanya. Mereka tak akan membawa seseorang dengan dasar kasihan ke rumah ini. Moran tahu pasti ada sesuatu yang kedua orangtua tersebut rencanakan. Tak ada yang penting baginya saat ini selain penjelasan, sejujurnya jantung Moran pun terus berdebar kencang. “Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?!” Pertanyaan tersebut dari mulut Moran dengan kasar tapi kedua orangtuanya tak begitu menanggapi. Moran tahu jika dia tak sepantasnya durhaka tapi ini sudah keterlaluan. “Apa kalian tidak sadar ini sudah keterlaluan?!”
Kedua orangtua asuh itu membuang wajahnya ke tempat lain. “Kau sudah tahu apa yang kami pikirkan, jadi untuk apa bertanya!”
“Apa?!” dia berdecak kesal! “Kalian benar-benar akan memanfaatkan Alana dan bayi itu sebagai alat untuk mengancam hidupku?! cih, YANG BENAR SAJA!” Moran berteriak dengan kuat.
“Ini bukan tempat untukmu berteriak! Ayah tak ingin menjadi bahan perhatian orang-orang. Mereka tahu siapa kita, lebih baik bersikap biasa saja! Atau kau tahu sendiri apa yang akan ayah lakukan.”
“Mengancam! Hanya itu yang bisa ayah lakukan selama ini! Aku tak bisa melawan ayah karena aku tak ingin menjadi anak durhaka, tapi sayang ayah dan ibu terus mendorongku. Aku tahu menjadi Raja adalah takdir, aku pewaris satu-satunya dari keluargaku! Tapi kenapa kalian tidak bisa baik-baik saja, hah?!”
“Bukankah kami sudah melakukan segala cara? Yang kau ucapkan barusan sudah kami lakukan bertahun-tahun yang lalu, dan apa hasilnya?!” ucap Ayah Asuh Moran.
“Ibu tak tahu apa yang kau inginkan dalam hidup ini. Lexi kurang apa?! dia baik dan cantik. Lalu Kerajaan kita? Kau tak perlu membangun dari bawah seperti kami, kedua orangtuamu dan para Rakyat. Tinggal jalani saja, kenapa masih berpikir ingin lari dan meninggalkan semua yang sudah di perjuangkan?!”
Wajah Moran kembali berubah! Dia menghela napas sangat berat mendengar perkataan sang ibu. “Jadi kalian kembali memonitor hidupku?!”