"Saya Lena dan ini anak saya Muhsin, saya dari tadi menunggu keluarga pasien kecelakaan tadi datang. Kedatangan saya mau meminta maaf atas kejadian tersebut, anak saya telah membawa mobil dengan mengebut lalu melanggar keluarga anda," terang wanita paruh baya itu.
Seketika jantung Aisyah serasa berhenti berdetak, dia menatap anak lelaki wanita itu yang tertunduk dan hanya diam saja. Tangannya mengepal karena marah bercampur sedih.
"Maaf tidak akan bisa menganti apa-apa jika suami saya sampai kenapa-kenapa, sekali lagi maaf tante tapi saya harus melaporkan hal ini dan kita selesaikan dengan jalur hukum," tegas Aisyah dengan air mata yang jatuh bercucuran di pipi mulusnya.
"Tolonglah jangan sampai membawa ke jalur hukum, saya dan anak saya siap terima konsekuensi apa pun tetapi jangan ke jalur hukum," rayu Lena dengan sungguh-sungguh.
Aisyah menghela nafasnya lalu kembali duduk di kursi tunggu depan ruang _IGD_ di mana suaminya sedang ditangani. Pikirannya saat ini mendadak kosong begitupun dengan tatapannya.
Lena dan anaknya tidak berani kembali berkata-kata, karena mereka tahu betapa sakitnya yang dirasakan oleh Aisyah karena mereka pernah mengalami hal yang serupa.
Suara yang sedikit menyakitkan telinga mulai terdengar dari arah lorong utama. Aisyah menoleh ke arah suara tadi.
"Syafiq, Syafiq anakku!" teriak Ratma sang ibu mertua.
Setelah melihat keberadaan Aisyah di sana, Ratma mendekat dengan wajah emosi. Tanpa aba-aba dia melayangkan tamparan pada pipi mulus Aisyah hingga terdorong ke samping.
"Semua ini gara-gara kau sialan!" ucap Ratma masih berteriak.
"Ma-maaf mengganggu, tapi ini bukan salah wanita itu. Ini salah anakku," ucap Lena yang sebenarnya kaget dengan wanita paruh baya tiba-tiba datang menampar istri korban.
"Hah? Kau siapa? Atau jangan-jangan ini rencana kalian berdua!" bentak Ratma.
"Maaf ini murni kecelakaan, saya dan anak saya akan bertanggungjawab!" tegas Lena.
Aisyah tidak bisa berkata-kata karena Ratma, Ibu mertuanya memandang sinis ke arahnya. Dia semakin takut setelah Ratma menamparnya tadi walaupun ini bukan pertama kali.
Ratma menilai wanita dan pria muda di hadapannya ini, penampilan mereka begitu bagus terutama wanita itu terlihat elegan.
"1 miliar untuk ganti rugi nyawa anakku!" ucap Ratma dengan begitu mudah.
Serigai tipis muncul pada sudut bibir Lena, lalu mengeluarkan cek dan menulisnya.
"Aku berikan kalian 1,5 miliar. Besok datang ke alamat ini dan uang anda pasti cair dan setelah ini sudah selesai." Lena menyodorkan kertas cek ke hadapan muka Ratma.
Sebelum benar-benar pergi, Lena sempat menoleh ke arah Aisyah yang tertunduk dengan tangan yang meremas bajunya. Lena menghela nafas panjang dan meninggalkan keluarga itu.
'Pasti hidupnya menderita,' gumam Lena.
Ratma mengibar kertas cek di hadapannya, dia memegang erat tangan Julia.
"Nak, besok pergi dengan Ibu ya," ucap Ratma lembut.
Aisyah menoleh ke arah wanita itu, entah kenapa hatinya merasa perih padahal dia tidak mengenali wanita itu. Hanya saja yang membuatnya aneh adalah Ratma memanggil wanita itu dengan panggilan "nak".
"Dah kau! Kau jaga anakku! Kalau sampai kenapa-kenapa, kau tunggu hukumanmu," ucap Ratma dengan nada tinggi lalu meninggalkan Aisyah seorang diri.
Ratma dan Julia telah meninggalkan Aisyah di depan ruang rawat Syafiq. Padahal, dokter belum keluar dari dalam ruangan itu tetapi Ratma telah pergi.
Pikiran Aisyah berkecamuk dengan wanita yang baru saja datang bersama mertuanya. Entah kenapa tidak ada ketenangan saat melihat wajah wanita itu.
"Siapa dia?" ucap Aisyah perlahan.
"Keluarga pasien?" tanya Dokter yang keluar dari ruangan itu tanpa Aisyah sadari.
"Eh, iya saya Dok," jawab Aisyah.
Setelah Dokter menerangkan apa yang terjadi, kaki Aisyah terasa begitu lemas hingga dia terduduk kembali di kursi menunggu.
"Kapan Suami saya bisa sadar Dok?" tanya Aisyah dengan sendu.
"Kami belum bisa berikan jawaban, mudah-mudahan Suami anda kuat dan cepat sadar," jawab Dokter itu.
Jantung Aisyah semakin berdegub kencang, dia tidak bisa hidup tanpa Syafiq sang suami, karena selama ini yang menyara hidup dan membela dirinya cuma suaminya. Hanya Syafiq tempat dia bergantung.
Setelah Dokter pamit dan Syafiq telah dipindahkan ke kamar rawat inap. Aisyah juga ikut berada di sana. Dia menatap wajah Syafiq yang terdapat lebam pada wajahnya dan luka pada bibir Syafiq.
Air mata Aisyah kembali luruh, dia menangis sambil mengenggam tangan Syafiq. Berharap Syafiq akan sadar.
Hari berjalan, hari ini sudah hampir 2 minggu Syafiq tidak sadarkan diri dan jangan ditanya keadaan Aisyah. Tubuh Aisyah mendadak turun karena pikiran dan hinaan yang masih dia dapatkan dari mertua.
Namun, Aisyah masih kuat dan tetap sabar untuk berada di samping Syafiq.
"Mas, besok sudah genap 2 minggu. Apa Mas tidak capek tiduran terus? Kalau Aisyah sih tidak capek tunggu Mas bangun tapi apa Mas tidak kangen dengan Aisyah?" ucap Aisyah dengan air mata tidak pernah berhenti mengalir.
Setiap hari Aisyah akan terus membawa Syafiq berbicara, agar Syafiq bisa kembali siuman. Walaupun sampai hari ini Syafiq belum juga sadarkan diri dari koma.
Bunyi pintu dibuka dengan sedikit kasar. Siapa lagi yang datang kalau bukan ibu mertuanya bersama Julia yang akhir-akhir ini menempel terus dengan Ratma.
"Hei, Istri tidak becus! Kemari kau, kau harus mengetahui sesuatu," ucap Ratma sinis.
Dengan langkah gugup, Aisyah terpaksa mendekati Ratma. Hingga berada berdekatan, Ratma langsung menarik rambut Aisyah ke belakang hingga kepala Aisyah mendongak lalu meringgis kesakitan
"Jangan bising anakku tidur!" ketus Ratma yang masih saja menarik rambut Aisyah.
"Kau lihat wanita ini?" lanjut Ratma lagi.
Aisyah coba mengangguk di celah kesakitan yang dia rasa pada kepalanya. Dia melihat wanita itu tersenyum manis tetapi tatapannya seperti tatapan mengejek.
"Aku mau kenalkan pada kau, ini Julia, calon istri baru Syafiq," ucap Ratma lagi dengan senyuman yang mengembang.
Deg!
Jantung Aisyah tiba-tiba ingin berhenti berdetak karena saking terkejutnya dia. Rasa sakit pada kepalanya seolah dia lupakan. Dia menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tapi Ibu, Mas Syafiq tidak mungkin-" ucapan Aisyah terputus karena Ratma menarik rambutnya semakin kuat.
"Syafiq telah setuju, setelah dia sadar mereka akan menikah. Kau siap-siap angkat kaki dari keluarga ini," ujar Ratma lalu mendorong tubuh Aisyah hingga tersungkur jatuh di atas lantai.
"Ayo nak, kita pulang. Biarkan wanita ini menghabisi sisa waktu yang dia ada bersama calon mantan suaminya," ucap Ratma dengan sindiran.
"Baiklah Ibu, selamat tinggal Aisyah!" sahut Julia dengan sedikit girang.
Setelah Ratma dan Julia keluar barulah Aisyah berusaha duduk. Air matanya mengalir semakin deras dengan kenyataan tentang wanita itu. Pantasan dari awal dia sudah merasa sedikit tidak tenang kala melihat wajah wanita itu.
"Mas, Ibumu tega memisahkan kita," ucap Aisyah lirih dan sesegukan.
Aisyah menangis semau-maunya hingga tanpa sadar dia tertidur di atas lantai dingin itu.