Keesokannya, Aisyah telah bersiap untuk pergi ke kantin rumah sakit. Walaupun dia sedih, tetapi dia harus mengisi perutnya biar dia bisa kuat menjaga Syafiq nanti.
Baru saja hendak melangkah keluar, mertuanya tiba-tiba masuk ke dalam ruang inap itu lagi bersama Julia. Hati Aisyah kembali sedih dan sakit.
"Tahunya menghabisi uang saja, kerja tidak! Sekurang-kurangnya anak orang kaya kalau tidak kerja seperti calon menantu baruku ini," ucap Ratma sinis.
Aisyah hanya tertunduk. Memang benar apa yang dikatakan sang mertua, sejak dulu dia tidak pernah menghasilkan uang sendiri karena dirinya memang asli wanita desa yang dipinang oleh Syafiq.
Tiba-tiba...
"A-aku di-di mana?" ucap Syafiq dengan suara serak.
Mereka semua langsung menoleh ke arah Syafiq. Aisyah yang berada di samping Syafiq baru saja hendak mengambil gelas di samping branker Syafiq langsung di dorong oleh Julia hingga membuat Aisyah jatuh terjerembab ke belakang.
"Mas, minum dulu." Julia membantu Syafiq minum.
"Biar Ibu panggil Dokter," ucap Ratma.
Sebelum keluar Ratma menarik tangan Aisyah agar ikut dengannya. Ratma menghempas kasar tangan Aisyah setelah berada di luar kamar rawat Syafiq.
"Kau ingat Aisyah! Kau tidak pernah datang ke sini dan selama ini Julia yang menjaga Syafiq!" ucap Ratma dengan tatapan tajamnya.
"Tapi Ibu, Aisyah yang menjaga Mas Syafiq bukan wanita itu," protes Aisyah tidak setuju.
"Hei sialan! Kau cermin sedikit diri kau, hanya Julia yang layak berada di sisi Syafiq dan jangan sesekali kau memanggil dia wanita itu, dia itu calon istri Syafiq." Ratma berkata seraya menjambak rambut Aisyah.
"Sekarang pergi panggil Dokter, aku tunggu di sini, cepat!" Lanjut Ratma dan lagi-lagi melepaskan kasar tangannya yang menarik rambut Aisyah.
Hendak protes lagi tetapi Aisyah sudah semakin tidak berdaya karena kekerasan yang Ibu mertuanya lakukan. Aisyah berlari terpincang-pincang untuk memanggil Dokter.
Sakit pada tubuh Aisyah seperti tidak menjadi masalah pada dirinya karena yang terpenting saat ini ada kondisi sang Suami.
Aisyah kembali bersama Dokter dan perawat tetapi Ratma mengusir Aisyah dan melarangnya untuk bertemu dengan Syafiq.
Aisyah tidak bisa melawan, dia hanya berdiri di depan pintu kamar rawar sang Suami dengan harapan sang Suami mencari dirinya. Samar-samar terdengar perbicaraan antara Syafiq dan Dokter.
"Aku di mana?" tanya Syafiq setelah merasa kesadarannya telah pulih.
"Kamu di rumah sakit Mas," jawab Julia dengan tersenyum penuh makna.
"Kamu siapa? Kenapa kalian menatap cemas ke arah ku? Aku kenapa?" Syafiq melontarkan pertanyaan beruntun.
Kini Dokter mengambil alih setelah memeriksa kondisi Syafiq yang terlihat baik-baik saja kecuali pada satu bagian.
"Maaf, kalau boleh saya tahu siapa nama anda?" tanya sang Dokter.
Syafiq mengernyitkan dahinya, kenapa pertanyaan Dokter seperti itu padahal dia saja bari sadar dia berada di rumah sakit. Hingga Syafiq coba menjawab tetapi dia merasa aneh dia tidak mengingat namanya sendiri.
"Aku ... nama ku, siapa ya?" jawab Syafiq kembali bertanya.
Dokter menghelakan nafas panjang ternyata benar dugaannya bahwa Syafiq mengalami amnesia disosiatif.
"Nak apa kamu lupa siapa nama kamu?" tanya Ratma dengan wajah berpura-pura cemas.
"Anda siapa?" Pertanyaan itu kembali keluar dari mulut Syafiq.
Ratma menutupkan mulutnya dan membuat raut wajah yang benar-benar terlihat seperti kaget dan sedih sedangkan, dalam hatinya dia mulai bersorak sorai.
'Baguslah kalau Syafiq lupa itu juga berarti dia melupakan istri sialannya itu dan aku akan membuat Aisyah menderita lalu membuat Syafiq menceraikannya dan menikahi Julia. Wah, aku akan jadi kaya tidak lama lagi,' batin Ratma berbicara dengan gembiranya.
Sedangkan dari luar, Aisyah telah meneteskan air matanya. Samar-samar dia mendengar ucapan Syafiq yang tidak mengetahui siapa dirinya. Ingin sekali Aisyah menerobos masuk tetapi mengingat sang Ibu mertua masih di dalam Aisyah menjadi tidak berani.
Beberapa menit kemudian keluarlah Dokter dan perawat dari dalam kamar rawat Syafiq. Aisyah mengejar Dokter tersebut untuk menanyakan kondisi Syafiq dan Dokter itu langsung saja menjelaskan kepada Aisyah tentang apa yang di alami oleh Syafiq.
Seluruh tubuh Aisyah gementar dan air matanya mengalir semakin deras membasahi seluruh wajahnya. Aisyah menggelengkan kepalanya, dia yakin semua ini hanya mimpi sehingga berkali-kali dia mencubit lengan dan menampar wajahnya sendiri.
Dokter merasa iba dan coba menghentikan Aisyah. Kemudian dia membawa Aisyah duduk dan berbicara lebih detail lagi.
"Sebenarnya pasien bisa sembuh kalau kamu ada insiatif untuk mengingatkan kembali memorinya yang hilang. Mungkin kamu ada foto atau rekaman video saat-saat kamu meluangkan waktu bersamanya, nah itu bisa kamu gunakan untuk kesembuhan pasien." Dokter memberi saran pada Aisyah sambil mencatat beberapa hal untuk membantu Aisyah memulihkan ingatan Syafiq.
Dokter ini bukan hanya karena merasa kasihan saja tetapi dia sudah melihat dan mendengar sendiri bagaimana sang Ibu mertua Aisyah melakukan Aisyah seperti apa.
"Lakukan hal ini, maka pasien akan kembali mengingat semuanya." Dokter memberikan catatan yang dia tulis tadi.
Aisyah yang masih sesegukan, menerima dengan tangan yang gementar.
"Terima kasih Dok," ucap Aisyah lirih.
"Berterima kasihlah di saat pasien sudah benar-benar sembuh," jawab Dokter itu. "Kalau begitu saya pamit," lanjut Dokter itu lagi.
Aisyah menganggukan kepalanya. Kepalanya terasa sangat pusing memikirkan semua yang berlaku secara tiba-tiba ini. Ingin sekali dia bertanya pada takdir, kenapa takdir dirinya sekejam ini.
Aisyah menyimpan kertas catatan tadi ke dalam tasnya dan kembali mendekati pintu. Baru saja hendak menolak pintu tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah wajah Julia yang sinis.
"Kenapa masih di sini? Bukankah tante Ratma sudah menyuruhmu pergi?" tanya Julia dengan ketus.
"Bukan urusanmu, aku ingin melihat suamiku," jawab Aisyah tidak kalah dinginnya.
Baru saja hendak melewati Julia, tetapi Julia sudah lebih dulu mendorong Aisyah dengan kuat hingga Aisyah tersungkur jatuh di atas lantai.
"Pergi atau aku panggilkan satpam." Julia memijak rambut Aisyah sambil mengancamnya.
"Sakit." Aisyah meringis karena rambutnya yang dipijak membuat kepalanya terasa sakit.
"Tahu sakit? Sekarang pergi sebelum aku membuatnu semakin sakit." Julia mengancam Aisyah lalu sempat menendang perut Aisyah sebelum berlalu.
Sekarang tubuh Aisyah terasa seperti remuk karena sakit, rupanya wanita yang ingin menjadi istri Syafiq juga tidak kalah jahatnya dengan sang Ibu mertua.
Aisyah bangun dan mencoba untuk duduk sejenak sebelum dia melangkah pergi meninggalkan rumah sakit itu. Walaupun berat Aisyah terpaksa pergi daripada tubuhnya semakin terasa sakit karena perbuatan Ibu mertua dan Julia calon madunya.
"Maafkan Aisyah Mas, Aisyah akan datang lagi besok menjenguk Mas. Hari ini Aisyah pulang dulu, tubuh Aisyah semakin rasa ngilu. Aisyah berharap Mas tetap mengingat Aisyah," ucap Aisyah lirih sebelum meninggalkan rumah sakit itu.
Bersambung...