kesenangan baru

2196 Kata
LaD - kesenangan baru. Gue terbangun ketika mendengar suara aktifitas yang cukup keras dan beberapa orang berbicara di sekitar tempat gue terlelap. Dengan wajah malas dan mata yang masih terasa lengket, gue berusaha untuk membuka kedua mata gue. Lalu cahaya gelap masih menyapa ketika gue membuka mata secara perlahan. Perlahan gue ingat tempat ini adalah tempat di mana gue tertidur terakhir kali setelah merasa kenyang dengan hidangan malam tadi. Memikirkan bagaimana keseruan semalam membuat gue sedikit bisa bernapas tenang, selain mereka yang juga ikut menikmati pestanya, gue juga mendapat sedikit informasi mengenai sosok iblis gang gue cari selama ini, walau masih samar tapi gue sedikit paham akan kondisinya. Dari serangkaian perkataan yang di ucapkan oleh Dino semala, Gue jadi tu kemana gue harus pergi. Perlahan gue beranjak duduk. Lalu menjuntaikan kaki ke bawah ranjang dengan mata sayu yang masih terasa berat untuk gue buka. Tapi mau bagaimana lagi, gue harus bangun dan melihat mereka yang masih berusaha untuk bekerja walau semalam mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, melupakan waktu lelah dan penderita mereka selama ini. Gue berjalan keluar, menyingkap tirai pintu yang menjadi Pelindung sementara tempat tinggal ini, lalu setelahnya gue bisa melihat bagaimana sibuknya mereka yang berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang masih tertunda. "Selamat pagi, tuan...." Gue menoleh. Menemukan sosok Silvana yang berdiri di sebelah pintu tempat gue tidur. "Pagi.... Hoaamm...!" Gue menguap ketika merasakan kantuk yang masih begitu mengganggu sepasang mata gue. "Lo nggak bantu yang lain?" Tanya gue pelan sembari menggaruk s**********n gue yang nggak terlalu gatal. "Hari ini semua pekerjaan sudah di lakukan oleh para orge yang kemarin bertugas berburu, jadi saya masih memiliki Waktu untuk menjaga tuan dan juga waktu tidur tuan...." Gue menoleh sejenak, menatap sosok Silvana yang hari ini terlihat luar biasa dengan pakaian yang dikenakan olehnya, bukan pakaian sih tepatnya, karena hanya sebuah bikini yang terbuat dari sisik melekat di sana. Tanpa jubah yang gue beri seperti kemarin. Wajah gue terasa memanas seketika lalu mengalihkan tatapan gue seketika. Entah kenapa di hadapan Silvana sangat berbeda ketika aku berada di hadapan Fairy. "Di mana jubah lo?" "Maaf tuan, di sini terasa sangat panas, karena itu saya melepaskan jubah kemarin." "Panas?" Gue mengerut kening, bukankah sekarang masih pagi. "Bukannya sekarang masih pagi?" "Maaf tuan, tapi ini sudah tengah hari, dsn udara di sini lebih dari yang saya perkirakan, apalagi setelah saya memakai wujud ini, rasanya sangat berbeda ketika saya masih memakai bentuk wyren." Tapi tetep aja kan, yang namanya pakaian tak senonoh itu membuat hasrat dalam diri gue seketika naik, apalagi gue adalah pria normal yang bisa aja menerkam dia tanpa ampun, apalagi saat ini dia adalah hewan peliharaan gue. Tapi tentu aja gue nggak sejahat itu dan nggak akan melakukan hal itu, gue masih punya harga diri btw, ya kali karena urusan gini aja gue langsung nyerah kan? "Nikmati aja selagi bisa, banyak orang yang ingin punya tubuh seperti manusia." Kataku lalu beranjak untuk melihat para orge yang tengah bekerja di sana. Dan sekarang baru gue sadari ketika hari memang sudah beranjak siang. Kayaknya gue terlalu lelap tidur sampai nggak ada yang bangunin gue. Dasar, padahal kalo gue bangun pagi, gue bisa melakukan banyak hal di sini. Setelah berkeliling melihat sejauh mana perkembangan desa ini gue memilih berhenti di salah satu pondok kecil yang melindungi diri gue dari panas trik. Gue mengedarkan pandangan sejenak, melihat para orge yang begitu semangat dan antusias dalam bekerja membuat senyum gue mengambang seketika. Mereka jelas menginginkan hal ini sejak lama, mendapatkan tempat yang layak untuk mereka, makanan yang cukup air yang melimpah dan juga tempat tinggal yang nyaman, jauh berbeda dari yang ada di dalam benak gue tentang kehidupan mereka dulu yang bisa dikatakan menyedihkan. Mungkin itulah tujuan mereka melakukan pemberontakan dan berusaha memasuki tempat kekuasaan negara lain, tujuannya hanya untuk mendapatkan hak mereka dan juga terus bertahan hidup. Tapi yang jadi pertanyaan gue hingga sekarang, kenapa raja orge bisa berevolusi menjadi demon orge dan mengamuk seolah hilang kendali. Gue berpikir jika semua itu ada sangkut pautnya dengan pria bertopeng yang mengawasi peperangan kemarin. Gue yakin itu, hanya saja yang menjadi masalah sekarang, siapa sosok itu, kenapa dia seolah menikmati peperangan yang terjadi di sana. Sial, memikirkan hal itu malah membuat kepala gue pening, entah apa yang akan gue hadapi nanti, tapi yang jelas gue akan mencari tahu siapa sosok itu, karena secara nggak langsung gue masih curiga akan peran yang dimainkan oleh pria sialan itu. "Di mana Dino?" Tanya gue pelan sembari tetap memperhatikan para orge di sana "Tuan Dino tengah pergi, sejak pagi tadi beliau sudah buru-buru untuk pergi." Seperti biasa, gue yakin Dino pasti penasaran dengan tempat ini dan menjelajah untuk memuaskan hasrat dalam dirinya yang haus akan kekuatannya. "Lalu Aldos?" "Kalau Aldos membantu para orge untuk berburu dan mendapatkan bibit serta tumbuhan seperti yang tuan perintah malam tadi." Gue memang memberikan perintah untuk Aldos agar bisa mendapatkan benih yang bisa ditanam untuk perkembangan desa ini. Karena gue merasa semakin banyak warga yang ada di sini, maka akan semakin banyak kebutuhan yang mereka butuhkan. Dan untuk mencegah kekacauan, gue sengaja mengembangkan sistem pertanian yang ada di dunia sebelumnya. Agar mereka tidak akan kesulitan lagi soal makanan, dan tentang bagaimana mereka memanfaatkan lahan yang subur ini. Jika mereka bisa berkembang dan memanfaatkan apa yang ada, maka gue nggak ada ragu lagi ketika akan meninggalkan mereka. "Huh! Gue bosan!" Berdiam diri selama beberapa hari bukan membuat gue senang, justru sebaliknya, gue malah merasa benar-benar bosan, terlebih ketika melihat Dino dan membiarkannya bersenang-senang seorang diri. Sial. Gue menoleh, menatap Silvana yang berdiri di belakang tubuh gue. "Apa tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk bersenang-senang sekaligus melatih kekuatan?" "Apa tuan ingin berlatih?" "Pengennya sih gitu, tapi gue butuh tempat yang memiliki banyak monster untuk melatih kekuatan dalam diri. Kalo berlatih seorang diri gue ogah." "Maaf tuan, jika tuan berkenan, saya bisa menunjukkan satu tempat yang mungkin cocok untuk tempat berlatih tuan." "Beneran?" Silvana mengangguk pelan dan gue tersenyum setelahnya. "Saya adalah seorang penunggu tempat ini, tentu saja saya sangat paham dengan seluk beluk tempat ini. Jangan remehkan saya tuan." "Baiklah, bawa gue ketempat itu, karena gue udah nggak sabar untuk melakukannya. Bersenang-senang dan mengembangkan skill dalam diri!" Karena berdiam diri nggak bisa membuat gue kuat, apalagi setelah mendapat banyak skill baru yang belum pernah gue coba sekaligus. Mana tau diantara banyak skill itu ada satu saja yang berguna untuk gue gunakan dsn menjadi skill andalan kan. Silvana membawa gue ke sebelah barat daya kota, di sebuah hutan yang terlibat sepi tanpa ada aura kehidupan di sana, awalnya gue aneh sama keadaan ini, hingga Silvana mengatakan jika tempat ini memang tidak ada makhluk hidup yang ingin tinggal. Karena di tempat ini terisi oleh tumbuhan beracun dan segala hal yang bisa membuat hewan ataupun burung mati keracunan. "Di hutan ini hanya ada monster kuat yang bertahan dan monster beracun, karena lingkungan tidak mendukung untuk makhluk hidup lain." "Terus kenapa Lo bawa gue kesini?" Bukankah aneh jika di tempat ini tidak ada makhluk hidup yang bisa gue jadikan sebagai objek uji coba. Lalu apa gunanya gue di sini? Bukankah sudah gue katakan tadi kalau gue ingi melatih kekuatan, lalu kenapa Silvana membawa gue ke tempat yang tidak ada penghuninya seperti ini. "Karena di tempat ini terdapat sebuah tempat tersembunyi yang memiliki monster kuat, tempat yang hanya bisa ditinggali oleh mereka yang bergantung lada tumbuhan beracun." "Makhluk yang bergantung pada tumbuhan beracun? Memangnya ada hak seperti itu." "Tentu saja ada, tapi mereka terkesan buas dan tidak segan untuk membunuh siapapun yang mencoba masuk ke wilayah kekuasaan mereka." "Lalu?" Silvana menoleh kearah gue, menatap gue sebentar sebelum dia menghentikan langkahnya. "Bukankah tuan ingin mencari tempat yang bisa berlatih?" Dan gue ngerti sekarang maksud dari Silvana yang mengajak gue kemari, tentu saja untuk melawan mereka dan mengembangkan bakat yang ada di dalam diri. Keren nggak sih, bakat dalam diri. Gue malah berpikir kalo apa yang gue miliki sekarang adalah sebuah kecurangan, tentu saja kan, gue terlahir udah memiliki kekuatan yang sangat besar dan beberapa skill yang bisa berkembang dengan sendirinya tiap kali gue melahap energi baru. Tapi nggak papa lah, anggap aja ini keuntungan yang gue miliki di dunia ini, dunia yang keras dengan berjuta kesedihan dan keserakahan yang membelenggu dunia ini. Gue nggak tau gimana kondisi dunia ini tapi gue yakin, ada beberapa orang yang mengendalikan keadaan hingga membuat orang tertekan dalam satu hal. Di mana orang yang lebih kuat akan berkuasa dan orang lemah akan tertindas, sudah hukum alam. Dan mungkin gue mendapat kelebihan ini karena dunia ini emang nggak seramah itu, sama halnya dengan dunia gue sebelumnya, jadi nggak papa lah, anggap aja keberuntungan dan berkat yang gue dapat atas semua penderitaan gue di tempo lalu. --- Gue dan Silvana tiba di sebuah tempat yang memiliki aura gelap dan juga energi negatif yang begitu mencekam. Dan ini adalah kali pertama gue merasa merinding di dunia ini, karena selama ini gue biasa aja dengan hal-hal yang terasa negatif, bahkan saat menghadapi demon orge saja gue masih bersikap wajar, tapi di sini. Semua terasa aneh, seolah aura itu benar-benar menekan gue dan membuat bulu kuduk gue merinding seketika. Aneh memang, tapi inilah yang terjadi. Sebentar saja gue mengedarkan pandangan, menatap sekeliling daerah ini untuk memastikan seuatu. Lalu gue menyadari jika gue sudah masuk ke dalam wilayah monster yang ganas. Silvana berhenti di depan gue, membuat gue menghentikan langkah, lalu mendongak dan menatap Silvana yang merentangkan tangan kanannya memberi isyarat untuk gue berhenti. "Kenapa?" Tanya gue sedikit heran. "Mulai dari sini lebih hati-hati, karena terlalu banyak jebakan dan kita sudah mulai diawasi." Seketika gue mengedarkan pandangan lagi, mulai menggunakan skill untuk mengetahui di mana keberadaan sosok yang dimaksud oleh Silvana. Sistem : tiga orang dengan energi sihir kuat sedang mengawasi kita. Tatapan dan tekanan terdeteksi, kemungkinan mereka adalah yeti yang menguasai tempat ini. Gue menelan ludah kasar, karena apa yang gue lihat dengan mata kepala gue adalah monster berukuran besar dengan energi yang benar-benar kuat di sana. "Apa bisa mengukur level mereka?" Sistem : memperhitungkan level dan keterampilan. Gue terdiam sembari menunggu sistem memberi informasi yang gue perlukan, karena dari apa yang gue lihat mereka kuat dengan energi sihir yang benar-benar membuat gue ngiler. Energi sihir yang mereka miliki jika bisa gue lahap maka otomatisasi kekuatan dalam diri gue akan berkembang sangat pesat. Seperti yang gue lakukan pada demon orge. Sistem : perhitungan selesai, Yeti gurun memiliki energi sihir di atas rata-rata dari Yeti pada umumnya, keadaan lingkungan juga membuat mereka berkembang dengan pesat dan mendapatkan skill langka. Kemungkinan Yeti memiliki level di atas lima puluh dengan energi sihir yang melimpah, bisa diperkirakan setara dengan demon orge atau bahkan lebih kuat lagi. Seketika gue menelan ludah kasar, ini nggak bener kan? Sekuat orge, jadi otomatis gue harus bekerja keras dan bertarung sekeras saat gue melawan demon orge. Gila sih, pantas saja gue langsung merinding ketika memasuki daerah ini. "Tuan...." Gue sadar dari lamunan, lalu menatap Silvana yang berdiri dan menatap nyalang di hadapannya. Baru gue sadari ketika di depan sana ada dua Yeti yang menghadang gue. Manusia berbulu coklat dengan tinggi dua kali lipat dari gue tengah memperhatikan dengan mata nyalang. "Kita kedatangan tamu." Kedatangan tamu? Nih cewek somplak nggak sadar apa gimana kalau kitalah tamu yang datang ke tempat ini. "Sepertinya kita harus menghadapi mereka dan tiga yang lain di belakang." Kata gue sedikit merasa gugup, satu Yeti saja sepadan dengan satu demon orge, di depan kami ada lima Yeti yang siap menyerang kami dengan semaunya. "Tuan tenang saja, cukup lihat dan biarkan saya yang menghadapi mereka semua." Ucap Silvana denhan nada ringan yang membuat gue mengerut dalam. Dia nggak bercanda kan? Sekelas demon orge ingin dihadapi sendiri? Nggak masuk akal sih ini mah. "Ta-" "Tuan tenang saja, saya ingin menunjukkan kemampuan saya." Oke, kalau dia memang memiliki percaya diri cukup tinggi, maka biarkan dia mengatasi semua masalah ini seorang diri, karena dia yang meminta jadi gue nggak perlu ikut campur kan? "Baik, kalo itu yang Lo mau, maka silahkan saja." Silvana berdiri dengan sangat tenang lalu mengambil sikap dan melangkah beberapa langkah kedepan. Gue nggak yakin sama kepercayaan dirinya. Tapi, gue hampir lupa akan sesuatu. "Usahakan tidak menghancurkan tubuh dan organ dalamnya. Gue membutuhkan mereka untuk suatu hal!" Silvana mengangguk meninggalkan gue yang masih berdiri di tempat ini. "Menyingkir lah dari jalan kami, karena tujuan kami bukanlah kalian!" Teriak Silvana dengan nyalang di sana "Goarr! Kau pikir siapa dirimu berani memerintah kami!" Balas satu Yeti yang berdiri di barisan paling depan. "Aku tidak akan membiarkan kalian melangkah lebih jauh lagi, pergi dari tempat ini atau akan ku hancurkan kalian!" "Heeh! Kau pikir siapa kau berani berbicara seperti itu kepadaku?" Ucap Silvana. Gue yang melihat interaksi mereka hanya bisa terdiam. Lalu dalam diam gue berpikir, bukankah tujuan gue datang ketempat ini untuk berlatih dan memperkuat kemampuan gue, tapi kenapa malah Silvana yang menghadapi mereka? Dan siapa lima Yeti ini sebenarnya. "Kau!" Erang Yeti itu dengan kasar, lalu dengan cepat dia berlari dsn menerjang tubuh Silvana, tapi dengan kemampuan yang dimiliki oleh Silvana, dia bisa menghindari serangan itu dengan sangat mudah. Gue masih nggak habis pikir sama apa yang dilakukan sama itu cewek, tapi dari apa yang gue lihat kemampuannya benar-benar bisa berguna. Jadi, mari kita lihat akan sampai kapan Silvana bertahan dengan setiap serangan dari para Yeti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN