“Kayaknya mau hujan,” gumam Anne. Pagi terakhir di Bangkok suasananya tak secerah kemarin. Tak hujan, namun udara terasa lembap, dan langit tampak padat oleh awan. Matahari tak bersinar terlalu terik—lebih seperti enggan melepas cahayanya. Anne curiga, kota ini akan diguyur hujan lagi dalam beberapa jam ke depan. Ia berdiri di balkon kamar, mengenakan piyama berwarna krem, rambutnya masih setengah kering usai mandi subuh tadi. Di bawah sana, jalanan sudah mulai ramai—mobil berseliweran, pedagang kaki lima menata dagangan, dan suara mesin motor serta klakson bersahut-sahutan. Ben datang menghampiri dari belakang, masih mengenakan kaos tanpa lengan dan celana santai. Ia memeluk Anne dari belakang, dagunya bertengger di pundaknya. “Ada yang menarik?” “Mmm... biasa aja sih. Kayak mandangin

