“Aduh, ngapain sih dia?” gumam Sharell sambil terus melangkah cepat menuju taxi yang masih setia menunggunya. Dalam jarak beberapa meter terlihat jelas Verrel berdiri di depan gerbang rumah itu. Ah, tidak peduli. Yang penting bagi Sharell sekarang dia harus cepat lari masuk ke taxi sebelum gangguan Rio semakin menjadi. Sharell berlagak cuek saja. Tidak menoleh pada Verrel yang jelas sedang memperhatikan ke arahnya. Melewatinya begitu saja seperti orang tidak kenal. “Sharell, tunggu,” Rio masih terus berlari dan hampir tiba menyusul Sharell yang sudah di depan pintu taxi. Mata Verrel semakin menajam. Rahangnya mengeras menahan gejolak kesal yang sudah nyaris meledak. Sejak di pelabuhan, entah kenapa seperti ada naluri dalam benak Verrel yang membisikkan kalau Rio ini harus diwaspadai. I

