Bab 5. Raja berhati lemah

1012 Kata
“Kau pewaris satu-satunya Moran. Apalagi yang bisa kami lakukan untukmu? Kerajaan ini milikmu dan kau tak bisa membantah segalanya. Ibu yang mengambil ide untuk memungut wanita itu. Apa kau tak tahu dia dan anaknya hampir mati karena hamil dan melahirkan dalam keadaan kurang gizi?!” Moran pun meremas tangannya, dia terdiam sejenak menatap wajah ibunya. “Ya, kau berhutang pada kami!” jawab sang Ibu sembari mengelap mulutnya yang baru saja memasukkan potongan terakhir.  "Apa aku tak salah dengar?!"  Ibu asuh Moran menatap wajah Anaknya lagi. “Ibu harap batalkan semua rencanamu! Sebaiknya kau lebih banyak bersyukur Moran. Bisa makan enak dan hidup tenang di saat orang lain harus bekerja siang dan malam sembari menggendong anaknya. Dan kau dengan mudah naik ke singgah sana tanpa banyak pengorbanan! Coba pikirkan jika kau melakukan semua hal sesuka hati, Dewa akan murka! Lalu rakyat akan menerima akibat dari perbuatan yang kau lakukan.” Moran masih kesal, dia membuang wajahnya lalu berkata dengan sangat kasar! “Cih, kalian benar-benar pasangan yang sangat cocok! Aku sangat sadar bicara dengan kalian itu percuma. Semua yang kalian inginkan, hanya hal yang tidak bisa aku penuhi. Aku tidak sanggup berada dalam ruang lingkup ini.” Moran berbalik, dia berjalan menjauh dari tempat tersebut. Dia tak ingin terlalu banyak bicara lagi karena kekalahan sudah menjadi miliknya. Langkah pria tersebut gontai seolah nyawanya tak ada di tempat yang sama dengan tubuh tersebut. Pandangan mata Moran kosong! Dia tak bisa berpikir dengan jernih, hanya kudanya saja yang berjalan dengan cepat menuju rumah seseorang, dia Jin. Teman baik yang sudah Moran anggap sebagai saudara. Dia juga satu-satunya orang yang Moran percaya selama ini. Tapi sayang semua itu percuma karena sudah di hancurkan berkeping-keping. Kau tega sekali melakukan ini padaku, Jin! Padahal aku sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Alana tapi kau malah merusak Suara bel berbunyi dan pintu terbuka. Jin masih menggunakan handuk kecil yang melingkar di pinggang. Pada kenyataannya pria itu baru saja melakukan seks di Paviliun ini. “Moran, apa-” Bugh, pria itu belum selesai melanjutkan pertanyaan tapi tubuhnya sudah terjatuh di lantai. Hidungnya mengeluarkan cairan merah. Sepertinya hidung Jin sudah patah karena ulah Moran. Dengan cengkraman yang kuat Moran berbicara tepat di depan wajah Jin. “Kau mengkhianati aku b******k?! berani sekali kau melakukannya! Dia hampir mati bersama bayinya karena kelaparan, apa aku tak salah dengar, hm?!” Jin langsung melebarkan matanya dengan terbata dia berkata, “A, aku minta maaf Moran. Saat itu uangnya aku pakai untuk-” “Untuk bermain judi! Bermain dengan para wanita dan melakukan apapun yang kau suka tanpa memikirkan orang lain?! Yah, itulah Jin yang aku kenal selama ini. Pria b******k yang selalu memohon untuk di percaya. Jelas sekali aku melakukan kesalahan karena sudah mempercayai dirimu.” “Moran maafkan aku, aku sungguh minta maaf! Aku salah Moran, aku minta maaf!” Saat ini Moran tak bisa melakukan apapun, hatinya sudah sakit karena kenyataan tak seperti yang dirinya pikirkan. Napas pria itu menderu karena di kelilingi manusia yang tak bisa di percaya. Moran dengan emosi memukul sekali lagi wajah Jin, dia berteriak sangat kuat! “Aku benci saat kau meminta maaf Jin.” Dia pergi begitu saja karena melihat wajah Jin hanya membuat dirinya sakit hati. Pikiran Moran melayang, dia tak tahu harus bagaimana menghadapi Alana. Moran pikir dia akan hidup sangat bahagia saat ini. Sayang semua itu tak terwujud sama sekali. Pria ini kembali mengumpat! “Ah Anjin-g! Haruskah aku hidup seperti mereka?!” Moran menghela napas jika mengingat kedua orangtua asuhnya! “Mereka memaksa dengan cara seperti ini!” teriaknya lagi. Lama, Moran terdiam di tempatnya, dia menghela napas berkali-kali dan mengirimkan pesan pada orang kepercayaannya. “Salam, Tuan!” Panggilan Moran di sambut oleh asisten pribadinya. “Tolong batalkan pembelian senjata! Aku berubah pikiran.” “Ah, iya Tuan! Baiklah.” Panggilan tersebut kembali terputus. Rasanya Moran tak punya nyawa saat ini. Orangtua asuh memanfaatkan keadaan Alana dan Moran tak bisa melakukan apapun karena semua yang sudah dia lakukan untuk Alana pada kenyataan tak pernah sampai selama ini. Moran menjalankan kuda kembali ke Istana. Dia tahu kedua orangtuanya akan berangkat ke Negeri Liang hari ini, meninggalkan dia bersama Alana. Menjadikan wanita ini titik kelemahannya. Moran benci keadaan ini! Dia mengumpat, dan tepat setelah itu saat Moran sudah sampai di pintu Istana dirinya melihat Alana di depan mata. “Apa yang kau lakukan Alana?!” Moran merebut kain basah yang ada di tangan Alana. Dengan menghela napas Alana berkata. “Pelayan di Istana anda ini untuk beberapa saat pergi ikut orangtua anda Tuan. Jadi saya yang akan menggantikan sementara waktu. Saya hanya membersihkan kamar tidur anda, memeriksa makanan dan merapikan.” Mata Moran membulat, dia terkejut sekali mendengar apa yang Alana katakan. “Apa?!” Moran tak suka mendengarnya, dia langsung mengambil Ble untuk menghubungi sang ibu, melalui kaca itu dia bertanya. “Kau benar-benar ingin mengancam diriku?! apa ini terlihat begitu mudah bagimu?!” Alana yang melihat aksi Moran pun berteriak, “Stop Tuan, saya yang menawarkan diri.” Alana menunduk. “Biarkan saya mengerjakan semua pekerjaan Istana Raja ini, saya ingin mengumpulkan uang. Saya mohon Tuan jangan menghilangkan sumber uang kami.” “Wah, kau kembali menjadi sopan lagi ya!” “Tuan, jangan seperti ini! Kami memohon pada anda!” Sakit dan sesak napas, Moran pun langsung naik ke lantai dua menyusuri anak tangga tergesa-gesa. Pria itu menepuk-nepuk tubuhnya dengan kuat, hingga sampai ke pintu kamar! Moran pun membuka cepat dan menutupnya hingga seperti orang membanting karena marah. “Uhuk-uhuk!” Moran terbatuk karena terlalu kuat memukul tubuhnya. Napasnya menderu hebat! Tangan Moran mencengkram kuat pakainnya. Dengan cepat pria itu pun mengirim sebuah pesan. “Aku akan mengikuti apapun yang kalian inginkan, lepaskan Alana.” Di dalam perjalanan Ibu asuh Moran menerima pesan dan tersenyum, “Kalau dia ingin pergi Ibu tak akan melarang. Sayangnya dia baru saja menerima pekerjaan dengan gaji 10x lipat." “Ah…” Moran bersandar pada dinding setelah membacanya. “Apa yang harus aku lakukan, hah?! di jarak yang berkilometer aku masih sangat merindukan dirinya. Apalagi sedekat ini?! aku tidak tahu harus bagaimana!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN