Suasana di supermarket di pusat kota cukup ramai. Tapi tidak sampai berdesakan atau harus mengantre sepeerti saat weekend atau sedang ada diskon. Sharell berjalan sendirian. Troley belanja yang ia dorong sudah hampir terisi penuh. Si gadis manja ini memang sering ikut kalau mamanya berbelanja bulanan bersama para bibi. Jadi meskipun apa-apa terbiasa dilayani, untuk urusan isi dapur dan kebutuhan sehari-hari ia cukup tahu dan ternyata cukup mahir juga untuk urusan berbelanja. Pikiran tak karuan yang menghantui selepas panggilan teleponnya berakhir dengan kalimat papanya yang membuatnya tercengang berusaha ia singkirkan dulu. Ya, sebetulnya Sharell kaget bukan main. Bukan suara papanya yang membuat dia kaget. Tapi isi kalimatnya. Dia pikir papa akan marah dan mati-matian mencarinya. Ini mal

