Bab 8. Lexi Rose

1006 Kata
Moran membuang wajahnya, sesjujurnya tak ada yang salah dengan hasil kreativitas Rayen. Tapi karena pria ini terlalu kesal dengannya, maka terjadilah ini. Semua terlihat tak enak bagi hatinya. Bahkan Moran merasa tak suka saat melihat wajah Rayen. “Baiklah, Aku akan memberikan dirimu kesempatan satu kali lagi. Biar semuanya semakin membuat aku senang, tolong rubah kosepnya dan ajukan terlebih dahulu padaku. Karena Paviliun Naga ini adalah tempat paling pribadi di dalam istana ini untukku.” Mata Rayen sangat senang. “Baik Yang Mulia, terimakasih. Saya sangat senang dengan kesempatan yang anda berikan. Saya akan berusaha semaksimal kemampuan yang ada pada diri saya.” Moran mengangguk, ternyata dia masih memiliki rasa iba. “Coba kau rapikan dulu di bagian sana, aku sangat tak suka dan membuat hati ini gelisah.” Rayen terlihat bingung. “Saya-” Rayen ingin mengatakan saat ini sedang menggendong bayi Alana. “Yang Mulia, saya-” “Berikan bayi itu padaku dan kau kerjakan apa yang aku minta sekarang.” perintah Moran. “Perhatikan semua dengan benar!” “Tapi-” Moran berdecak kesal, “Aku ingin menyegarkan mata, cepat lakukan saja apa yang aku inginkan. Bukankah kau yang ingin aku menilai dirimu dengan benar?! padahal jelas-jelas ini buruk sekali.” “Ah, tolong pegang Ib, Yang Mulia. Saya akan melakukannya sekarang juga.” Ah gila, bisa-bisanya dia sangat santai saat menyebut nama anakku, aku benci sekali sampai ke ubun-ubun. Aku tak pernah menyangka bahwa sangat dekat dengan Alana. Bahkan wanita itu lebih percaya pada si tukang kebun daripada diriku. Cih, aku ingin mengumpat langsung di wajahnya tapi kemana harga diri ini akan berlabuh. Oh lihatlah dia, perasaannya dia pria yang sangat tampan. Dia sengaja bergerak seperti itu agar semua otot terlihat jelas. Bahkan dia sangat pandai memutar gerakan tubuhnya agar wanita bernafsu. Apa yang kau inginkan dari Alana dan anakku?! apa kau ingin merebut mereka dariku. Ah… pria ini membuat aku sangat marah sekarang. Apa aku harus membuat Ib mengencingi wajahnya. Dia terlihat sangat ingin memancing kemarahan. Alana kau dan Rayen tidak akan bisa bersama! aku bukan pria bodoh yang bisa kalian tipu! aku ini Raja Negeri Zarfas! Moran berdecak sendiri sejak tadi, dai ingin memaki tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk dirinya. Hampir setengah jam Rayen merapikan taman yang berada di sudut kanan Moran. Kini semuanya terlihat berubah, kinerja Rayen sangat bagus jika tak di campur rasa cemburu yang berlebihan. “Bagaimana Tuan?! saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Ini adalah hasil perombakan yang terinspirasi dari senja dan anda.” Perfect! tapi sorry itu hanya di dalam hatinya. Tak mungkin Moran memuji musuhnya. “Aku merasa sedikit senang dengan kinerjamu.” Saat mereka sedang sibuk bicara terdengar suara Alana yang bersemangat. “Rayen, ayo!” Kedua pria itu sedang berbicara. Alana yang tak tahu bahwa ada Moran juga di sana hanya bisa bungkam dan terkejut. Dia meremas jarinyanya, “Yang Mulia!” Alana tak bisa mengatakan apapun saat ini karena bibirnya kelu saat melihat anaknya berada dalam gendongan Moran. “Berikan Ib pada saya.” wajah Alana berubah ketakutan. Moran juga bingung menatap wajah Alana seolah dia monster. “Apa yang kau pikirkan Nona?! apa kau menganggap aku ini monster pemakan bayi?! cih yang benar saja! Tanganku juga lelah menggendong anakmu.” Moran segera memberikan Ib pada Alana dan meninggalkan mereka begitu saja. Rayen merasa tak enak sekali padahal dirinya yang berjanji untuk menjaga Ib, tapi sungguh ini semua di luar perkiraannya. “Alana, aku minta maaf. Tadi Yang Mulia ingin aku merapikan taman sekali lagi. Aku terpaksa dan Tuan juga yang menginginkan untuk menjaga Ib sementara. Sungguh aku tak bermaksud apapun. Aku tak berniat membuat dirimu tak nyaman.” “Rayen, saya tak marah. Saya juga minta maaf karena sudah membuat anda dalam posisi sulit. Tapi jujur saja saya sangat senang ketika anda berusaha untuk menolong saya. Besok saya akan usahakan agar Ib tak mengganggu pekerjaan. Dia bayi yang sangat penurut, hanya saja saya tak menempatkan posisi waktu tidur dengan benar." Hidup Alana sangat membaik sejak bekerja di Paviliun Naga milik Moran. Hanya saja mereka tak bisa seperti ini terus. Moran masih saja mencuri kesempatan di setiap momen. Alana merasa gelisah karena dia sangat membutuhkan pekerjaan yang mendapatkan banyak uang. Dan Alana sudah berjanji pada orangtua asuh Moran untuk menjaga Paviliun Naga ini. Walaupun pada awalnya semua ini terlihat aneh. Mereka hanya bilang begitu banyak orang yang ingin menyakiti Moran, lalu akan sangat sedikit orang yang bisa di percaya. Alana takut dirinya yang di salahkan atas semua yang Moran lakukan. Dia tak punya banyak hal yang di inginkan kecuali ketenangan. Tapi sayang Moran tak ingin memberikannya. “Aku akan makan malam sekarang,” ucap Moran menghilangkan lamunan Alana. “Semoga masakanmu tidak mengecewakan!” Alana hanya terdiam, dia tidak ingin membuat masalah lain. Tak lama, suara hentakan kaki terdengar sangat jelas di sela-sela makan malam Moran. Alana yang masih ada di dapur berusaha untuk tidak begitu cemas. Walaupun dia tahu Lexi akan berteriak saat melihat dirinya. Dia sangat yakin bahwa itu suara dia, dan pas ketika Lexi berteriak memanggil nama Moran, Alana pun semakin yakin. "Moran, apa yang kau lakukan saat ini?! Kenapa tak membalas pesan dariku?! Aku melakukan panggilan seperti orang gila, dan kau malah mengabaikan aku." Moran tak menjawab, ujung matanya terus memperhatikan ke arah Alana yang sejak tadi berada di dapur. Moran memejamkan matanya tenang saat melihat tak ada lagi Alana di sana. Moran bukan khawatir pada Lexi Rose, tapi dia takut pada Alana yang pastinya akan di habisi oleh calon permaisuri ini. Lexi bukan wanita yang bisa di ajak kompromi. Dia selalu bertingkah gila jika tak suka dengan sesuatu yang terjadi. "Kenapa kau kemari?!" Moran bersikap seperti biasa. Dia dingin dan tak ingin banyak bicara pada Lexi. Wanita tersebut sudah cukup membuat dirinya gila. Moran tak mengangkat wajahnya, dia masih berusaha mengunyah segalanya dalam damai. "Apa kau pikir aku tidak tahu?!" Moran menegakkan tubuhnya, pelan dia meletakkan sendok dan garpu. Dalam hati Moran meracau karena takut orangtuanya sudah memberitahu Lexi. "Lalu kenapa?!" Mata Lexi yang bulat dan besar menatap Moran. "Kenapa kau melihat aku seperti pencuri?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN