Bab 2 Kecelakaan

1051 Kata
Aisyah mengambil ponsel Syafiq yang kebetulan berada di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Aisyah sempat melihat ke layar bahwa ibu mertualah yang membuat panggilan jauh-jauh malam. "Mas, ibu telepon," ucap Aisyah sembari memberi ponsel itu kepada Syafiq. Syafiq menerima panggilan itu sambil kembali duduk di bibir ranjang. Tangan Syafiq mulai nakal lagi menyentuh paha mulus milik istrinya. ["Pokoknya ada hal penting yang ibu ingin sampaikan, kamu harus ke sini sekarang!"] ucap Ratma ibu Syafiq dengan tegas meminta untuk datang ke rumah ibunya padahal saat ini sudah jam 10 malam. ["Baiklah baiklah, Syafiq menuju sekarang,"] jawab Syafiq pasrah harus mengikuti kemauan ibunya. Syafiq mematikan ponselnya lalu menoleh ke arah Aisyah yang memasang wajah bingung. "Maaf Sayang, mas izin ke rumah Ibu sedikit nanti mas tetap akan pulang," ucap Syafiq kepada Aisyah. "Loh inikan sudah hampir tengah malam mas, pergi besok saja lebih baik," ujar Aisyah merasa berat jikalau Syafiq keluar pada waktu jauh-jauh malam. "Ibu ingin berbicara sesuatu dan maunya malam ini. Jadi mas harus pergi, kamu jangan khawatir mas akan pulang. Mas janji tidak akan lama," ucap Syafiq sambil tangannya masih mengusap paha Aisyah. "Hmm kalau kemalaman kamu tidur di rumah Ibu saja, besok pagi baru pulang," sahut Aisyah sambil menepis perlahan tangan Syafiq dari pahanya karena dia sudah mulai bergha**ah lagi. "Mas tidak bisa tidur tanpa memeluk kamu Sayang. Mas tetap akan pulang," ucap Syafiq menegaskan katanya. "Baiklah, kalau begitu sekarang Mas bersiaplah biar bisa pergi cepat dan pulang cepat," tutur Aisyah dengan lembut. ..... "Kenalkan ini Julia Syahputra, anak seorang pengusaha di perusahaan kertas," Ratma mengenalkan Syafiq pada Julia. "Ya selamat berkenalan," ucap Syafiq canggung sambil menerima uluran tangan Julia. "Maaf menganggu mas malam-malam, kebetulan tadi aku mampir ke rumah Ibu Ratma karena Ibu sempat membantuku memilih pakaian yang cocok sewaktu di mall kemarin," terang Julia pada Syafiq sambil tersenyum malu. Syafiq merasa begitu aneh dia melihat penampilan Julia yang begitu elegan. Pikirnya mungkin Julia dari kalangan orang kaya. Syafiq berdiri lalu pamit untuk berbicara sedikit bersama sang Ibu. Syafiq membawa ibunya masuk ke dalam dapur. "Apa maksud ibu sebenarnya?" tanya Syafiq dengan wajah mulai tidak bersahabat. "Ya benar, seperti yang kamu pikirkan. Ibu mau mengenalkanmu calon istri pilihan ibu untuk kamu," jawab Ratma jujur. "Ibu pasti sudah tidak waras, Syafiq sudah menikah Bu!" ucap Syafiq dengan menekan ucapannya. "Apa gunanya menikah jika hanya beban dan tidak bisa beri keturunan. Kalau pun bisa beri keturunan pasti kamu hidup susah nanti karena dia orang miskin," sindir Ratma. "Sudah cukup! Aku pamit!" ketus Syafiq lalu keluar dari ruangan dapur dan langsung saja menuju ke pintu utama tanpa memperdulikan ibunya dan Julia yang sedang menatapnya. 'Ck aku akan pastikan kamu tinggalkan wanita itu!' batin Ratma. Ratma mendekati Julia dengan senyuman yang mengembang dibibirnya. "Maaf anak tante harus pulang karena istri tidak becusnya itu meneleponnya tadi," ucap Ratma. Julia sedikit kaget mendengar ucapan Ratma. Jiwa penasarannya tentang istri Syafiq mulai menyeruak. "Istri tidak becus? Kalau boleh tahu kenapa istri mas Syafiq tidak becus? Padahal aku lihat sepertinya mas Syafiq begitu mencintai istrinya hingga harus terburu-buru tanpa pamit," ucap Julia. "Syafiq diancam tidak dapat jatah kalau tidak pulang cepat, kasihan tante sama anak tante harus jadi b***k istrinya itu," terang Ratma berkelit agar Julia semakin tertarik. "Bukan seharusnya jatah itu wajib diberikan oleh istri jika suami memintanya? Kok bisa ya istrinya seperti itu," sahut Julia lagi. "Hmm kamu akan tahu ceritanya suatu saat nanti Ju, tante cuma berharap kamu bisa menyelamatkan anak tante dari wanita itu," ucap Ratma pura-pura sendu. "Maksud tante menyelamatkan seperti apa?" tanya Julia lagi sepertinya dia sudah bisa menebak jalan pikiran Ratma. "Menjadi istri anak tante," jawab Ratma yakin dan mantab. Bibir Julia tersenyum karena tebakannya benar, dia juga sebenarnya sudah mulai tertarik pada Syafiq. Apalagi wajah tampan Syafiq dengan garis-garis wajah yang tegas bisa menarik hati wanita manapun. .... Entah kenapa Aisyah merasakan tidak enak hati, dia sudah coba menelepon ponsel Syafiq tetapi tidak dijawab padahal berdering. Syafiq tidak biasa seperti ini karena setiap kali Aisyah meneleponnya pasti dengan cepat dia akan mengangkatnya walaupun sedang dalam rapat sekali pun. "Mas kamu baik-baik saja kan," ucap Aisyah lirih dengan wajah yang cemas. Sekali lagi Aisyah coba membuat panggilan ke nomor suaminya dan kali ini dijawab. ["Helo mas kamu di mana?"] ucap Aisyah terburu-buru. ["Helo maaf, pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan. Sekarang sedang menunggu mobil ambulans dari rumah sakit terdekat. Kalau boleh tahu ini istri korban ya?"] terang seorang pria yang tidak dikenal menjawab panggilan telepon pada ponsel milik Syafiq. Aisyah terkaku mendengar ucapan pria itu, dia kembali melihat ke layar karena dia yakin dia salah menelepon nomor tetapi sangat disayangkan karena memang nomor yang Aisyah telepon adalah nomor sang suami. Tubuh Aisyah gementar dan kakinya mulai melemas, dia terduduk di atas lantai. Terdengar suara-suara dari ponsel miliknya membuat Aisyah kembali sadar lalu mulai berbicara. ["Maaf Pak benar saya istrinya, kalau boleh tahu rumah sakit yang mana?"] sahut Aisyah dengan isak tangisan yang telah pecah. ["Sebentar ya mbak kalau sudah datang ambulansnya nanti kita infokan,"] ucap pria itu. Aisyah mematikan panggilannya dan bersiap untuk menunggu kabar, Air mata tidak berhenti sejak mendengar ucapan pria tadi. Aisyah hanya berharap kecelakaan tadi tidak terlalu serius. Aisyah juga coba menepis semua pikiran buruk. Tidak lupa juga Aisyah mengirimkan pesan kepada ibu mertuanya untuk memberitahu apa yang terjadi kepada Syafiq. Walaupun dia yakin ibu mertuanya tidak akan balas, sekurang-kurangnya dia sudah memberi kabar kepada ibu mertuanya. Setelah mendapat pesan dari pria tadi menggunakan ponsel milik suaminya. Aisyah bergegas mengenderai mobil miliknya lalu menuju ke alamat yang mengikut pesan tadi. Perjalanan memakan 30 menit dari rumahnya menuju ke rumah sakit di mana suaminya berada. Aisyah memaksa dirinya walaupun saat ini tubuhnya merasa gementar hebat. Tibalah di rumah sakit RIJAYA, Aisyah memarkir mobilnya dengan cepat lalu berlari menuju ke ruang informasi. Setelah memasukkan informasi tentang suaminya barulah Aisyah dibawa menuju ke ruang IGD. Aisyah terpaksa menunggu di luar karena penanganan terhadap suaminya belum selesai. "Ya Tuhan mudah-mudahan mas Syafiq baik-baik saja, semua ini salah aku. Aku egois, coba saja aku memujuk mas Syafiq untuk tidur di rumah ibu malam ini pasti hal ini tidak akan terjadi," ucap Aisyah lirih. Aisyah mondar-mandir di luar ruang IGD tersebut sehingga seorang wanita paruh baya dan seorang anak lelaki muda mendekatinya. "Maaf mbak, mbak keluarga korban kecelakaan motor tadi?" tanya wanita itu dengan wajah yang teduh. Aisyah mengangguk. "Kalian siapa?" Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN