Bab 7. Paviliun Naga

1019 Kata
“Kenapa? Semua yang ada di Istana ini adalah milikku!” pria itu membuka kancing pakaian Alana dari atas. “Yang Mulia, jangan, Ib dia-” Moran mendekatkan diri, lalu berbisik. “Bayi kita sudah tertidur sayang?!” tangannya mulai mengelus tubuh Alana, “Aku menginginkan dirimu sekarang! Apa kau juga menginginkan diriku?!” dia bertanya lembut, hingga membuat Alana bergindik geli. Alana gugup, “Hah?!” dia berusaha melepaskan diri dari Moran tapi pria itu semakin kuat mengepitnya. Dengan susah payah Alana menggerakkan tubuhnya, berjalan ke arah pintu di saat Moran masih asyik mempoloskan dirinya. Mata Alana terbuka lebar, benar yang dikatakan Moran, Ib sedang mendukung ayahnya hingga dia kini terlelap dengan sangat mudah padahal dia bayi yang sulit untuk tidur. “Hey, Alana, kenapa kau melihat ke arahnya terus?! lihat aku Alana.” Moran menarik tubuh Alana hingga wanita itu menatap mata Moran. “Aku pulang karena menginginkan dirimu!” Moran mendorong Alana ke dinding, tanpa aba-aba dia menghisap puncak kenikmatan Alana dan memasukkan miliknya yang sejak tadi menegang secara tiba-tiba. “Ah, Yang Mulia.” Alan membuka mata lebar karena sangat terkejut, “Yang Mulia.” “Panggil aku Moran. Panggil aku seperti biasa, karena kita akan selalu bersama Alana. Kau tidak akan jadi pelacurku selamanya, tunggu waktunya tiba, setelah Permaisuri naik tahta, kau akan aku jadikan Selir utama di Paviliun Naga. Aku sangat menginginkan ini sampai hampir gila.” Alana menggeleng, “Akh…” Alana sangat lega saat Moan mencabut benda keras miliknya. “Hah… Ampun Yang Mulia.” Moran menyunggingkan senyum, “Aku sangat suka bercocok tanam denganmu.” Alana kembali berteriak saat Moran memasukkan kembali senjata tumpulnya. “Apa kau suka?! desahanmu masih sama.” Alana memukul tubuh Moran, tapi sungguh itu tidak berpengaruh bagi dirinya. “Lepaskan saya Yang Mulia, kenapa anda melakukan hal ini pada saya?! lepas!” Alana bermaksud mengeluarkan mantera sihirnya. Tapi dengan cepat Aron menyambutnya. “Kenapa anda menahan tangan saya, Tuan!” Moran terkekeh, “kau pikir aku bodoh, kau menggunakan sihir di saat seperti ini! Aku tidak akan membiarkannya!” Moran tetap memaksa masuk dirinya walaupun Alana terus bergerak menghindari Moran. “Hahaha, apa ini?! cukup nikmat ternyata! Kita seperti main kuda-kudaan.” Milik Moran tetap keluar masuk sembari berjalan mengikuti Alana dari belakang. “Ak, ak! Hahahaa…” Rasanya Alana ingin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu. Apalagi saat ini tubuhnya begitu polos tanpa sehelai benangpun. “Hentikan suara itu Yang Mulia, tolong!” Alana benar-benar malu dengan tingkah Moran yang di sengaja seperti itu. “Baiklah, kita akan menyelesaikan ini dengan baik-baik! Anda mengikuti saya sembari melangkah! Kita pasti terlihat konyol, Yang Mulia.” “Aku suka terlihat konyol denganmu, lagipula aku sangat menikmatinya, Akh!” Alana mengerutkan kening, rasanya pinggang wanita itu kini ingin lepas dari tempatnya! Moran sama sekali tidak peduli saat dirinya meringis berkali-kali karena ulah gilanya.  Moran sudah puas! dia tertidur sangat lelap. Bayi mereka Ib berada di tengah-tengah mereka. Perlahan Alana melangkah mundur tak ingin mengganggu tidur pulas pria tersebut. Dia tidak tahu bahwa Moran masih terjaga sejak tadi karena miliknya masih menginginkan Alana. “Apa kau akan kembali ke kamarmu secara diam-diam. Oh Alana, kau mengerikan sekali. Meninggalkan aku setelah apa yang kita lakukan satu jam yang lalu. Padahal teriakan dirimu masih terasa di telinga ini, menurutmu aku harus bagaimana?!” Alana tergagap tiba-tiba. “Apa yang anda katakan Yang Mulia. Kita melakukan ini berdasarkan suka sama suka. Saya merasa ini adalah pemaksaan, Tuan. Jadi jangan lakukan apapun lagi pada saya!” Sembari memeluk Ib, Alana berjalan dengan cepat hingga tubuhnya tak sengaja menumbur tubuh Rayen yang sedang lewat. “Ada apa Alana?! kenapa kamu berjalan dengan buru-buru?! apa ada yang salah?! cepat katakan padaku apa yang terjadi.” Alana bingung, “Rayen, maaf ya, tapi tidak ada apa-apa. Saya hanya lupa memasak nasi untuk Ib, padahal hari sudah mulai malam. Maaf sekali karena saya, Rayen juga bisa terlambat makan.” Rayen merasa kasihan pada gadis dengan satu anak ini, “Alana, biar aku yang menjaga Ib, semua sudah selesai aku kerjakan. Kami akan bermain di taman, sedangkan kau akan melakukan pekerjaan dengan cepat. Lagipula di Paviliun ini tak ada siapapun kecuali Yang Mulia dan kita.” Alana awalnya ragu, tapi akhirnya dia setuju sekali karena Yang Mulia akan segera makan malam. Sedangkan saat ini belum ada yang Alana siapkan. Sebenarnya dia tak habis pikir kenapa dapur istana di larang utuk membuat makanan sang Raja, padahal ini adalah tugas mereka. “Baiklah, terimakasih sebelumnya. Saya akan berusaha untuk lebih cepat menyelesaikan pekerjaan. Sejujurnya ini sangat membantu.” Senyum Alana kepada Rayen sudah membuat seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua mengamuk. Dia tak berhenti mengumpat karena perasaannya yang kacau. Alana adalah miliknya, jadi bagaimana mungkin dia sanggup melihat ke romantisan mereka. “Telur, sayur, daging. Apa Moran masih suka makan ini?! aku buat saja untuknya.” Alana memilih bahan masakan untuk makan malam Yang Mulia ketika dia bangun nanti. Dia tak tahu jika sang Tuan kini sedang mengintai sang putri bersama Rayen. “Apa yang membuat anda kemari Tuan?!” “Menurutmu Apa, Rayen?! tentu saja menikmati senja ini. Taman yang kau buat tak terlalu indah. Padahal baru tadi kau sampaikan keahlianmu dalam bidang ini. Apa kau tak terlalu yakin dengan kemampuan dirimu sendiri?!” Moran memetik daun tanaman bonsai yang terlihat indah berbentuk Naga, tapi tak ingin dia akui. Tapi jujur saja itu tetap tak membuat Moran puas. Rayen tersenyum tenang, “Yang Mulia, apa anda ingin saya melakukan hal yang lebih baik daripada ini?! saya akan merombak lagi taman ketika berumur satu bulan. Beri saya kesempatan Yang Mulia.” “Aku tak suka, jadi aku merasa kau tak cocok bekerja disini. Bagaimana kalau mulai hari ini kau berhenti saja bekerja.” Moran menatap Rayen, dan pria itu terdiam seribu bahasa. Rayen yang tak bisa memahami kesalahannya pun memohon dengan suara gugup. “Yang Mulia, saya janji akan memperbaiki semuanya. Saya minta maaf karena tak bertanya dengan anda. Orangtua anda meminta sesuatu yang bijaksana terlihat di taman ini. Maka saya membuatnya sepenuh hati, Maafkan saya Yang Mulia. Tolong berikan saya kesempatan satu kali lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN