LaD -
Menemukan makanan yang udah lama nggak gue dapatkan itu sama seperti menemukan harta karun di sebuah tempat rahasia dengan ancaman bahaya yang tinggi.
Gue menatap barisan makanan di hadapan gue dengan nata berbinar. Ada begitu banyak macam hidangan untuk pesta malam ini, dan tentu saja, rendang.
Makanan yang udah begitu lama gue rindukan tersedia di tempat ini, bukankah itu sesuatu yang luar biasa?
Mata gue langsung berbinar seketika ketika melihat semua makanan ini, salad bumbu kacang, lalu daging bakar dan juga daging panggang semua tersaji dengan sempurna di hadapan gue.
Namun ada yang aneh di tempat ini, ada begitu banyak makanan tapi tidak ada satu orangpun yang berinisiatif untuk mengambil makanan di sana.
Seketika itu juga gue mengedarkan pandangan ke arah orang-orang yang masih menatap kearah gue dan juga makanan yang ada di sana.
"Kalian nggak makan?" Tanya gue heran.
"Ap-apa boleh tuan?"
Dan seketika itu juga gue terperangah mendengar pertanyaan dari salah satu anak yang menatap gue penuh harap.
Astaga, gue lupa akan satu hal penting di sini, posisi dan keberadaan mereka yang berkaitan dengan gue membuat mereka tidak berani untuk mengambil makanan secara lancang.
Dan kalian tahu, gue benci berada di posisi harus memerintah ataupun menawari seseorang yang bisa saja mereka mengambil makanan mereka sendiri.
"Kenapa nggak? Gue udah bilang kan malam ini kita pesta, yang berarti kita makan besar tanpa harus menunggu ataupun mendapat perintah dari gue. Sekali pesta ya sikat aja!" Pekik gue semangat dan mengambil satu potong daging Berukuran besar dengan tangan gue.
"Nggak usah nunggu perintah, di mana pesat adalah waktu di mana kalian bisa makan sepuas kalian, bila perlu habiskan semua makanan ini!"
Hap! Gue langsung menggigit satu daging bakar yang terasa begitu lembut di mulut gue, bumbu rempah dan tekstur daging yang belum pernah gue rasakan sebelumnya.
"Hem! Enak!" Pekik gue lagi dan melahap dengan rakus daging yang ada di tangan gue ini.
Sebenarnya gue nggak terbiasa mengatakan enak ataupun berteriak ketika makan, tapi gue melakukan hal itu agar memancing keinginan mereka untuk ikut andil dan mengambil makanan tanpa sungkan di sana.
"Kalian beneran nggak mau? Ini enak loh!" Kata gue dengan mulut penuh makanan, dan bisa gue lihat jika mereka mulai tergiur akan godaan gue, bukan salah gue ya, karena gue cuma berusaha mengajak mereka untuk mengikuti pesta malam ini.
"Kalo nggak ambil, jangan salahin gue kalo gue abisin ini makanan!"
Lagi gue mengambil satu potong lagi daging panggang dan mengambil satu piring berisi rendang yang sudah lama gue rindukan ini.
Daging, entah kenapa di dunia ini daging yang tersedia lebih nikmat dari dunia sebelumnya, di mana untuk mendapatkan sepotong daging saja harus mengeluarkan banyak uang yang terkadang nggak mampu gue beli.
Menyedihkan bukan? Itulah kenapa gue nggak tega ketika melihat orang-orang seperti mereka mengalami apa yang gue rasakan.
Gue yakin mereka mulai tergiur karena melihat gue yang sedikit rakus saat memakan daging bakar ini, dari posisi gue hanya tersenyum melihat perlakuan mereka.
Biarkan saja mereka belajar membunuh gengsi mereka agar mereka terlatih untuk berinisiatif melakukan sesuatu tanpa harus diperintahkan.
"Daging! Aku mau daging!"
Lu seorang anak mengejutkan ku karena tiba-tiba saja dia datang dari celah para orge dewasa dan mengambil satu potong daging di atas meja tanpa sungkan.
Gue tersenyum tipis, itulah yang gue maksud untuk berinisiatif sendiri untuk mendapatkan sesuatu, jika menunggu sebuah perintah maka mereka pasti akan mati kelaparan.
"Em! Enak! Aku suka!" Anak itu melahap sepotong daging dengan cepat lalu menoleh ke arahku dengan makanan yang masih penuh di mulutnya.
Gue terkekeh kecil, sungguh menggemaskan melihat anak-anak dengan semangat tinggi seperti dirinya, tanoa sungkan tanpa malu dia malah semakin berani dengan bertanya melewati sorot matanya.
Sedangkan gue hanya menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kecil. "Ambil dan habiskan! Biarkan saja mereka berdiam diri dan menonton!" Kata gue dengan nada menyindir.
Mata anak perempuan itu terlihat berbinar di sana, lalu dengan cepat dia menyambar dua potong daging dan melahapnya tanoa peduli mulutnya yang sudah penuh di sana.
"Tehimakashi thuan!"
Lagi-lagi gue tertawa, entah kenapa melihat tingkah seorang anak yang bahagia dengan makanan yang dia dapatkan, sungguh sangat menggemaskan, gue bahkan sampai geleng kepala dibuatnya, sungguh. Entah kenapa gue merasa bahagia di lingkungan mereka yang sampai saat ini masih canggung dengan keinginan mereka.
"Kalian beneran nggak mau makan?" Tanya gue pelan, mood gue mendadak hilang saat melihat mereka masih terdiam di tempatnya. Seolah tidak ingin ikut andil dalam kemeriahan pesta malam ini.
"Te-tentu kami akan makan, tuan!" Balas Tom denhan nada sedikit takut, lalu setelahnya dia menjadi orang yang mewakili para orge untuk mengambil makanan mereka.
Melihat mereka mulai ikut turun tangan membuat gue mengukir senyum kecil di bibir gue.
Inilah sebuah keseruan dalam sebuah acara pesta yang selalu saja ingin gue lakukan dulu. Dan baru sekarang gua bisa merasakan euforia kebahagiaan yang nggak pernah gue dapatkan sebelumnya.
Lalu terbesit dalam benak gue, mungkin akan menyenangkan bisa membangun sebuah wilayah dengan penduduk yang bisa saling menghargai dan saling bahagia bersama tanpa ada kesulitan di kehidupan mereka.
Tertawa, menghabiskan waktu bersama, lalu bersenang-senang bersama, saling menghargai satu sama lain, dan juga saling bekerja sama.
Sepertinya tempat seperti bisa memberikan sebuah kebahagiaan dan tujuan untuk gue.
Apalagi melihat di dunia ini termasuk dunia yang memiliki banyak ras di dalamnya, dan bisa gue tebak, hubungan antar ras satu dengan yang lain pasti memiliki masalah konflik yang sulit untuk diselesaikan karena sebuah perbedaan di dalamnya.
"Apa mungkin...." gue bergumam pelan dengan mata menatap sekumpulan orge yang masih bersuka cita dengan makanan mereka, larut dalam sebuah kesenangan yang sepertinya tidak pernah mereka dapatkan.
Dan yang lebih unik, antar para orge, mereka memiliki sifat dan karakter masing-masing, dimana ada yang lebih mendominasi atau bahkan ada yang masih malu untuk ikut berinteraksi dengan sesama yang lain.
"Puah! Kau benar-benar membuat pesta yang luar biasa!"
Gue tersenyum saat melihat Dino yang duduk di samping tubuh gue dengan satu piring penuh makanan di sana.
"Dan jangan lupakan semua makanan ini, entah kenapa mereka semua terasa luar biasa, padahal dari segi penampilan makan ini biasa saja, tapi begitu kau menggigitnya maka akan penuh dengan kejutan yang luar biasa. Rasa dan rempah yang ada di dalamnya seolah meleleh dan menyatu dengan sempurna bersama daging kelinci langka ini!"
"Benarkan, gue aja suka sama masakan ini, apalagi kalian yang belum pernah merasakannya." Kata gue dengan tawa yang membahana setelahnya.
"Kau! Apa kau yang memberikan resep kepada merek? Aku tidak yakin jika mereka memasak semua ini dengan keterampilan mereka dan bumbu racikan mereka."
Gue tersenyum kecil. "Anggap saja seperti itu, jangan terlalu banyak tanya, dan nikmati saja makananmu."
Dini mengerucutkan bibirnya tajam dengan tatapan yang tidak suka di sana. "Kau selalu saja menyembunyikan sesuatu yang menyenangkan dariku!"
"Nggak, gue nggak pernah menyembunyikannya dari Lo."
"Terserah kau saja lah, selagi aku masih bersama mu maka aku masih bisa menikmati makanan seperti ini lagi."
"Haha, Lo ini, apa do hidup Lo itu cuma berisi tentang sebuah kesenangan dan sesuatu yang baru?"
"Tentu saja, kehadiran mu tentu membuat ku merasa begitu penasaran. Belum lagi semua tingkah yang kau miliki, dari caramu berbicara, bertarung dan semua yang kau lakukan benar-benar asing di mataku, kau benar-benar membuatku mati penasaran tau!"
"Penasaran? Apa yang buat lo penasaran? Padahal gue tergolong biasa aja kan. Sama kayak kalian, dan bersikap biasa saja?"
"Bersikap biasa saja apanya, kau jelas bertingkah dan bertarung dengan caramu sendiri, dan aku baru melihat gaya bertarung seperti itu, belum lagi kemampuan yang kau miliki. Sudah pernah ku katakan bukan, jika kau orang yang tamak, kau akan bisa dengan mudah menguasai benua ini hanya dengan kekuatanmu. Namun aku jelas tahu kau bukalah orang yang seperti itu."
"Gue udah bilang itu dari awal kan? Gue hanya ingin menikmati kesempatan gue di dunia ini, dan menghabiskan waktu dengan kesenangan yang ada."
"Tentu saja, kau sudah mengatakan sebelumnya, maka dari itu, aku masih penasaran dari mana kau mendapatkan kekuatan itu di dala dirimu."
"Gue nggak ingin menceritakannya."
Karena, apa yang sudah gue lalui di dalam gua itu benar-benar membuat gue tertekan dan tidak ingin mengingatnya lagi.
Kecuali janji yang sudah gue buat dengan sang naga.b
Lalu seketika gue mengingat perkataan Dino mengenai sosok iblis yang ada di dunia ini.
"Dino, Lo pernah bilang tetang iblis, kan?" Gue menoleh sejenak untuk menatap Dino yang kini menoleh kearah gue disela mengunyahnya.
"Iya, kenapa?"
"Bisa Lo kasih penjelasan singkat tentang iblis ini?"
"Apa kau penasaran?"
Gue mengangguk pelan. Karena dengan informasi ini, mungkin gue bisa menepati janji gue kepada sang naga dan mengumpulkan semua informasi untuk membalaskan dendamnya kepada seseorang yang sudah mengurung dirinya selama ini.
"Aku bisa memberitahumu, tapi sebelum itu...."
Gue nengertukan kening ketika Dino menjeda kalimatnya di sana, dengan senyum simpul terukir di sana membuat gue seolah mengerti akan maksud senyum itu.
"Ceritakan semua rahs-"
"Lupakan!" kata gue menjeda kalimat dino yang membuat dia bungkam seketika.
"Oh ayolah! Apa salahnya bertukar, kau bisa mendapatkan informasi tentang iblis, dan aku juga bisa mendapatkan rahasia mu!"
"Nggak, gue nggak tertarik buat berbagi. Gue busa mencari informasinya sendiri. dan terimakasih atas tawaran lo itu."
Gue menyeringai kecil, karena dia udah mencoba mengancam gue dan mengambil keuntungan dari gue, jadi kenapa nggak gue balikkan aja semua perkataan dia ini.
"Dan kayaknya kebersamaan kita hanya cukup sampai di sini." Gue menghela napas pelan. "Kau tahu, dia orang itu sepertinya lebih berguna buat gue. Mereka bisa gue andalkan dalam segala hal, dan yang jelas mereka nggsk pernah perhitungan sama gue."
Dino menatap gue dengan tampang tercengang sebelum dia membelakkan sepasang matanya dengan sempurna. "Tunggu! Apa kau mengancam ku?!"
Gue melirik kearahnya dengan mata setelah tertutup. "Kenapa? Gue nggak butuh orang yang perhitungan dengan gue, apalagi setelah semua kebaikan yang udah gue kasih. Dan sekarang Lo tau sendiri kan, gue udah memiliki Aldos dan jasa ga Silvana, jadi menurut gue mereka udah cukup untuk menemani perjalanan gue."
"Oh ayolah, apa kau benar-benar akan meninggalkan ku?"
Menggelikan bagi acuh gue membuang muka dengan senyum tertahan dan berusaha menahan tawa yang akan meledak saat itu juga.
"Erix! Maafkan aku, aku akan memberitahu informasinya, tapi ku mohon jangan tinggalkan aku!"
"Entahlah, aku sudah tidak berminat lagi!"
"Ayolah! Ku mohon maafkan aku!"
Gue benar-benar menikmati raut panik yang dimiliki oleh Dino, dia benar-benar ingin ikut sama gue apa gimana? Rasanya benar-benar menggelikan ketika melihat raut wajah seperti itu.
"Lalu?"
"Kau, kau ingin informasi tentang iblis bukan? Aku bisa menceritakannya kepadamu."
"Maka gue akan mendengarkannya."
Dia menghela napas sejenak sebelum akhirnya mengambil posisi duduk yang nyaman dan menghadap kearah gue. Jujur gue dua buat terkekeh karenanya.
"Iblis adalah makhluk bawah yang memaksa untuk muncul kepermukaan karena sebuah dendam dan tujuan menguasai dunia atas. Konon mereka adalah makhluk kekal yang sulit untuk dikalahkan, bahkan dengan pasukan khusus kerajaan saja tidak cukup untuk mengalahkannya."
"Tapi Lo bilang pernah mengalahkan salah satu dari merek."
"Itu cerita lama, dan saat itu aku benar-benar hampir mati karena kehabisan energi sihir, mungkin keberuntungan masih berpihak kepadaku hingga aku masih memiliki kesempatan untuk memberikan serangan terakhir, saat itu adalah saat yang membuatku sadar bertapa lemahnya diri ku ini."
Gue tertegun sejenak, jika Dino saja sampai kesulitan untuk mengalahkan iblis itu, maka gue bisa mengambil kesimpulan jika para iblis adalah makhluk mitos yang memiliki kekuatan luar biasa di sana.
"Dan sekarang, apa iblis itu masih ada di dunia ini? Maksud gue, apa mereka masih suka berbuat sesuka hati mereka?"
Dini mengangguk pelan di sana. "Menurut informasi yang aku dapatkan, mereka semua mulai menjajah dan menghancurkan manusia. Di daerah kerajaan selatan, mereka mulai bergerak dan menghasut para manusia serta ras lain untuk kesenangan mereka. Bahkan ada sebagian iblis yang sudah menguasai satu daerah."
Gue nggak yakin, tapi dari sini gue mulai ngerti kemana tujuan gue selanjutnya. Mari kita mulai dengan menggali informasi lebih dalam tentang para iblis ini dan mencari cara untuk membalaskan dendam sang naga kepada mereka yang sudah membelenggu dirinya di gua gelap itu.
Tunggu saja, karena sebentar lagi gue akan membalaskan semua dendam mu.