"Silahkan masuk Pak Lingga," Boy--sekretaris eyang Saminta menunduk hormat, beramah tamah pada sang cucu bosnnya yang sebentar lagi akan menjadi bos di tempatnya kerja. Setelah merasakan ada angin bercampur wangi parfum melewati dirinya, Boy mengangkat kepala dan langsung berjalan di belakang sang cucu bos.
Hentakan demi hentakan kaki terdengar, seolah menciptakan bunyi horor bagaikan dalam sebuah film thriller. Kabar beredar kalau calon bos baru mereka ini adalah seorang yang otoriter, perpecksionis, juga tidak menyukai kesalahan sedikit saja. Jadi untuk mencegah kesan buruk di hari pertama bertemu, semua karyawan yang mendapat jatah berdiri menyambut langsung menunduk hormat.
"Boy, apa ada catatan buruk karyawan di sini?" Lingga bertanya tanpa menoleh pada si empunya, tatapan Lingga beredar menatap semua karyawan yang kini menunduk tidak berani menatap ke arahnya secara langsung.
Lingga memang arrogant, ia tahu akan hal itu. Banyak orang sudah mengatakannya, tapi ia tidak peduli selagi hidupnya senang. Tatapan Lingga berhenti tepat di depan seseorang, kemudian salah satu sudut bibirnya tertarik begitu banyak rencana terlintas dipikirannya.
"Sejauh ini tidak ada Pak Lingga," Boy menjawab dengan tetap berjalan tenang di belakang Lingga.
Genta tidak tahu takdir apa yang saat ini menimpanya, kenapa harus laki-laki ini yang menjadi cucu pemilik perusahaan tempatnya bekerja sekarang? Bukan Genta takut, tidak sama sekali, hanya saja ia marah kenapa Esty harus menemukan laki-laki yang memiliki lebih segalanya dari dirinya.
Tak kalah kesal dari Genta, Sinta pun memiliki perasaan marah. Ia tidak suka karena Esty ternyata benar-benar memiliki pengganti Genta yang lebih segala-galanya, tapi melihat Esty yang ternyata tidak ikut datang ke perusahaan membuatnya berpikir sesuatu. Jelas tadi Sinta tahu Esty yang berdiri di sisi jalan karena menunggu jemputan seseorang, setelah datang ternyata itu adalah bos barunya di kantor. Namun, kenapa sekarang Esty tidak ikut ke kantor?
Aneh
Sinta merasa ada sesuatu yang terasa janggal. Diam-diam Sinta menyeringai, pemikirannya mengatakan kalau Esty dan laki-laki yang ternyata adalah bosnya ini pasti hanya bersandiwara sebagai pasangan suami istri.
Sinta sangat mengenal Esty, dia bukan perempuan yang mudah jatuh cinta. Bahkan dulu butuh dua tahun bagi Genta menunjukkan rasa cintanya pada Esty agar dilirik oleh mantan sahabatnya itu, setelah itu barulah Esty mulai menerima dan satu tahun kemudian mereka menikah.
Jadi bila sekarang hanya dalam waktu 4 bulan Esty malah sudah mendapatkan lagi laki-laki yang menjadi pengganti Genta, rasanya itu sangat mustahil. Bila mereka berdua tidak sedang bersandiwara, berarti Esty mengancam atau membayar laki-laki bernama Lingga ini agar mau menjadi suami pura-puranya.
Tidak peduli bagaimana cara Esty mengancam atau membayar laki-laki yang bahkan Sinta yakin memiliki kekayaan tidak akan habis tujuh turunan ini, tapi yang jelas Sinta lebih tidak percaya kalau Esty mampu menghapus nama Genta secepat ini.
Hati gelisah dan cemburu Sinta pada Esty perlahan mereda, raut tegangnya mengendor seiring pemikirannya yang terobati. Ya, pasti seperti itu, Sinta yakin se yakin-yakinnya kalau Esty masih sangat mencintai Genta.
"Kenapa kamu tersenyum sendiri seperti itu?"
"Hah?" Sinta menjawab bingung, lalu setelah kesadarannya pulih ia mengerjap pelan begitu melihat Lingga sudah berdiri di depannya dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Sinta menelan ludah, aura yang di keluarkan Lingga sangat mendominasi hingga membuat udara sekitar terasa membekukan.
"Senyuman kamu mengerikan, seperti punya tujuan aneh tersendiri." Cibir Lingga sambil berlalu.
"I-itu--,"
Belum sempat Sinta menjelaskan apapun, Lingga sudah mengabaikannya kembali dan melanjutkan langkah kakinya. Sinta yang melihat Lingga sudah berlalu langsung merutuk pelan, sebab kesan dirinya di mata Lingga pasti sudah tercoreng.
Perlahan Genta mengangkat sedikit kepalanya saat langkah kaki itu berhenti tepat di depannya, tanpa ada rasa takut sama sekali Genta saat balas menatap Lingga. Bohong kalau Genta tidak merasa tekanan udara di sekitarnya membeku, tapi sekuat yang ia bisa tidak ikut terpengaruh. Lingga mungkin adalah bosnya sekarang, tapi itu hanya berlaku di kantor saja. Selebihnya bila di luar, ia dan Lingga sama-sama setara.
Jadi apa yang harus ditakutkan?
"Apa jabatan dia?" Lingga bertanya dengan menatap balik Genta, tatapannya setajam elang. Lingga harus nengacungkan jempol atas keberanian seorang Gentala Abadi, sebab kini di matanya tidak terdapat sorot takut sedikitpun tidak seperti karyawan yang lain.
Hebat, tapi tak cukup hebat untuk menentang dan mengalahkannya.
"Manajer, Pak Lingga." Boy menjawab dengan nada yang bangga.
Lingga sedikit menoleh sinis ke arah Boy saat mendengar nada bicaranya terdengar bersemangat, jelas ia tidak menyukai nada itu. Setelah menatap Genta sekali lagi, Lingga kembali melanjutkan langkahnya. Ia masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan, meninggalkan para karyawan yang serempak menghembuskan nafas lega tatkala pintu lift tertutup.
"Gilaaaa, pak Lingga memang sesuai rumor yang beredar." Salah seorang karyawan perempuan menjerit tertahan sambil menatap lift yang sudah tertutup dengan pandangan memuja, seolah apa yang saat ini ia lihat adalah wajah tampan Lingga1
tampan, mempesona, semakin killer semakin menggoda. Akh, aku rasa, aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Si Dilon mau kamu ke manakan?" Temannya yang berdiri di samping perempuan itu mencibir dengan bibir monyong, geli melihat temannya yang memiliki mata sangat murahan. "Lihat yang bening, langsung lupa daratan."
"Dilon itu pacar dunia nyata, tapi pak Lingga dunia halu. Sirik amat kamu," perempuan itu manyun kesal karena kencan ala bayangannya langsung buyar tatkala diingatkan tentang nama kekasihnya. Temannya ini memang hebat dalam merusak khayalannya, membuat mood dia anjlok seketika.
Semua orang perlahan kembali ke tempat kerjanya masinh-masing, kecuali dua orang perempuan itu dan Sinta. Sinta memang memilih tidak dulu kembali ke tempat kerjanya, ia ingin terlebih dahulu mencari informasi pada dua biang gosip di kantornya ini.
"Fika, memangnya pak Lingga itu belum menikah?" Sinta bertanya dengan mimik penasaran, ingin tahu status dari bosnya. Kalau memang belum menikah, maka fix si Esty hanya ngibul telah menikah dengan orang se hebat Lingga.
Fika--perempuan yang menjerit tadi menoleh ke arah Sinta, tatapannya penuh semangat. "Aku gak pernah dengar cucu eyang Saminta menikah, sudah dipastikan pak Lingga masih single."
Mendengar jawaban Fika senyum miring langsung hadir di bibir Sinta, sudah ia duga Esty pasti berbohong saat di jalan tadi. Selain Esty yang termasuk orang susah jatuh cinta, Lingga juga pastinya tidak akan mau pada perempuan bekas orang lain seperti Esty.
"Kamu udah ada pak Genta, ngapain nanya-nanya lagi tentang pak Lingga? Jangan serakah lah, biarkan pak Lingga untuk kita ini yang belum kebagian cowok tampan di kantor." teman Fika menatap Sinta manyun, kesal karena Sinta ini masih saja jelalatan pada laki-laki walau sudah memiliki laki-laki tampan dan super dikagumi di kantor ini.
Mendengar nada tidak senang perempuan di sampingnya, Sinta mendengkus sinis. "Aku cuma ingin tahu saja ya, bukan mau mencoba mendekati pak Lingga. Mas Genta tentu saja lebih dari cukup, memangnya aku ini perempuan apa yang setiap ada cowok langsung dicari tahu buat dideketin."
Selesai dengan perkataannya Sinta langsung membalik badan, menghentakan kaki ke lantai hingga terdengar bunyi tap tap tap dari beradunya lantai dan sepatu di saat ia melangkah.
"Gak sadar diri dia," cemoh Fika dengan mata juling.
"Iya, dia mendapatkan pak Genta juga hasil merebut dari istrinya." Perempuan si sampingnya menimpali sama sinisnya.
Memang bukan rahasia lagi kalau semua karyawan tahu perihal Sinta yang merebut Genta dari istrinya, sebab mereka jelas tahu kalau Genta sangat mencintai sang istri terbukti dari semua barang hingga poto profil ponselnya selalu saja nama dan poto Esty. Namun, memang benar, sampai sekarang tidak ada yang tahu bagaimana rupa istri Genta itu. Jadi begitu tahu Sinta dan Genta dekat kesimpulan orang-orang adalah di mana Sinta merebut Genta dari sang istri langsung menyebar.
Saat Sinta baru akan masuk ke dalam lift, satu tangannya ada yang menarik dari samping. Sinta tidak terburu menjerit, sebab orang yang menariknya langsung membekap mulutnya dan membawa naik ke tangga darurat.
"Emmm--,"
"Sinta, ini Mas."
Sinta langsung berhenti berontak begitu mendengar suara familliar yang berbisik di samping telinganya, lalu menoleh dan menghembuskan napas lega. "Mas Genta, aku kira siapa."
"Maaf, apa Mas bikin kamu terkejut?" Genta bertanya dengan nada bersalah, tatapan matanya menunduk menatap kandungan Sinta. "Bayi kita tidak terkejut bukan?"
"Enggak kok Mas, dia baik-baik saja. Hanya saja kenapa Mas Genta sampai nembawaku ke sini secara diam-diam, memangnya Mas Genta takut ketahuan sama siapa?" Sinta bertanya heran, sebab selama ini bila Genta mau mengajaknya bicara tidak akan peduli di mana tempatnya.
Genta menatap Sinta serius, berharap apa yang akan ia katakan sekarang dapat dimengerti oleh Sinta. "Bukan takut sih, tapi lebih tepatnya menghindari orang-orang. Para karyawan sudah sering menggosipkan kita yang tidak-tidak, aku ingin segera mengakhiri ini."
"Ma-maksud Mas Genta apa?" Sinta tersenyum kaku, perasaannya mulai tidak enak. Ia ingin menghindari pembicaraan ini, tapi bingung bagaimana cara ia lari dari Genta.
Genta berdecak kesal karena lagi-lagi Sinta terlihat ingin menghindari pembicaraan ini, tapi kali ini tidak akan ia biarkan kabur lagi. "Tidak perlu pura-pura Sinta, Mas tahu kamu mengerti. Sekarang memang tidak ada orang yang tahu perihal kehamilan kamu, tapi sebentar lagi perut kamu membesar. Sebelum semua orang tahu dengan sendirinya, ayo kita menikah."
Sebelumnya Genta memang sudah sering bertanya tentang kapan kesiapan Sinta untuk menikah dengannya, tapi perempuan yang mengaku hamil anaknya ini selalu mengundur-undur. Genta hanya tidak ingin kalau nanti anak yang ada dalam kandungan Sinta mendapat cemoh karena lahir di luar pernikahan.
Sinta menggigit daging pipi bagian dalamnya, menatap Genta resah. Dari awal bukannya ia tidak ingin menikah dengan Genta, tapi rupanya setelah mendengar kalau menikah dengan Genta itu sama artinya dengan dirinya yang haris ke luar dari pekerjaannya sekarang hal itu memberatkannya.
Bukan hanya masalah ke luar dari pekerjaan saja, melainkan juga ternyata ibunya Genta ini tidak bisa ke mana-mana dan hanya dapat terbaring di atas kasur. Saat Sinta menanyakan tentang apa di rumah Genta memakai babysitter untuk menjaga sang ibu, Genta malah mengatakan seterusnya yang akan merawat ibu Genta adalah dirinya bila jadi menikah dengan Genta.
Hellow, Sinta jelas tidak mau menjadi perawat dadakan orang sakit. Iyuh, menjijikan, apa lagi nanti saat membersihkan pupnya.
"Sinta, jawab! Kapan kamu siap kita menikah? Sudah beberapa perawat yang mengundurkan diri lantaran tidak sanggup mengurus ibu, setidaknya kalau kita menikah aku akan tenang bekerja karena ada yang menjaga ibu di rumah yaitu kamu." Genta kembali berkata, sebab bukannya menjawab pertanyaannya Sinta malah diam membeku.
"I-itu,"
***