Bab 6. Guru Besar Dongza

1011 Kata
Setelah hari itu. Hampir dua minggu Moran tak kembali ke Paviliun Naga. Perasaannya sangat kacau jika melihat Alana sangat kuat. Apalagi jika Lixi mengetahui keberadaannya, Moran tak bisa berpikir jernih dan menentukan titik terangnya. Tapi hari ini dia harus kembali ke Paviliun Naga, tak banyak yang ingin Moran lakukan. Dia rindu Alana secara tiba-tiba pagi ini dan menginginkan dia. Moran sudah berusaha menahan diri tapi Alana memiliki magnet tersendiri di dalam hidupnya. Pintu terbuka, ini masih sangat pagi. Mata Moran mencari keberadaan Alana, tapi tak ada satu pun manusia di sana. Karena Alana sudah mengambil semua job kecuali pekerjaan taman, akhirnya Moran mendatangi pria yang tengah memperindah bonsai. Mana tahu dia bisa mengatakan pada Moran keberadaan Alana. “Apa kau melihat wanita dengan bayi di rumah?!” Pekerja kebun itu tersenyum, “Nona Alana sedang ke Tabib terdekat untuk melihat kesehatan rutin bayinya.” Moran mengangguk, “baiklah kalau begitu! Aku hanya bingung karena tak ada orang di Paviliun Naga. Tak ada makanan juga di sana.” Tukang kebun tersebut tersenyum kembali, “Tuan, Nona selalu masak untuk anda. Namun anda tak pernah datang untuk makan jadi dia berhenti memasak untuk anda di tiga hari berikutnya.” Moran merasa malu karena tukang taman ini terus tersenyum padanya, tapi Moran tak tahu apa isi hati pria ini. “Kau terlihat sangat tampan untuk seorang tukang kebun. Aku bahkan baru sadar memiliki tukang kebun sangat muda seperti ini.” dia tersenyum, “Saya memang baru masuk satu bulan ini Tuan, saya dan Nona Alana tinggal di rumah anda hanya berdua. Jadi kami saling membantu dan tak bisa jika harus di pisahkan.” Moran mengerutkan keningnya, “Apa yang kau katakan?! apa kau bermaksud menyatakan kalau kalian sangat cocok?!” Wajah tukang kebun itu terlihat sangat terkejut!“Tuan, maafkan saya.” pria itu menunduk. “Saya tidak bermaksud berpikir kotor.” Moran menatap dingin, wajahnya terlihat sangar! “Siapa namamu?! jangan menunduk, karena aku ingin mendengarnya dengan jelas.” hatinya penuh tanya pada pemuda di hadapannya. Dengan menunduk dia menjawab, “Saya Rayen Tuan, saya lulusan akademi ternama di kota ini. Saya memilih bekerja di Paviliun Naga anda karena gaji yang saya terima 10 kali lipat dari gaji di tempat biasa. Daripada itu saya mohon anda bisa menerima saya dengan lapang dada.” Moran heran melihat tingkah pria bernama Rayen ini. “Terserah kau saja, tapi ingat batasan yang ada. Jangan sampai membuat aku tak suka padamu. Lagipula masih banyak ahli yang bisa mempercantik taman ini.” Sebenarnya Moran curiga Rayen adalah orang suruhan kedua orangtua asuhnya. “Saya tentu akan mengingatkan diri sendiri untuk permasalahan yang anda katakan. Terimakasih karena mau menerima saya. Di sini saya akan sangat senang karena Nona Alana selalu membantu.” Moran semakin menegang karena sejak tadi Rayen selalu menyebutkan nama Alana, apa dia menyukai Alana? Hanya itu yang ada di pikiran Moran saat ini. Aku tak bisa membiarkan Alana bahagia bersama pria lain, bayi itu milikku. Jangan sampai si gila Rayen benar-benar melakukan tindakannya, dia seperti pria yang sedang jatuh cinta. Moran pun meninggalkan Rayen, dia melangkah masuk! Tanpa dia sadar dia membuka pintu, Moran yang masih dalam lamunan terkejut saat melihat sepasang kaki bersih nan mungil berada di hadapan dirinya. Sepasang kaki yang pernah dia hisap dengan lembut di setiap jemari. “Yang Mulia.” Moran mengangkat wajahnya menatap Alana yang baru saja memanggilnya. Dia berusaha menormalkan diri dan bersikap sangat santai. “Ada apa?!” suara itu terdengar sangat emosional, padahal Moran tak bermaksud seperti itu tapi kalimat yang keluar dari dirinya tetap saja kasar. “Saya hanya memanggil anda saja karena melihat anda termenung! Ada apa Yang Mulia, anda sudah sangat lama tidak pulang.” Moran menahan senyum karena kalimat Alana seolah merindukan dirinya. “Apa kau merindukan aku?! aku senang sekali mendengarnya. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam lebih dahulu?!” Alana menjadi kikuk, “Saya bertanya karena tak ingin membuang makanan, saya bingung jika anda tak memberi kabar pulang atau tidak. Lain kali jika anda tak kembali tolong kabari saya, sekarang saya akan menyiapkan makan siang anda, Yang Mulia.” Moran tersenyum, lalu dia merasa ada yang hilang. “Bayinya?!” “Maksud anda anak saya?! sekarang saya belum membuat akta kelahirannya jadi anda bisa memanggilnya Ib saja.” Alana bersikap sangat santai dan tentu saja Moran tak suka. Pria ini lebih senang ketika Alan ketakutan menatap dirinya seperti waktu lalu. “Apa kau benar-benar bisa sesantai ini denganku?! kenapa tak berbuat sesuatu yang bisa menyenangkan aku sekarang?! tidurkan anakmu dan siapkan air hangat untuk aku mandi.” “Jika menungu Ib tidur maka akan memakan waktu cukup lama Yang Mulia, lagipula dia tak rewel sama sekali. Jadi anda tak akan terganggu olehnya. Biarkan saya tetap membawa Ib.” Moran malas berdebat dia berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Alana yang menggendong anaknya. “Saya permisi masuk, Yang Mulia.” tunjuk Alana pada pintu kamar mandi Moran. “Letakkan bayimu di atas ranjangku, aku tak ingin membiarkan kamar mandi itu bau bayi.” Merasa tak enak Alana pun menuruti apa yang di inginkan Moran, dia pun meletakkan Ib di atas ranjang pria itu dan mulai merapikan kamar mandi Moran. Dulu Alana sangat senang melihat kebersihan pria ini. Dia tak maniak tapi juga tak terlalu membiarkan hidupnya berantakan. Wajar saja jika tubuh Moran selalu wangi, lihat saja apa yang dia gunakan pada tubuhnya. “Alana, kau masuk kembali ke Akademi untuk apa?! kau seperti hantu yang muncul dalam hidupku secara tiba-tiba. Lalu saat kau di Akademi, dimana Ib?!” Alana tidak ingin menjawab pertanyaan Moran. “Yang Mulia, saya bisa mengurus hidup sendiri.” Moran yang mendengar itu berusaha untuk tetap acuh atas sikap ketus Alanas. “Apa Guru Besar Dongza yang memanggilmu?!” pertanyaan itu membuat Alana menghela napas. “Ya, pasti Guru Besar Dongza!” jawabnya sendiri. Alana tak lagi menggubris, dia lebih memilih memikirkan hal yang lain. Alana tersenyum tipis ketika menghitung harga sabun hingga shampo yang pria itu gunakan. “Ah.” Alana terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang, “Yang Mulia lepaskan saya! Jangan seperti ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN