Tangisan Nirvana memecah keheningan pagi di kediaman mewah Shaka.
Tangisannya melengking panjang, seolah bayi mungil itu sedang menolak dunia. Hera menggendong cucunya dengan langkah tergesa, telapak tangannya menepuk punggung Nirvana dengan gerakan perlahan, ritmis, seperti yang biasa ia lakukan.
“Cup, cup, cup ... diam, ya, Sayang. Ada nenek di sini,” ucapnya lirih berulang kali, nada suaranya terdengar lembut, tapi jelas diliputi kepanikan.
Namun, Nirvana tak kunjung tenang. Wajahnya memerah, tubuhnya melengkung seolah merasakan tak nyaman. Tangisnya justru semakin kencang.
Shaka muncul dari arah tangga lantai atas dengan wajah tegang. Begitu melihat kondisi putrinya yang histeris, langkahnya segera dipercepat.
“Kenapa dengan Nirvana, Ma?” tanyanya panik, “Gak biasanya dia histeris seperti ini.”
Hera menggeleng pelan. “Mama gak tahu. Sejak subuh dia rewel. Mama sudah coba segalanya untuk menenangkan, tapi dia tetap rewel."
Shaka langsung mengambil alih Nirvana dari pelukan ibunya. Seperti berharap keajaiban, ia menimang, mengusap pipi mungil itu, serta mengecup keningnya untuk menenangkan. Namun, tangisan Nirvana tak kunjung mereda justru semakin menjadi.
“Bi Murni!” panggil Shaka dengan nada tinggi.
Wanita paruh baya itu segera datang dengan langkah tergopoh-gopoh. “Iya, Tuan.”
“Panggil Elvira. Bilang Nirvana rewel," kata Shaka tanpa mengalihkan pandangan.
Bi Murni terdiam dengan raut berubah ragu. Pandangannya beralih pada Hera seolah meminta persetujuan, kemudian kembali menunduk saat mendapati tatapan tajam majikannya.
Shaka segera mengalihkan perhatian saat melihat Bi Murni tetap bergeming di tempatnya.
Detik itu juga, dia menangkap sebuah keganjilan. “Kenapa?”
Sebelum Bi Murni sempat menjawab, Hera segera menyambar ucapan putranya, "Wanita itu sudah mama pecat. Dia sudah tidak dibutuhkan lagi di rumah ini."
Kedua mata Shaka sontak melotot sempurna. Detik itu juga, amarah menyelimuti diri. Jantungnya berpacu cepat beradu dengan tangis kencang Nirvana.
"Apa maksud mama melakukan itu? Vira masih aku butuhkan, Ma!" teriaknya dengan mata memerah.
Teriakan itu langsung disambut dengan tangis Nirvana yang seolah ikut merasakan ketegangan di ruangan itu.
Shaka memilih meredam amarah yang masih membara di hatinya, memilih menenangkan sang putri.
"Bi, ambil stok ASI di freezer. Lihat tanggalnya! Pilih tanggal yang penyimpanan paling lama," titah Shaka dengan suara beratnya pada Bi Murni.
Nafasnya memburu, gestur tubuh terlihat jelas bahwa ia berusaha keras menahan amarahnya sendiri.
Bi Murni mengangguk, lekas menuruti keinginan tuannya tanpa mengucap banyak kata.
Tak lama berselang, Bi Murni kembali dengan sebotol s**u hangat di tangan dan langsung memberikannya pada Shaka.
Shaka segera menerima botol s**u tersebut, lalu memberikannya pada Nirvana. Meski awalnya sempat menolak, tetapi akhirnya Nirvana menerima dot itu saat sudah merasakan isinya.
Tangis Nirvana berangsur reda, berganti dengan suara gumaman pelan. Mata mungil bayi itu perlahan terpejam dengan bibir masih menyesap kuat ujung dot miliknya.
Setelah tangis Nirvana tenang, Shaka bergegas meninggalkan ruang tengah menuju kamar bayinya seraya melayangkan tatapan tajam pada ibunya.
Hera hanya bisa terpaku melihat kepergian putranya. Tangannya tampak mengepal menekan kuat kekesalan dalam dirinya.
***
Suasana hati Shaka benar-benar memburuk pagi itu. Pikirannya kacau, tidak hanya karena bayinya yang rewel, tetapi juga karena kecewa atas keputusan sepihak sang ibu yang memecat Elvira tanpa sepengetahuannya.
Ia memutuskan untuk tidak ke kantor karena tahu, ia hanya akan uring-uringan dan melampiaskan kekesalan pada para bawahannya. Ia memilih meminta Susan untuk datang ke rumah membawakan berkas penting yang harus ia kerjakan.
Shaka mulai tenggelam pada berkas yang ada di depannya. Sesekali matanya melirik sang putri yang masih terlelap di dalam boksnya untuk memastikan apakah Nirvana terbangun atau tidak. Ia hanya takut Nirvana kembali histeris seperti tadi.
Ketenangan menyelimuti kamar bayi itu, Susan dalam diam mendampingi atasannya untuk sekedar memberikan berkas yang akan diteliti, dan memisahkan berkas yang sudah diteliti.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama saat suara langkah sepatu terdengar dari arah pintu. Hera melangkah memasuki kamar bersama dua wanita muda yang mengikutinya.
Kedatangan sang ibu berhasil mengalihkan perhatian Shaka, menatapnya dengan kening berkerut. “Ma, apa-apaan ini? Siapa mereka?”
“Mereka semua wanita pilihan mama untuk menjadi ibu s**u Nirvana,” jawab Hera mantap, tanpa sorot keraguan.
Kedua wanita itu berdiri canggung di hadapan Shaka yang menatap mereka dengan tajam, sementara Hera berdiri di samping mereka seperti seorang perekrut selebritas. Tatapannya menilai dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menakar kelayakan mereka untuk menjadi bagian dari hidup cucunya.
Shaka masih menatap dua wanita itu, lalu kembali menoleh pada ibunya. “Ma, mama gak bisa bikin keputusan sepihak begini. Aku ayahnya Nirvana. Aku yang paling berhak menentukan yang terbaik buat anakku.”
“Kamu pikir mama gak peduli?” sahut Hera dengan suara sedikit meninggi sebelum akhirnya kembali diturunkan. “Mama juga mau yang terbaik untuk cucu mama.”
Wanita paruh baya itu menghela napas panjang berusaha meredam amarah yang mulai bersarang dalam d**a. Ini bukan saatnya untuk marah, ia segera meminta kedua wanita itu untuk memperkenalkan diri.
“Kamu… perkenalkan dirimu di depan putraku,” titah Hera pada wanita berjilbab dengan wajah lembut.
“Saya Amira. Ibu s**u dari klinik bersalin Bina Sehat,” kata wanita itu dengan gugup.
“Kamu?” Hera beralih ke wanita kedua yang mengenakan dress lengan panjang dan menggenggam tas kecil.
“Saya Lina, Bu. Alumni keperawatan. Baru melahirkan dua bulan lalu. ASI saya masih aktif.”
Hera mengangguk pelan. “Ingat! Tugas kalian hanya untuk menyusui cucu saya. Saya gak mau yang aneh-aneh, apalagi sampai mencoba menggoda putra saya. Dan yang paling penting—harus diterima Nirvana. Kalau dia menangis atau menolak, berarti kalian gak cocok.”
Kedua wanita itu mengangguk cepat dengan kegugupan tergambar jelas di wajahnya.
Susan yang sejak tadi berdiri di dekat sang atasan hanya bisa mengamati dengan alis bertaut. Sebab masih belum memahami situasi.
“Bu Hera, bukannya sudah ada Elvira yang jadi ibu s**u Nirvana?” tanya Susan hati-hati.
Hera sontak menoleh tajam. “Elvira sudah gak diperlukan lagi. Saya punya kandidat yang lebih pantas untuk jadi pengasuh cucuku.”
Susan terdiam dengan bibir terkatup rapat. Detik itu juga, ia paham. Ini bukan soal Nirvana atau pun Elvira, tapi ini soal ego tinggi ibu atasannya.
Tak lama berselang terdengar rengekan kecil dari boks bayi yang menandakan jika Nirvana telah bangun dan meminta untuk disusui.
Atas isyarat Shaka, Susan segera mengangkat bayi mungil dari boksnya sebelum tangisnya semakin menjadi.
Sebelum tangisnya kembali pecah, Nirvana segera diserahkan pada Amira untuk disusui.
Amira telah memilih tempat ternyaman untuk menyusui. Namun, begitu tubuh Nirvana didekatkan ke d**a wanita itu, tubuh mungil bayi langsung meronta. Tangisannya melengking dengan tubuh menegang. Berulang kali, ia menolak p****g yang disodorkan ke bibir mungil itu.
“Cup, cup, cup, Sayang … ini nenennya,” kata Amira penuh kelembutan, tapi kepanikan tergambar jelas di wajahnya.
“Sudah-sudah cucuku gak mau sama kamu. Coba yang lain,” ujar Hera cepat dengan nada panik, seolah merasa terganggu dengan tangisan kencang cucunya.
Wanita kedua mencoba. Hasilnya justru lebih buruk. Nirvana menjerit seolah tahu dirinya sedang dipaksa menerima sesuatu yang asing.
“Dia cuma belum terbiasa,” gumam Hera keras kepala sambil menatap cucunya yang masih histeris.
Shaka yang sudah tidak tahan akhirnya berdiri, kemudian mengambil alih Nirvana dan menimangnya ke dalam pelukan.
“Ma, cukup! Nirvana bukan alat pembuktian gengsi. Dia masih bayi!” bentaknya pada sang ibu.
Suara teriakan itu beradu dengan tangisan Nirvana yang semakin kencang. Shaka segera menyambar sisa ASI milik Elvira yang ada pada botol yang berada di dekatnya, lalu disodorkan ke mulut mungil Nirvana.
Bayi mungil itu segera menghisap rakus ujung dot itu seolah takut ada yang meminta miliknya.
“Mama lihat sendiri, kan?” ujar Shaka geram. “Dia cuma mau ASI Elvira.”
“Bukan masalah ASI-nya, Ka” sangkal Hera cepat. “Dia cuma perlu waktu.”
“Waktu? Sampai kapan, Ma? Sampai anakku stres dan tidak mendapatkan asupan nutrisinya?” balas Shaka tajam.
Hera terdiam kaku dengan bibir terkatup rapat. Ia ingin menyangkal, tapi kenyataan menampar keras dirinya.
Nirvana kembali menjerit saat ASI di dalam botolnya telah habis. Sepertinya bayi itu masih belum puas menghisap sumber nutrisinya, yang berhasil membuat Shaka panik.
“San, hangatkan ASI di freezer, Sekarang! Cepat!"
Tanpa mengucap banyak kata, Susan bergegas keluar ruangan memenuhi perintah sang atasan. Hera hanya bisa berdiri terpaku melihat sang cucu yang histeris, sementara dua wanita yang bersama Hera memutuskan untuk pamit saat sadar kehadiran mereka tidak lagi dibutuhkan.