“Nek, ini masih pagi sekali untuk berkunjung,” protes Keenan yang masih mengenakan piama. Dia merapikan rambutnya yang berantakan. Mata pria itu masih setengah terbuka. “Ini urusan mendesak, jadi harus segera diselesaikan. Minggir.” Marwa mendorong tubuh Keenan dan masuk ke dalam apartemen sang cucu. Dia langsung duduk di sofa tanpa memedulikan tatapan Keenan. Senyumnya mengembang saat melihat Keenan menghela napas. Siapa yang peduli? Dia sudah biasa melihat Keenan kesal untuk segala sesuatu yang tidak sesuai kehendaknya. “Jadi, apa hal mendesak yang Nenek katakan itu?” tanya Keenan setelah duduk di depan Marwa. Dia bersandar malas di badan sofa. Masih belum ada jam enam pagi saat Keenan mendengar bunyi bel apartemen berbunyi. Kalau saja bukan Marwa yang berdiri di depan pintu, dia pas

