Achiera menatap kedua benda yang disodorkan tepat di hadapannya. Mata wanita itu tidak berkedip. Dia bahkan terlalu takut untuk sekadar menghela napas. Perlahan, dia menenangkan diri, lalu menoleh pada wajah Keenan yang dihiasi senyuman manis. Pemandangan yang sungguh sulit untuk dimengerti. Jantung wanita berambut panjang nyaris meledak. Dia mundur beberapa langkah sampai membentur tembok. Pria di depannya masih setia menyodorkan bunga dan kotak berisi kalung. Kedua tangannya mengepal erat sekali sampai dia bisa merasakan buku jarinya yang menancap di telapak tangan. Adakah yang bisa menghentikan Keenan sekarang? “Saya rasa itulah ekspresi yang kamu katakan,” ujar Keenan. Mata Achiera mengedip saat mendengar perkataan Keenan. Dia mengerutkan kening dan mencoba memahami apa yang baru s

