Café itu masih dalam keadaan terkunci. Kemudian seperti biasa, bibi datang. Membuka kunci menuju dapur untuk mengecek stok bahan makanan yang masih tersedia sekaligus mencatat apa saja yang sekiranya habis dan perlu dibeli. Biasanya setelah itu bibi tinggal menunggu karyawan café datang. Memantau pekerjaan si karyawan café ini bersih-bersih sambil memastikan semua beres lalu baru ia tinggal pulang. Sedang fokus mencatat persediaan bahan apa saja di dapur yang habis, suara dering ponsel bibi yang ia letakkan di meja membuatnya berhenti sejenak. “Aduh, nyonya pagi-pagi sudah telepon. pasti mau tanya sudah ada yang melamar jadi pelayan atau belum. Bagaimana ini ya? Harus dijawab apa?” Bibi bimbang setelah melihat nama yang muncul di ponselnya. Tidak dijawab, tidak mungkin. dijawab, takut di

