Bab 17: Sembunyi itu Indah

1191 Kata

“Baiklah. Rapat kali ini sampai di sini. Saya berterima kasih untuk kerja keras semua divisi. Semoga pekerjaan selanutnya bisa lebih baik,” pungkas Keenan. “Baik, Pak.” Semua orang menjawab dengan serentak. Setelah memandangi semua ketua divisi yang ada di ruangan itu, Keenan berdiri dan keluar dengan langkah tegas seperti biasa. Dia sempat menoleh sebentar pada Achiera yang kebetulan juga tengah menatap ke arahnya. Hanya sekejap karena Achiera buru-buru berpaling. Kalau sampai ketahuan, wanita itu yang akan diserang duluan. Berjumpa dengan Keenan usai makan malam bersama membuat Achiera semakin berdebar. Setiap kali memandangi wajah Keenan, dia tidak bisa mengontrol perasaan. Bahkan selama rapat berlangsung, dia tidak bisa berkonsentrasi. Untungnya, dia tetap lancar saat menyampaikan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN