LaD -
Menjadi seseorang yang bisa mengambil hari dengan santai dan menghabiskan waktu hanya untuk rebahan setelah mendapatkan apa yang kita perlukan memang sesuatu yang luar biasa.
Seperti halnya gue. Terlahir di lingkungan yang tidak sehat membuat gue memilih untuk menghargai diri sendiri dengan segala hal yang sudah gue lakukan.
Setelah bekerja keras, maka hal yang paling nikmat untuk memanjakan diri adalah dengan bersantai. Melepas semua topeng yang melekat dan berbaring di bawah trik mata hari benar-benar sesuatu yang luar biasa.
Mungkin hal sekecil ini sering gue lupakan di kehidupan sebelumnya, di mana gue selalu menghabiskan waktu di dalam rumah.
Dan ... Gue baru sadar ketika merasakan cahaya matahari terasa begitu nyaman seperti saat ini, belum lagi hembusan angin yang membelai kulit gue dengan manja.
Tunggu dulu ... Gue terkekeh pelan ketika menyadari saat ini gue sama sekali melepas bentuk werwolf yang selama ini melekat di tubuh gue dan membiarkan kerangka putih bersih terlihat begitu saja. Tentu, bukankah gue baru saja mengatakan jika gue sudah melepas semua yang ada di badan gue?
Jika kalian berpikir gue melepas pakaian, maka kalian salah, karena pada kenyataannya gue hanya melepas bentuk lain dari diri gue dan mengambil bentuk pertama ketika gue lahir. Yup, gue hanyalah seorang tengkorak hidup yang bisa bertahan dari lingkungan keras ini, aneh bukan? Tapi itulah kenyataannya, dan entah kenapa gue malah merasa nyaman dengan kondisi ini, terlebih saat udara seger membelai seluruh bagian tubuh dengan begitu mesranya.
Astaga, gue malah jadi ngantuk, tapi untuk terlelap sepertinya akan sulit, apalagi saat ini pikiran gue masih melalang buana dengan segala hal yang seolah menyeruak untuk keluar.
"Huft...." Menghela napas malas, gue memilih beranjak dsri Hancock yang gue buat dari jaring laba-laba milik gue, bukan masalah sulit asal segala hal mendukung dengan kondisi hang ditentukan, jadi nggak masalah aja gitu urusan begini.
Sejenak gue berdiri, menatap hamparan hijau di depan mata, tempat ini masih sangat asri dengan kondisi yang masih sejuk tanpa ada campur tangan dari manusia murka yang serakah seperti yang ada di bumi.
Entahlah, mungkin jika keserakahan udah mulai muncul di negri ini, ada kemungkinan jika kerusakan di dunia ini akan terjadi. Karena kerusakan sebuah tempat tinggal berawal dari sebuah keserakahan.
"Ngomong-ngomong .... Gimana sama kerjaan mereka ya?" Gue bergumam sebentar sebelum akhirnya mengambil bentuk werwolf milik gue dan membuka gerbang teleportasi untuk menuju ke tempat di mana Silvana dan para orge yang lain tengah membuka lahan untuk tempat tinggal mereka.
Memang membutuhkan waktu yang sangat lama hanya untuk membuka sebuah lahan, tapi berbeda dengan di dunia ini, di mana hampir setiap orang memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, dan lagi, tidak hanya satu atau dua orang saja yang turun tangan membuka lahan. Melainkan ratusan orang yang langsung turun tangan.
Benar-benar memudahkan untuk mencapai tujuan, yah walau untuk sementara mereka membuat rumah sederhana setidaknya masih ada tempat untuk berlindung malam ini. Gue sendiri nggak terlalu ambil pusing untuk urusan tempat tinggal, gue yang udah biasa tidur di dalam gua udah nggak heran dengan udara luar.
Kaki gue melangkah menyusuri jalan tanah yang sudah terbentuk karena pembuatan ini hingga sampai gue menemukan Silvana yang tengah mengatur pembangunan, seolah dia adalah mandor dan arsitek yang sudah berpengalaman.
Lalu setelah gue melihat rangkaian rumah yang akan di buat mata gue seketika terbelak.
Ini beneran?
Gue nggak lagi mimpi kan?
Dengan cepat gue melangkah keaeah Silvana lalu segera menyapa wanita itu dengan raut bingung.
"Tuan...."
"Lo, apa Lo yang nyuruh mereka membuat rumah ini?"
Silviana terlihat sedikit canggung sebelum mengangguk dengan pasti.
"I-iya tuan. Apa ada yang salah dengan itu."
Seketika gue menggeleng pelan.
"Nggak, nggak ada yang salah, cuma dari mana Lo tau bentuk rumah macam ini? Sejauh ini gue nggak pernah liat ada rumah yang bentuknya hampir sama seperti yang ada di kepala gue, dan bahkan bangunan seperti ini belum pernah sekalipun ada di dunia ini."
Karena sejatinya bentuk rumah yang di buat oleh Silvana adalah beberapa rumah yang ada di kehidupan gue sebelumnya, dengan gaya dan bentuk yang sama seperti yang ada di tempat tinggal gue sebelumnya. Makanya gue langsung heran saat melihat bentuk rumah itu.
"Ma-maaf tuan ...," Dia bergumam sebentar sembari menunduk dalam. "Saya hanya meniru sesuatu yang ada di kepala saya tuan, entah kenapa bayangan rumah dengan bentuk seperti ini terlintas di kepala saya."
Tunggu, ini nggak mungkin kan? Nggak mungkin sebuah kebetulan terjadi di sini, dan yang aneh, kenapa bentuk rumah ini sama persis seperti yang ada di kepala gue?
"Tunggu, emang, Lo pernah keluar dari gua dan menjelajahi dunia ini serta masuk ke pemukiman para warga lain?" Tanya gue dengan raut bingung.
Silvana menggeleng pelan lalu menunduk lagi, dan hal itu benar-benar bikin gue jadi pusing nggak karuan.
"Jadi, dari mana Lo dapet ide macam ini?"
Gue sama sekali nggak mengerti, untuk seukuran wyren yang mungkin belum pernah menjajah dunia luar, entah kenapa Silvana bisa mengetahui hal penting dalam membangun sebuah rumah, bahkan seluk beluk dari ruangan yang akan dibangun sama persis seperti yang ada di kepala gue.
"Itu, saya mendapat ide ini begitu saja di kepala saya, dan bahkan beberapa ide lain yang terlintas di kepala saya tuan. Bukan hanya rumah, bahkan beberapa hiasan dan segala hal yang begitu baru masuk ke dalam pikiran saja, seolah ada ingatan yang menyusup dan bertahan di kepala saya tuan...."
Ini nggak mungkin terjadi kan?
Nggak mungkin seorang wyren bisa mendapatkan ingatan yang jelas aneh di dunia ini, apalagi kalau dia bisa mendapat pengetahuan yang datang tiba-tiba, bukankah itu terlalu curang?
Atau ... Dia dapat salinan dari ingatan gue di kehidupan sebelumnya?
Tapi nggak mungkin juga, emang ada gitu hal semacam itu di dunia ini? Yang mana menyalin ingatan adalah sesuatu yang masih menjadi sebuah tahayul, bahkan selama gue bermain game pun hal itu masih nggak pernah gue alami.
Tapi, ada kemungkinan juga hal itu terjadi kan? Dan tunggu dulu, gue juga pernah beberapa kali melahap dan mendapat ingatan dari beberapa monster yang udah gue lahap?
Cuma itukan sistemnya gue yang melahap mereka dan mengambil beberapa skill yang mereka miliki, tapi kalau tiba-tiba langsung mampu menyalin ingatan, alangkah nggak masuk akalnya kejadian itu.
Sistem : menyalin ingatan kemungkinan bisa terjadi, di mana Silvana juga berhasil menyalin beberapa skill yang anda miliki, mungkin semua terjadi karena kontrak dan juga darah yang anda berikan untuk membuat sebuah kontrak.
Mampus! Pantas saja Silvana bisa mendapat gambaran tentang kehidupan gue sebelumnya, semua karena kontrak dan ikatan darah yang terjalin tanpa sepengetahuan gue.
Shit!
Gue sama sekali nggak ngerti sama permainan di dunia ini, tapi tunggu dulu, kalau dipikir-pikir nggak masalah juga sih kalo mereka memiliki sedikit ingatan gue, bukankah itu memudahkan gue untuk melakukan banyak hal?
Contohnya, membuat pemandian umum, lalu membuat sebuah rumah singgah seperti apa yang gue inginkan?
Benar-benar berguna saat gue mengambil sisi positif dari penyalinan ingatan ini, tapi apa yang terjadi dengan sisi negatif, di mana mereka berdua bisa saja menyalin ingatan buruk tentang kehidupan gue sebelumnya kan?
"Ehem ... Jadi ... Apa aja yang masuk kedalam kepala Lo setelah kontrak terjalin?"
Silvana mengerjap lucu saat gue bertanya sesuatu hal yang mungkin aneh di matanya, atau mungkin pertanyaan gue yang sedikit nggak masuk akal di sini?
"Maksud anda?"
"Em ... Itu ... Maksud gue, ada ingatan lain yang aneh masuk ke dalam kepala Lo nggak? Contoh ingatan sedih atau buruk gitu?"
Silvana tidak langsung menjawab, dia hanya menatap gue dengan bingung sebelum menoleh ke kanan dan kiri seolah mencari jawaban yang tepat akan pertanyaan gue.
"Udah-udah nggak usah bingung, abaikan aja pertanyaan gue barusan, gue cuma bercanda." Karena gue tau, kalo gue masih berusaha untuk menekan dia agar menjawab, yang jelas hal itu akan membuat dia semakin bingung, apalagi dari raut wajahnya, sepertinya dia tidak pernah mengetahui ingatan buruk itu.
Gue harap sih gitu, karena secara nggak langsung, gue juga nggak mau terlalu mengingat kenangan masa kelam gue dulu.
"Jadi...." Gue mengalihkan pandangan menatap hamparan luas dan petak rumah yang mulai terbuat, belum lagi potongan pohon yang utuh juga sudah menggunung di sana, ada beberapa orang yang bertugas menebang, mengangkut pohon, dan juga membersihkan serta mengerut kulit pohon agar terlihat lebih bersih.
Gue yakin ini teknik dasar di dunia ini dalam membangun rumah, yang mana bekal dan bahan di dunia ini hanyalah pohon dan kayu.
Walau sudah ada beberapa yang menggunakan batu dan mungkin saja tanah liat yang menyerupai semen, tapi, itu jelas nggak sekuat semen di kehidupan gue sebelumnya. Dan nggak serapih pasangan batu bata di kehidupan gue sebelumnya.
Well, nggak masalah sih, yang penting nyaman aja udah cukup buat gue.
"Berapa lama lagi rumah untuk mereka selesai?"
Silvana mengangguk pelan lalu mengikuti arah pandangan gue yang menatap para orge yang tengah bekerja di sana. "Mungkin satu Minggu kedepan rumah untuk mereka selesai, untuk awal saya menyarankan mereka agar membuat tempat tinggal untuk para wanita dan juga anak-anak serta lansia, agar malam ini mereka bisa beristirahat dengan nyaman, sedangkan untuk para pria, mereka jelas bisa beristirahat di ruangan terbuka, karena mau bagaimanapun mereka memiliki fisik yang lebih kuat dari pada para lansia dan para wanita."
Gue mengangguk setuju, karena bagaimanapun juga itu yang gue pikirin pertama kali, bahkan sebelum gue mengatakan isi pikiran gue, Silvana sudah melakukan semua hal itu dengan sempurna.
"Lalu, untuk permasalahan ekonomi dan bahan makanan kedepan, apa tempat ini bisa menjanjikan agar mereka tidak kelaparan?" Tanya gue dengan intonasi pelan di akhir kalimat, gue menoleh kearah Silvana. "Karena sebelumnya, mereka semua menderita karena kelaparan, jadi, gue nggak mau hal itu terjadi...."
"Itu...." Lagi Silvana sedikit ragu saat akan mengatakannya, membuat gue mengerutkan kening karena bingung.
Tunggu, Rekasi ini. Jangan bilang kalo dia juga menyalin beberapa ingatan gue yang lain.
"Dari apa yang saya bayangkan, mungkin mereka bisa bercocok tanam dan mengembangkan beberapa tanaman yang bisa untuk menjadi makanan pokok mereka."
Kan, udah gue tebak, dia mungkin menyalin ingatan tentang bagaimana pertanian di kehidupan gue sebelumnya. Ck! Kayaknya semua ingatan yang berkaitan dengan hal baik, di salin oleh mereka semua.
"Dan kira-kira, apa yang bisa dikembangkan oleh mereka untuk menjadi makanan pokok?"
"Seperti yang ada di benak saya, mungkin mereka bisa mengembangkan tanaman ulviet yang mungkin sedikit mirip dengan padu atau gandum. Dari segi serat dan juga bentuk hanya tanaman itu yang lebih mendekati kata mirip dengan padi dan juga gandum."
"Hem...." Gue mengangguk pelan, lalu sedikit berpikir, ulviet, gue masih baru denger nama tanaman itu, tapi penasaran juga sama hal kayak gitu.
"Jadi, di mana kita bisa mendapatkan tanaman itu?"
"Saya sudah mengirim informasi kepada Aldos, dan mungkin dia akan mencari untuk ditambahkan kedalam daftar buruan mereka, dan jika beruntung nanti malam kita akan bisa memakannya, karena bulan ini adalah musim panen tumbuhan ulviet."
"Bagus, gue mengandalkan kalian untuk hal ini. Dan jangan lupa, buat masakan yang enak, dan sedikit rempah. Karena gue agak sedikit kangen sama sebuah masakan."
"Tentu, jika boleh kami tahu, makanan apa itu, tuan?"
"Rendang, gue mau makan rendang malam ini." Walau gue masih nggak yakin apa ada bumbu yang bisa digunakan di tempat ini untuk membuat masakan rendang, kalau kelapa sih kayaknya di bibir pantai ada pohon yang kayaknya mirip banget, dan gue harap itu bisa digunakan.
"Rendang?" Tanya Silvana pelan. "Makanan daging yang di masak dengan santan kelapa serta bumbu rempah lainnya?"
Seketika mata gue membulat dengan sempurna, gue nggak percaya kalo Silvana juga menyalin ingatan gue yang satu itu, jadi nggak terlalu sulit buat ngejelasin apa maksud yang gue ingatkan.
"Baguslah kalo Lo tau makanan itu, dan juga jangan lupa soal salad bumbu kacang. Karena nggak lengkap bagi gue makan rendang tanpa salad bumbu kacang."
"Baik, mungkin di sini tidak ada rempah untuk membuat makanan seperti itu, tapi ada beberapa tumbuhan yang bisa digunakan untuk menggantikan rempah itu sendiri."
Gue udah nebak sih, jelas di kehidupan gue sebelumnya dan kehidupan gue yang sekarang banyak perbedaan terjadi, tapi beruntung kalo misa ada tumbuhan yang bisa menggantikan rempah di dunia sebelumnya dan diterapkan di dunia ini.
Ah ... Setelah beberapa bulan gue harus memakan makanan yang sedikit asing dan aneh, akhirnya gue bisa merasakan makanan favorit gue di kehidupan gue sebelumnya, bukankah ini benar-benar sebuah keberuntungan?