LaD - suka cita
Malam tiba, dan siapa sangka satu hari melakuau perburuan, para orge pria yang dibantu oleh Aldos mampu membawa banyak buruan, daging kelinci, rusa dan satu hewan yang sedikit asing di mata gue, mungkin bisa di sebut lembu atau sapi, tapi entah apa hewan itu, yang jelas malam ini gue bisa puas makan banyak dengan beberapa bumbu.
Dan bukan hanya itu saja, satu hari terlewati tali para orang-orang yang bertugas membangun rumah sementara juga sudah menyelesaikan sebuah rumah yang lebih mirip seperti gudang dengan ukuran jumbo yang mungkin bisa menampung lima puluh orang di dalamnya, bukan hanya itu, mereka juga membuat tiga rumah sementara berukuran besar, jadi untuk kepentingan tempat tinggal malam ini sudah bukan menjadi masalah lagi.
Dan yang bikin gue terkejut adalah, mereka juga sudah membuatkan rumah pribadi untuk gue, nggak terlalu mewah sih, tapi lumayan lah untuk tinggal satu atau dua malam di tempat ini.
Lalu setelah siang berlalu dengan cepat, sore datang dengan para pemburu yang pulang membawa buruan, tanpa di suruh sekalipun mereka yang baru pertama kali melihat makanan cukup banyak langsung bersorak girang dan penuh semangat lalu mereka langsung mengolah daging dan beberapa rempah untuk diolah menjadi sebuah masakan.
Gue berharap sih rasa dari makanan itu seperti yang gue bayangkan, enak dan cocok dengan lidah gue.
Walau gue sendiri nggak terlalu yakin, tapi apa salahnya berharap bukan?
Kini sebuah api unggun sudah terbuat dengan bara yang cukup besar hingga mampu menerangi daerah sekitar, banyak orang yang mengelilingi tempat itu untuk sekedar bersuka cita, melantunkan senandung irama yang sedikit membuat gue terenyuh. Mereka bernyanyi seolah bersyukur atas apa yang merekah dapatkan hari ini. Walau tidak terlalu banyak, tapi setidaknya mereka bisa mensyukuri apa yang sudah menjadi milik mereka.
Bersyukur dengan apa yang didapatkan adalah bukti untuk menghargai sekecil rezeki yang sudah didapatkan. Terlebih setelah selama ini mereka hidup dengan penuh penderitaan serta kemalangan dan kelaparan yang mendera.
Rahmat kecil ini adalah sesuatu yang luar biasa untuk mereka.
Bahkan tak sedikit orang yang terlalu berlebihan saat mengucapkan terimakasih ke gue. Jujur gue sendiri merasa agak aneh saat diperlakukan seperti itu.
Dan yang pasti, gue melakukan semua ini atas janji yang udah gue ucap sebelumnya. Bukankah seorang pria harus memegang perkataan mereka apapun yang terjadi di dalam hidupnya.
Karena laki-laki yang mengingkari janji adalah seorang pengecut yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Gue bukan orang yang seperti itu. Terlebih, di dunia ini gue memiliki sesuatu yang bisa gue gunakan untuk menolong seseorang yang mungkin saja tengah kesulitan, untuk itu selagi gue masih sanggup kenapa nggak?
Gue mendongak, me atap langit malam yang terlihat cerah dan begitu indah karena taburan bintang yang menghiasi langit malam. Sesaat gue merasa, sepetinya gue sudah terlalu menghabiskan waktu di kehidupan sebelumnya untuk melakukan sesuatu hal yang tidak perlu, dan di sini di tempat ini, gue baru sadar betapa indahnya dunia luar dengan lingkungan dan keanekaragaman yang benar-benar luar biasa.
Tapi, tentu saja berbeda, gue di dunia sebelumnya buka lah orang yang bisa melakukan semua ini. Karena gue sadar, gue hanyalah seorang pecundang di kehidupan sebelumnya, dan karena itu, gue jelas tidak bisa menikah semua dengan diri gue yang memalukan.
Dan di sini? Gue janji dengan diri gue sendiri untuk lebih menikmati hidup ini, menjalani hidup seperti apa yang gue inginkan.
Yah ... Mungkin dengan hal itu gue bisa lebih menghargai diri gue sendiri.
Gue mengulurkan tangan ke udara merentangkan jari-jari diantara celah bintang lalu menggenggamnya erat, seolah gue bisa menggenggam semua itu dengan tangan gue.
Walau gue tahu hal itu nggak mungkin, tapi akan ada banyak arti yang menyertai perbuatan gue ini.
"Tidak ikut bergabung?"
Gue menoleh seketika ketika sosok Dino datang dan duduk di bawah pohon tempat gue membuat Hancock. Dia bersandar dengan tatapan yang tertuju kearah para orge ya tengah bersuka cita di sana.
"Nggak deh, gue masih pengen menikmati suasana di tempat ini."
Dino mendengkus pelan lalu terkekeh setelahnya.
Gue yang bingung tentu langsung menoleh kearahnya, agak aneh ketika di mendengkus lalu terkekeh seperti itu, seolah kesal namun urung karena sebuah hal.
"Kenapa?" Tanya gue dengan kening berkerut. "Ada masalah?"
Dia menggeleng pelan, tatapannya masih tertuju kearah para orge tanpa lepas. "Awalnya aku heran dengan tindakan yang kau lakukan...," Dia menjeda kalimatnya lalu menghela napas pelan. "Kau jelas memiliki kekuatan yang luar biasa, mengalahkan demon orge tingkat tinggi hanya seorang diri, awalnya aku tidak percaya, tapi setelah kita bertarung satu lawan satu aku sadar betapa kuatnya dirimu."
dia terkekeh pelan lalu mendongakkan kepalanya. "Aku tahu hati itu kau menahan diri dariku, bahkan kau bisa mengalahkan ku dalam sekejap jika kau mau, tapi kau tidak melakukan itu. Entah apa masalahnya, tapi aku sedikit mengerti akan dirimu. Dan lagi yang lebih mengejutkan adalah, kau bisa membuat sebuah kontrak dan menjinakkan dua wyren yang memiliki kekuatan luar biasa seperi mereka."
"Awalnya terbesit dalam pikiran, siapa dirimu sebenarnya?"
"Jujur saja aku semakin penasaran dengan identitas asli dari dirimu, tapi hal itu tentu tidak akan aku lakukan karena aku sadar semakin aku penasaran, maka akan menjadi sebuah bencana untukku."
Dia menghela napas pelan dan gue hanya menjadi pendengar setia dengan semua perkataannya itu, menyela perkataan seseorang bukanlah gaya gue, dan lagi, gue juga sedikit nggak ngerti kemana arah pembicaraannya.
"Lalu untuk apa kau melakukan semua ini, memberi kesempatan untuk mereka yang lemah hidup, tidak sampai di sana, kau juga menjanjikan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah dipikirkan oleh orang lain. Kau...." Dia menjeda kalimatnya lalu menoleh kearah gue.
"Bisa saha menguasai sebuah daerah atau bahkan satu benua ini dengan kekuatanmu itu, tapi entah kenapa kau seolah tidak berminat dengan semua itu."
"Bosan, kalo gue melakukan hal itu, maka yang gue dapatkan hanya sebuah kebosanan, lalu kebencian dari berjuta ras, dan lagi akan banyak penjilat yang datang dan menyanjung gue hanya untuk mendapatkan posisi yang diinginkan oleh mereka."
Karena menguasai benua bukanlah hal yang menyenangkan untuk dilakukan, ada banyak kesenangan yang bisa gue lakukan untuk menghibur diri, contohnya saja seperti sekarang, melihat para orge mendapatkan hidup mereka kembali dengan suka cita saja sudah membuat gue merasa bahagia.
Dino tersenyum kecil di sana. "Aku tahu itu, kau bukanlah tipikal orang yang akan melakukan hal bodoh seperti itu. Dan aku semakin paham ketika aku melihat sesuatu yang sudah kau lakukan. Entah kenapa, melihat para orge yang awalnya ketakutan bisa tertawa lepas tanpa beban di sana membuat hatiku berdebar dan merasa suatu perasaan lain dalam diriku."
Dia menoleh menatap gue yang sedari tadi menatapnya. "Kau membuka mataku tentang dunia ini. Dunia yang bukan hanya berisi tentang kekuatan tahta, jabatan dan kekuasaan. Kau memberikan arti lain akan dunia ini, di mana melindungi orang yang lebih lemah serta memberikan harapan dan kebahagiaan untuk mereka adalah sesuatu yang sangat menyenangkan."
Gue hanya tersenyum saat Dino tiba-tiba mengatakan hal itu, walau gue baru mengenal dia, tapi secara nggak sedikit demi sedikit gue mulai mengerti dengan karakter dirinya, walau keras, tapi Dino tidak pernah lelah untuk belajar dan mencoba hal baru, mungkin itulah yang membuat dirinya bisa terus tumbuh dan semakin kuat. Dia tipikal yang mencari sesuatu untuk terus tumbuh menjadi kuat, dan nggak heran setiap ada kesempatan dia bisa berkembang dan terus berkembang.
"Karena gue nggak mau sesuatu terjadi pada mereka. Itu ada sih, karena nggak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang setara, Terkadang mereka malah harus terjebak dalam sebuah hal yang sama tidak menguntungkan atau bahkan lebih menyedihkan dari hal itu. Maka dari itu, selagi gue mampu, kenapa enggak, toh nggak rugi juga buat kita. Selain bisa semakin kuat, kita juga bisa terus berkembang dan pengalaman yang kita dapat juga terus bertambah. Jadi sekali dayung dua pulau terlampaui, itulah pepatah yang pernah gue denger saat masa pendidikan dulu."
Dino mengangguk pelan, lalu menarik satu senyum lebar di sana. "Dan itulah kenapa, aku merasa pilihanku tidaklah salah untuk mengikuti mu."
"Ck! Itu mah emang maunya, bilang aja Lo pengen bebas dari pekerjaan yang membosankan itu kan?"
"Haha kau jelas tahu akan diriku, jadi ya ... Itulah salah satu alasannya."
Gue terkekeh sejenak, bukan hanya dia saja yang beruntung mengikuti gue, karena di sini gue juga merasa beruntung karena dia bisa menjadi bagian dari gue, walau terkadang pemikirannya masih terlalu labil, tapi dia memiliki kekuatan dan kemampuan yang masih bisa terus berkembang. Dengan sedikit pengalaman saja dia bisa menjadi sosok yang luar biasa di sana.
"Lalu, bagaimana dengan janjimu? Apa kau membawakannya untukku?"
Gue mengerutkan kening ketika dia mengucapkan hal itu. "Janji?"
"Tentu saja, apa kau melupakannya? Kau bahkan mengatakan akan membawakan ku inti kristal dari dua wyren itu!" Ujarnya dengan bibir mengerucut lucu.
Gue hanya tertawa pelan, lalu merogoh ruang penyimpanan gue dan mengeluarkan dia buah inti kristal yang memiliki kekuatan sihir yang cukup besar di sana.
Setelahnya gue melempar dia benda berwarna merah itu kearah Dino.
"Seperti janji gue, ambil itu."
Mata dini berbinar seketika. Dia menatap gue cepat dengan mulut menganga. "Kau...."
"Kenapa? Masih kurang?"
"Ti-tidak! Ini bahkan lebih dari cukup!" Dia bersorak senang, lalu mengangkat binti kristal itu ke atas dan menerawang di sana.
"Lebih dari cukup? Maksud Lo?"
"Ck, kau tidak tahu jika kristal ini adalah sesuatu barang yang sangat langka di kerajaan elf? Bahkan satu buah saja bisa ditukar dengan rumah megah milik salah satu bangsawan." Dia menoleh untuk menatap gue. "Kau, mendapat benda ini dari mana? Tidak mungkin jika dua wyren yang kau kalahkan itu mengeluarkan item langka seperti ini."
"Apa yang lo maksud langka? Bukanya kalo langka itu jarang ada di dunia, atau bahkan nggak ada sama sekali?"
Dia mengangguk pelan. "Karena banyaknya permintaan, inti kristal tingkat langka seperti ini sangat mahal dan sering habis terjual. Kau tau, satu inti kristal saja mampu meningkatkan energi sihir dalam diri cukup pesat. Maka tak jarang jika di benua ini inti kristal ini sangat di buru oleh banyak orang. Dan kau memiliki salah satu diantaranya! Benar-benar hebat!"
Jujur gue masih nggak mengerti apa yang diucapkan sama si Dino ini. Langka? Barang itu langka? Barang yang gue dapet setelah mengalahkan monster di gua itu?
"Tunggu dulu. Lo bilang benda ini bisa menaikkan kekuatan seseorang?"
"Tentu saja, apa kau menyesal karena sudah memberikan inti kristal ini kepadaku?"
"Jangan bercanda, barang yang udah gue kasih nggak akan pernah gue ambil balik."
"Lalu?"
Gue menyeringai sejenak, jika memang inti kristal ini langka, berarti gue bisa mendapatkan banyak yang hanya dengan menjual inti kristal ini kan?
"Lalu, apa dengan menjual inti kristal ini kita bakal mendapat banyak uang?"
"Tentu saja, satu inti kristal saja kau sudah bisa hidup menggunakan uang itu selama satu tahun lebih di kerajaan elf." Dia menoleh menatap gue dengan wajah yang bisa gue tebak mupeng karena bayangin berapa banyak duit yang gue dapet nantinya.
"Tunggu, jangan bilang kau akan mengambil inti kristal ini dan menjualnya?"
Gue terkekeh seketika ketika melihat raut wajah cemas itu. "Lo ngerti arti nggak bakal ambil barang yang gue kasih nggak sih?"
"Jadi...?"
"Jadi ...." Gue merogoh ruang penyimpanan gue lagi, lalu mengeluarkan puluhan inti kristal itu dari ruang penyimpanan. "Gue akan menjual semua barang ini dan menggunakannya untuk biaya perjalanan kita nanti," ucap gue dengan santai dan menunjukkan betapa banyaknya inti kristal yang sama seperti yang udah gue kasih ke Dino.
Dan benar saja, baru gue buka telapak tangan dan menunjukkan apa yang gue milik, mata Dino langsung terbelak sempurna di sana.
"Ka-kau!" Pekiknya tertahan. "Apa kau bercanda?!"
"Tentu aja nggak, gue malah serius banget! Apalagi pas Lo bilang bakal dapet duit banyak."
"Sungguh, aku tak bisa berkata-kata, lagi, dan dari mana kau mendapatkan semua ini? Bukankah kristal nini hanya jatuh dari monster berbahaya saja? Kau bercanda kan?"
"Nggak lah, mana mungkin gue bercanda."
"Lalu?"
"Ceritanya bakal panjang, dan males gue menjabarkannya. Intinya sih, gue dapet kristal ini dari pertarungan yang membuat gue kuat seperti sekarang."
"Jadi...."
"Tanya mulu lo mah! Penasaran amat kayaknya!" Ucap gue sembari menoyor kepala Dino agar menjauh dari gue. Jarak wajahnya bener-bener bikin gue mual.
"Serius! Katakan kepada ku dari mana mau mendapatkan semua benda ini!"
"Jauh, Lo nggak akan bisa bayangin dari mana gue dapet semua benda ini."
"Oh ayolah, jangan membohongi ku, aku benar-benar penasaran!"
"Tidak, aku tidak akan mengatakannya untuk sekarang!"
"Tuan Erix, katakan pada ku rahasiamu. Ku mohon..."
Gue mendesis pelan ketika melihat dia merengek di saja. Lalu mendengkus pelan. "Jauh-jauh Dino, lo buat gue mual tau nggak!"
"Katakan dulu!"
"Berhenti merengek atau gue nggak bakal kasih lagi kristal buat Lo!"
Dan benar saja, dengan ancaman yang gue kasih membuat di i langsung bungkam seketika di sana.
"Bagus, lebih baik nurut kalo Lo mau dapet ini kristal, dari pada nggak gue kasih kan?"