Perasaan Dewa mendadak hangat mendengar kata-kata Yadi. Dia langsung berdiri dan kontan pamit ke pejabat pemerintahan yang sedang dia ajak bicara. “Oh, begitu, silakan, Pak Dewa. Nggak apa-apa. Saya mengerti.” Ucapan petinggi itu cukup menenangkan perasaan Dewa. Dewa melangkah cepat menuju pintu luar dan Yadi mengikutinya dari belakang. “Halo, Sander.” “Hei, Dewa. Astaga, apa-apaan kamu. Reyna hamil besar malah kamu diamkan, dia sedang berjuang sekarang. Jangan begitulah, kamu menyesal nanti dan nggak bisa memaafkan diri kamu sendiri.” “Iya, iya. Sander. Aku … aku ke sana,” ujar Dewa gugup. Lalu terdengar suara decak sebal Sander, dan dia langsung mengakhiri panggilan. Dewa sudah duduk di dalam mobil, dia langsung memeriksa ponselnya, ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal yang

